(Catata bersafari 13 Desember 2025 – 8 Januari 2026)
Oleh Zulkarnaini Diran

Bagian Pertama (Pengantar)
Bersafari atau menjelajah adalah perintah Islam. Dianjurkan kepada penganutnya untuk berjalan di muka bumi ini. Perjalanan itu memberikan banyak pembelajaran, iktibar, dan hidayah kepada Muslim. Dari perjalanan itu banyak hal yang dapat didapat, kemudian dipahami, dimaknai, ditafsirkan, dan disimpulkan. Simpulan itulah yang kemudian diharapkan menjadi pembelajaran dan kemudian diamalkan, insyaallah.
Ketika bersafari banyak yang diperoleh. Melalui indra penglihatan akan terlihat banyak hal, melalui indra pendengaran banyak hal yang terdengar, begitu juga dengan penggunaan indra yang lain. Hal yang ditangkap oleh alat indra itu bisa bervariasi. Adakalanya yang masuk ke alat indra itu hal-hal baik dan buruk, hal-hal yang benar dan salah. Baik dan buruk, benar dan salah itu juga mengnadung makna, bernilai manfaat, dan bernuansa pembelajaran. Makna yang ditangkap dan pembelajaran yang diperoleh sifatnya subjektif. Hal itu tergantung kepada respon yang diberikan terhadap hal yang ditangkap oleh indra. Hal yang itu sifatnya netral,
Dalam perspektif Islam, bersafari atau melakukan perjalanan di muka bumi bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah perintah yang berulang kali ditegaskan dalam Al-Qur’an. Kata “Saru fil-ardh” (berjalanlah kalian di muka bumi) adalah seruan untuk melakukan observasi langsung. Allah SWT berfirman dalam, “Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk-Nya)…'”.(QS Al-Ankabut (29:20). Perintah ini memposisikan alam semesta sebagai “laboratorium terbuka” bagi umat manusia untuk mengenali keagungan Sang Pencipta melalui bukti-bukti empiris yang tersebar di daratan dan lautan.
Rasulullah SAW sendiri merupakan seorang musafir ulung, baik untuk berdagang maupun berdakwah. Beliau bersabda, “Sajihu tasihhu” yang artinya: “Lakukanlah perjalanan (safari), niscaya kalian akan sehat dan mendapatkan rezeki” (HR. Ahmad). Dalam Sunnah, safari dipandang sebagai sarana untuk menyehatkan fisik dan mental serta memperluas cakrawala rezeki—baik rezeki materi maupun rezeki ilmu. Perjalanan dianggap mampu mengikis kejenuhan jiwa dan memberikan kesegaran berpikir yang baru bagi seorang mukmin.
Alat indra manusia (mata, telinga, kulit) adalah pintu masuk bagi informasi yang bersifat netral. Secara biologis, saraf sensorik hanya menghantarkan impuls listrik ke otak tanpa label “baik” atau “buruk”. Fenomena yang kita temui di jalan—kemiskinan, keindahan alam, hingga konflik sosial—hanyalah data mentah. Hal ini sejalan dengan teori persepsi dalam psikologi, bahwa sensasi adalah proses fisiologis, sedangkan persepsi adalah proses mental yang memberikan makna pada sensasi tersebut.
Makna sebuah perjalanan tidak terletak pada apa yang dilihat, melainkan pada bagaimana individu meresponsnya. Maknanya sangat subjektif. Dua orang yang mengunjungi tempat yang sama bisa pulang dengan membawa “oleh-oleh” batin yang berbeda. Satu orang mungkin hanya melihat keindahan estetis, sementara yang lain melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa kualitas safari ditentukan oleh kesiapan hati dan kejernihan pikiran si musafir dalam mengolah stimulus yang diterima indranya.
Salah satu tujuan utama bersafari adalah mencari iktibar (pelajaran). Melalui perjalanan, kita melihat puing-puing peradaban masa lalu yang telah punah karena kesombongannya, atau keindahan alam yang terjaga karena kearifan lokal. Al-Qur’an mengungkapkan, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?” (QS Al-Hajj, 22:46) . Ayat ini mengkritik mereka yang melakukan perjalanan fisik namun hatinya tetap tertutup dari pelajaran moral.
Secara teoretis, dalam psikologi modern, bersafari atau traveling memiliki dampak signifikan terhadap neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi). Lingkungan baru merangsang otak untuk membentuk koneksi saraf baru. Paparan terhadap budaya, bahasa, dan pemandangan yang berbeda memaksa otak keluar dari “mode otomatis”, sehingga meningkatkan kreativitas dan fleksibilitas kognitif. Hal inilah yang dalam teks disebut sebagai sarana memperoleh hidayah dan pemahaman yang lebih luas.
Menangkap, memahami, memaknai, menafsirkan, dan menyimpulkan adalah hierarki pemrosesan informasi. Dalam filsafat ilmu, ini adalah transisi dari data menjadi information, kemudian menjadi knowledge, dan puncaknya adalah wisdom (hikmah). Safari yang ideal adalah safari yang mampu mengubah pengamatan visual menjadi kesimpulan spiritual yang memperkuat iman dan memperbaiki akhlak seseorang.
Dalam Islam, perjalanan memiliki adab yang sangat detail. Niat adalah fondasi utama. Safari harus diniatkan untuk tujuan yang baik (thulubul ilmi, silaturahmi, atau tadabbur alam). Rasulullah SAW mengajarkan doa-doa khusus dalam safar agar perjalanan tersebut membawa berkah. Adab ini memastikan bahwa selama bersafari, seorang Muslim tetap terjaga perilakunya terhadap sesama manusia, hewan, dan lingkungan sekitar, sehingga safari tersebut benar-benar menjadi bernuansa pembelajaran yang positif.
Safari juga mencakup dimensi sosiologis. Melalui penjelajahan, kita bertemu dengan manusia dari berbagai latar belakang. Allah SWT menegaskan, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (li-ta’arafu)”.(QS Al-Hujurat, 49:13) Dengan mengenal “yang lain”, kita belajar tentang empati, toleransi, dan memahami posisi kita sebagai bagian dari umat manusia yang universal. Pengalaman sosial ini seringkali menjadi pembelajaran yang paling membekas dalam ingatan seorang musafir.
Pada akhirnya, setiap safari fisik yang kita lakukan sejatinya adalah perjalanan ke dalam diri sendiri. Apa yang kita lihat di luar sana merupakan cermin bagi apa yang ada di dalam hati. Jika hati kita penuh dengan rasa syukur, maka setiap sudut bumi akan terlihat indah dan penuh hikmah. Simpulan dari perjalanan itulah yang diharapkan menjadi pembelajaran. Safari yang sukses adalah safari yang membuat pelakunya menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Sang Khalik. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Demak, Jawa Tengah, 4 Januari 2026