Oleh Zulkarnaini Diran

Manusia diciptakan hanyalah untuk beribadaah kepada Allah. Begitu juga halnya jin. Penegasan ini termaktub di dalam Al-Quran, “Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat [51]: 56). Untuk dapat beribadah secara utuh, sempurna, dan memenuhi kaidah fikih, ada lima pilar utama dalam ibadah. Kelima pilar itu adalah iman, ilmu, amal, Ikhlas, dan akhlak. Tulisan ini berbicara tentang yang keempat, yakni Ikhlas.
Secara bahasa, kata ikhlas berasal dari bahasa Arab (الإخلاص – al-ikhlas), yang akar katanya adalah khalasha (خَلَصَ). Kata ini memiliki beberapa arti dasar, antara lain bersih, jernih, dan murni atau sesuatu yang tidak tercampur atau ternodai oleh unsur-unsur lain. Sedangkan menurut istilah syariat Islam, ikhlas adalah meniatkan segala bentuk amal ibadah dan ketaatan semata-mata karena Allah SWT, dengan mengharap ridha-Nya, serta membersihkan niat dari segala keinginan untuk mencari pujian, perhatian, sanjungan, atau keuntungan duniawi dari manusia (terbebas dari riya’ dan sum’ah).
Setiap hamba melakukan ibadah, hendaklah dilandasi dengan Ikhlas karena Allah. Betapapun banyaknya amal, betapa besarpun bobotnya, amal akan tertolak, tidak diterima Allah kalau tidak dilandasi dengan Ikhlas karena Allah. Jika amal diwarnai oleh unsur-unsur lain yang bukan karena Allah, amal itu akan ditlak, bahkan akan dibalas dengan humuman neraka. Berikut ini ada tiga golongan yang pertama-tama dihisab amalnya di hari akhir kelak. Ketiga golongan itu adalah orang mati syahid, ulama dan ahli Quran, dan orang kaya yang berinfaq.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
- Orang yang Mati Syahid
“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya (di dunia) dan ia pun mengenalinya. Allah bertanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta! Engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang yang pemberani (gagah), dan ucapan itu telah disematkan kepadamu.’ Kemudian diperintahkanlah (malaikat) untuk menyeretnya atas mukanya (terjerembab), lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”
- Ulama & Ahli Al-Qur’an:
“Dan orang berikutnya adalah seseorang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengenalinya. Allah bertanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta! Engkau mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai seorang alim (berilmu), dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari (pembaca Al-Qur’an yang baik), dan ucapan itu telah disematkan kepadamu.’ Kemudian diperintahkanlah (malaikat) untuk menyeretnya atas mukanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”
3.Orang Kaya yang Berinfaq:
“Dan orang berikutnya adalah seseorang yang dilapangkan rezekinya oleh Allah dan diberi-Nya berbagai macam harta benda. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengenalinya. Allah bertanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat-nltk itu?’ Ia menjawab: ‘Aku tidak pernah meninggalkan suatu jalan pun yang Engkau suka agar infaq disalurkan padanya, melainkan aku pasti berinfaq di jalan itu semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta! Engkau berbuat yang demikian itu agar dikatakan sebagai seorang dermawan (murah hati), dan ucapan itu telah disematkan kepadamu.’ Kemudian diperintahkanlah (malaikat) untuk menyeretnya atas mukanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”
Hadis ini diriwayatkan (Shahabi) olehAbu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Oleh imam pengumpul hadis (mukharrij) hadis ini marfu’ (disandarkan kepada nabi) dan berstatus sahiah, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahiah Muslim dalam dalam Shahih Muslim (Kitab Al-Imarah, Bab: Man qatala lil-riya’i was-sum’ah / Nomor 1905), serta diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad bin Hanbal dalam kitab-kitab musnad dan sunan mereka dengan jalur periwayatan yang sahih. Dengan demikian hadis ini dipercaya sebagai pedoman untuk berbuat ikhlas dalam melaksanakan ibadah sehari-hari.
Keikhlasan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja tanpa perjuangan. Ia adalah buah dari proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang memerlukan mujahadah (kesungguhan) berkelanjutan. Hati manusia sangatlah mudah berbolak-balik, sehingga godaan tersembunyi seperti riya’ (ingin dipuji) dan sum’ah (ingin didengar) kerap menyusup ke dalam amal kebaikan yang kita lakukan. Oleh karena itu, para ulama salaf sering mengingatkan bahwa amal yang paling sulit dijaga adalah amal yang tersembunyi dari pandangan manusia. Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa hakikat ikhlas adalah seorang hamba yang meniatkan seluruh gerak-gerik, diam, lahir, dan batinnya semata-mata untuk mencari wajah Allah SWT, tanpa terbersit sedikit pun keinginan untuk mencari kedudukan atau penilaian dari makhluk.
Al-Qur’an secara tegas mengaitkan diterimanya amal shalih dengan kemurnian niat semata karena Allah, sebagaimana firman-Nya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS Al-Bayyinah [98]: 5) Ayat ini mengisyaratkan bahwa agama Islam tidak menilai seberapa besar fisik amal yang dikerjakan, melainkan seberapa murni orientasi tauhid di balik amal tersebut. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengilustrasikan bahwa amal tanpa ikhlas bagaikan jasad tanpa ruh; ia tampak indah di luar, namun hampa dan mati di hadapan Allah SWT, tidak memiliki nilai timbangan di akhirat kelak.
Pentingnya menjaga keikhlasan juga ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barang siapa yang beramal suatu amalan yang ia mempersekutukan-Ku di dalamnya dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” Hadis ini menjadi peringatan keras bagi setiap mukmin agar tidak menduakan niat karena pujian manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika membahas hakikat ibadah, menjelaskan bahwa hati manusia tidak akan pernah merasakan ketenangan, kedamaian, dan kemerdekaan sejati kecuali jika ia hanya menyembah kepada Allah dan ikhlas dalam menggantungkan harapannya hanya kepada-Nya.
Sebagai hamba yang lemah, perjuangan untuk meraih ikhlas menuntut kita untuk selalu mengevaluasi niat sebelum, selama, dan sesudah beramal (muhasabah). Sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan agar seseorang lebih memperhatikan diterimanya suatu amal daripada banyaknya amal itu sendiri, sebab amal tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak dilandasi oleh ketulusan. Ketika seseorang mampu melatih dirinya untuk ikhlas, segala bentuk pujian maupun celaan dari manusia tidak akan menggoyahkan langkahnya dalam berbuat kebaikan, karena tujuannya telah bulat: meraih ridha Sang Pencipta semata.
Berjuang untuk ikhlas adalah sebuah keniscayaan bagi setiap muslim yang mendambakan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebagaimana ditegaskan melalui kisah tiga golongan yang pertama kali diadili di hari kiamat—orang yang mati syahid, ulama/ahli Al-Qur’an, dan orang kaya yang berinfaq—amal besar sekalipun akan menjadi sia-sia dan berbuah azab neraka apabila tercemar oleh niat selain Allah. Oleh karena itu, mari kita terus meluruskan niat, membersihkan hati dari penyakit riya’ dan sum’ah, serta menjadikan iman, ilmu, amal, ikhlas, dan akhlak sebagai landasan utuh dalam menegakkan ketaatan kepada Allah SWT. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk senantiasa ikhlas dalam setiap helaan napas dan amal ibadah kita. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakasih!
Padang, 5 November 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan dikaitkan dengan motivasi serta proses berlatih Ikhlas dalam bermal pada setiap saat.