SALING MENCINTAI

Oleh Zulkarnaini Diran

Oplus_0

Ali bin Abi Thalib r.a. berujar, “Cintailah semua orang, entah dia paham agama atau dia seorang pendosa. Jangan pernah melihat orang lain dengan tatapan yang rendah, karena belum tentu Allah melihatmua sebagai manusia mulia. Bebaskan hatimu dari penyakit iri, dengki, dan benci karena Allah mencintai hamba yang berhati bersih!”  Nasihat ini dapat menjadi iktibar bagi hamba yang sedang menjalani hidup dan kehidupan di duniafana ini. Apatah lagi, dewasa ini melalui berbagai media, kebencian ditumbuhkan, dipupuk, dikembangbiakan sehingga hampir setiap hari kita disuguhi dengan “nada-nada” yang tidak elok itu.

Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. mengajak hamba untuk merenungkan kembali esensi kasih sayang di tengah gelombang kebencian yang marak di ruang publik hari ini. Pesan tersebut tidak sekadar mengajarkan toleransi superfisial, melainkan sebuah revolusi spiritual yang menuntut pembersihan hati dari penyakit batin yang merusak relasi kemanusiaan.

Ali bin Abi Thalib r.a. mengingatkan kita untuk mencintai semua sesama manusia, terlepas dari tingkat pemahaman agama ataupun status moral mereka sebagai pendosa. Pandangan ini berakar dari konsep rahmat universal yang diajarkan dalam Islam, di mana setiap manusia memiliki potensi ilahiah dan martabat asal sebagai ciptaan Allah. Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa umat manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan serta bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling merendahkan.

Larangan untuk melihat orang lain dengan tatapan rendah didasari oleh kesadaran teologis bahwa akhir kehidupan seseorang adalah misteri yang sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta. Banyak riwayat hadis sahih yang menceritakan bagaimana seseorang yang tampak bergelimang dosa di mata manusia, justru meraih ampunan Allah SWT di penghujung usianya karena satu kebaikan yang tulus. Sebaliknya, kesalehan lahiriah seseorang tidak menjamin keselamatan mutlak jika hatinya dipenuhi kesombongan.

Peringatan Ali bin Abi Thalib ra. agar tidak merasa lebih mulia sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarah. Kesombongan sering kali bermula dari merasa diri lebih suci atau lebih paham agama dibanding orang lain. Oleh karena itu, kerendahan hati atau tawaduk adalah perisai pelindung bagi keimanan seorang hamba.

Penyakit hati berupa iri, dengki (hasad), dan benci merupakan racun mematikan bagi kehidupan sosial dan spiritual seseorang. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menguraikan bahwa sifat hasad adalah menentang pembagian takdir Allah dan memakan amal kebaikan bagaikan api memakan kayu bakar. Ketika kebencian dipelihara, hati akan kehilangan ketenangannya dan tertutup dari cahaya hikmah serta kasih sayang Ilahi.

Kondisi dewasa ini semakin memperparah erosi kasih sayang akibat maraknya ujaran kebencian, polarisasi, dan permusuhan yang disebarkan secara masif melalui berbagai platform media. Ruang publik digital sering kali berubah menjadi arena saling menghujat yang mengabaikan etika moral beragama. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia modern sedang mengalami krisis ruhani yang akut. Informasi melimpah tetapi kebijaksanaan semakin surut.

Sebagai penawar dari krisis tersebut, Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk membalas keburukan dengan cara yang lebih baik, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Fussilat ayat 34. Ayat ini menjelaskan bahwa musuh yang sengit pun berpotensi berubah menjadi teman yang setia apabila seseorang merespons kebencian dengan kesabaran, kelapangan dada, dan kebaikan yang tulus.

Para teolog dan ulama salaf senantiasa menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati (qalbun salim) sebagai syarat utama menghadap Allah SWT. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyatakan bahwa kebahagiaan hati, ketenangan jiwa, dan kelapangan dada hanya bisa diraih dengan mencintai apa yang dicintai Allah dan memperlakukan makhluk-Nya dengan penuh belas kasih. Hati yang bersih tidak akan menyisakan ruang untuk merusak kehormatan orang lain.

Mencintai sesama manusia bukan berarti menyetujui kemaksiatan atau pelanggaran moral yang mereka lakukan. Membenci perbuatannya sembari tetap menyelamatkan pribadi manusianya dengan dakwah yang penuh hikmah. Prinsip ini mencerminkan sifat kasih sayang Rasulullah saw. yang senantiasa mendoakan hidayah bahkan bagi orang-orang yang menentang dan menyakitinya. Keadilan dan cinta kasih harus berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan prinsip kebenaran.

Iktibar penting yang dapat dipetik dari pesan Ali bin Abi Thalib ra. adalah bahwa kualitas keimanan seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu menebarkan kedamaian dan kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya. Agama tidak diturunkan untuk melahirkan kelompok-kelompok yang saling mengkafirkan atau merendahkan, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

Oleh karena itu, sudah saatnya setiap individu melakukan introspeksi diri secara mendalam untuk menyaring setiap informasi dan menahan diri dari menyebarkan kebencian di ruang publik. Dengan membiasakan diri berprasangka baik, memaafkan kesalahan sesama, dan menumbuhkan empati, kita dapat membangun peradaban yang lebih bermartabat, damai, dan diridai oleh Allah SWT.

Jadi, pesan Ali bin Abi Thalib ra. tentang saling mencintai dan membersihkan hati dari iri, dengki, serta kebencian adalah panduan moral yang sangat relevan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di era modern. Dengan berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an, sunah Nabi, serta kebijaksanaan para ulama, kita diharapkan mampu menjadi agen perdamaian yang merajut kembali tali persaudaraan insaniah di muka bumi ini. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 5 November 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan proses serta hasil berlatih untuk memupuk kasih saya sesame makhluk Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *