PENGKHIANAT AKHLAK

Oleh Zulkarnaini Diran

Rasulullah Muhammad SAW menegaskan bahwa mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Satu dari sekian banyak indikator kesempurnaan iman hamba adalah akhlak yang baik. Oleh karena itu, seyogyanya hamba memelihara, merwat, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memelihara dan merawat akhlak yang telah dimiliki memerlukan proses terus-menerus. Akhlak hamba akan  digerogoti dari dalam oleh perilaku tidak terpuji. Di antara perilaku tidak terpuji yang menjadi “pengkhianat akhlak” itu adalah ”mencela, mengeritik, dan membandingkan”.

Ketiga perilaku itu adalah pengkhianat terhadap akhlak yang baik. Menghindari dan berjuang untuk tidak berperilaku seperti perlu dilakukan. Apatah lagi pada era teknologi digital saat ini. Ketiga hal itu sangat mudah dilakukan, bahkan yang belum atau tidak biasa pmelakukan pun akan tergelitikuntuk berbuat akibat ransangan berbagai media seperti media sosial. Menjauhkan diri atau menghentikan perilaku mencela, mengerik, dan membandingkan ini memerlukan proses dan kesadaran mendalam, terutama dalam memahami dan mengamalkan ajaran islam.

Akhlak yang mulia merupakan tolok ukur kesempurnaan iman seorang mukmin. Namun, dalam realitas kehidupan sehari-hari, penjagaan akhlak yang istiqamah sering kali tergerus oleh musuh dalam selimut yang disebut sebagai “pengkhianat akhlak”. Tiga perilaku utama yang dikategorikan sebagai pengkhianat akhlak tersebut adalah mencela, mengeritik secara destruktif, dan membanding-bandingkan. Ketiga sifat tercela ini tidak hanya merusak hubungan horizontal antarmanusia, tetapi juga mengikis esensi keimanan pelakunya di hadapan Sang Khaliq.

Dalam era digital saat ini, potensi terjebak dalam ketiga perilaku tersebut semakin masif dan tanpa batas. Media sosial menyediakan panggung interaktif yang merangsang jari dan lisan untuk mudah melontarkan hujatan, menghakimi, atau membandingkan pencapaian orang lain secara tidak sehat. Fenomena ini menuntut adanya kesadaran spiritual dan pemahaman keagamaan yang mendalam agar seorang hamba tidak tergelincir menjadi agen perusak akhlak. Oleh karena itu, penjabaran komprehensif mengenai konsep dasar ketiga perilaku ini beserta dampaknya mutlak diperlukan guna membentengi diri dari kehancuran moral.

Perilaku pertama yang menjadi pengkhianat akhlak adalah mencela, yang dalam terminologi Islam sering diidentikkan dengan perbuatan lamz, tammaz, atau sab’u. Mencela adalah tindakan menunjuk, menyebutkan, atau mempermalukan aib, kekurangan, maupun keburukan orang lain di hadapan umum maupun secara sembunyi-sembunyi. Tindakan ini lahir dari rasa takabur atau merasa diri lebih baik daripada orang yang dicela, sehingga ia menganggap remeh kehormatan saudaranya sesama mukmin.

Dampak dari perbuatan mencela terhadap pelaku akhlaknya sendiri adalah terkikisnya pahala kebaikan serta tumbuhnya penyakit hati yang kronis, seperti kesombongan dan hilangnya empati. Sementara itu, bagi orang lain atau korban celaan, perbuatan ini mendatangkan luka psikologis yang mendalam, hilangnya rasa percaya diri, hingga memicu dendam sosial yang berujung pada permusuhan berkepanjangan. Islam secara tegas melarang perbuatan ini sebagaimana firman Allah SW, “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela…” (QS Al-Hujurat [49]: 11)

Perilaku kedua yang merusak pilar moral adalah mengeritik dalam konteks negatif atau yang kerap disebut sebagai kritik destruktif. Berbeda dengan kritik konstruktif yang membangun dan dilandasi solusi bijak, kritik destruktif bertujuan untuk menjatuhkan, mencari-cari kesalahan (tajassus), dan menghakimi tanpa dasar yang objektif. Pelaku sering kali berlindung di balik kedok “kebebasan berpendapat” atau “menyuarakan kebenaran”, padahal esensi dari tindakannya adalah menonjolkan ego pribadi dan memuaskan nafsu untuk merendahkan pihak lain.

Bagi pelakunya, kebiasaan mengeritik secara destruktif akan menghancurkan integritas akhlaknya sendiri karena ia membiasakan diri hidup dalam kepalsuan moral dan prasangka buruk (su’uzhan). Bagi orang lain, kritik yang menjatuhkan ini membunuh karakter, memadamkan motivasi berkarya, dan menciptakan iklim sosial yang penuh kecurigaan. Rasulullah SAW mengingatkan bahaya lidah dan sikap suka mencari-cari kesalahan ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, di mana beliau melarang umatnya untuk saling mencari keburukan saudaranya, karena barang siapa yang suka mencari-cari aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun ia berada di dalam rumahnya sendiri.

Perilaku ketiga yang menjadi pengkhianat akhlak adalah membanding-bandingkan, khususnya dalam ranah sosial, pencapaian hidup, fisik, atau materi. Membanding-bandingkan sering kali memicu lahirnya rasa iri hati (hasad), dengki, dan ketidakpuasan permanen terhadap takdir Allah SWT. Ketika seseorang gemar membandingkan hidupnya atau hidup orang lain dengan standar duniawi yang semu, ia sedang merusak ketenangan batinnya sendiri dan menanam benih kesombongan apabila merasa lebih unggul, atau rasa rendah diri yang akut apabila merasa tertinggal.

Dampak destruktif dari kebiasaan membanding-bandingkan terhadap akhlak pelaku adalah hilangnya rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Bagi orang lain yang dijadikan objek perbandingan secara tidak adil, hal ini menimbulkan tekanan mental, rasa terasing, dan keterasingan emosional akibat merasa selalu dinilai di bawah standar orang lain. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa penyakit hati seperti hasad yang berakar dari kebiasaan membandingkan pencapaian duniawi akan memakan amal kebaikan seseorang bagaikan api memakan kayu bakar, sehingga merusak tatanan akhlak secara total.

Dari sudut pandang psikologi modern dan ilmu pendidikan, ketiga perilaku pengkhianat akhlak ini berakar dari rendahnya kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan buruknya regulasi diri. Para pakar psikologi perkembangan menyatakan bahwa individu yang gemar mencela, mengeritik destruktif, dan membandingkan orang lain umumnya memiliki insecurity (rasa tidak aman) yang tinggi di dalam diri mereka sendiri. Mereka menggunakan mekanisme pertahanan diri yang keliru dengan cara merendahkan orang lain demi mendongkrak harga diri semu yang rapuh.

Pakar pendidikan karakter juga menegaskan bahwa lingkungan digital kontemporer memperparah kondisi ini karena minimnya filter empati saat berinteraksi di balik layar gawai. Tanpa adanya intervensi pendidikan moral yang menanamkan empati kognitif dan afektif sejak dini, generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang mahir secara intelektual namun mengalami krisis kemanusiaan yang parah. Oleh karena itu, pemulihan akhlak melalui latihan kesadaran diri (mindfulness) dan penguatan nilai spiritual menjadi sebuah keniscayaan mutlak.

Sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, merawat dan memelihara akhlak menuntut mujahadah (kesungguhan) yang konsisten untuk mengendalikan lisan, tulisan, dan jemari di ruang digital. Setiap kali dorongan untuk mencela, mengeritik secara destruktif, atau membandingkan muncul, seorang hamba yang beriman harus segera mengalihkannya pada instrospeksi diri (muhasabah). Membersihkan hati dari kotoran batin ini adalah bentuk perjuangan tertinggi demi menjaga keutuhan iman dan kemuliaan martabat kemanusiaan.

Jadi, perilaku mencela, mengeritik secara negatif, dan membanding-bandingkan bukanlah sekadar kebiasaan sepele, melainkan “pengkhianat akhlak”. Hal itu secara sistematis meruntuhkan bangunan iman dan moral seorang hamba. Bahaya nyata dari sifat-sifat ini tidak hanya merusak kesucian jiwa pelakunya di hadapan Allah SWT, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi sesama manusia. Dengan berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, kebijaksanaan pendapat ulama, serta temuan psikologi modern, sudah sepatutnya kita berkomitmen penuh untuk menghentikan ketiga perilaku tercela tersebut demi mewujudkan peradaban manusia yang berakhlak mulia, damai, dan bermartabat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 5 November 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman berjuang untuk memelihara dan mempertahankan akhlak yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *