Oleh Zulkarnaini Diran

Ibadah itu proses. Setiap proses bermuara kepada hasil atau capaian. Berbeda ibadah berbeda pula target atau capaiannya. Puasa adalah sebuah proses. Proses itu dilalui bagi yang melaksnakannya. Target atau capai dari proses berpuasa adalah bertakwa. Proses dan capaian atau targetnya bukan dirumuskan oleh manusia, tetapi di tetapkan oleh Allah SWT. Hal itu termaktub di dalam Al-Quran dengan jelas dan tegas. “Wahai orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,….” (QS Al-Baqarah, 2:183)
Ketika proses berpuasa dilakukan oleh seorang hamba, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal itu adalah ”elemen diri” yang terlibat di dalam proses dan “kaidah-kaidah yang harus dipatuhi” di dalam melaksanakan atau menjalani proses itu. Yang dimaksud dengan elemen diri adalah unsur atau komponen yang ada pada diri hamba yang harus terlibat di dalam proses berpuasa. Secara garis besar ada dua kompenen yang ikut serta di dalam proses berpuasa. Kedua komponen itu adalah “lahir dan batin” atau pisik dan non-pisik, atau raga dan jiwa. Komponen lahir atau pisik dapat dicandra dan diraba, komponen batin atau nonpisik hanya dapat dirasa. Jadi ada komponen di dalam diri yang konkret dan ada yang abstrak. Keduanya terlibat tau ikut serta dalam proses berpuasa.
Kaidah yang harus dipatuihi atau ditaati dalam proses meliputi beberapa hal yakni syarat, rukun, hal-hal yang dilarang dan yang membatalkan puasa. Semuanya terhimpun di dalam pedoman berpuasa yakni ”Fikih Ibadah Puasa”. Jika hal itu merupakan panduan, tentu bersifat informatif dan keilmuan. Seorang hamba yang ingin melaksanakan proses ibadah puasa hendaklah mempelajari, memahami, menghayati, dan menerapkan kaidah-kaidah ini di dalam proses. Tentu saja hal itu dimaksudkan agar proses berpuasa berjalan sesuai dengan panduan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Artinya, dengan mengikuti panduan itu proses terlaksana dengan benar dan optimal. Harapan akhrinya adalah capaian atau target yakni bertakwa.
Capaian proses ibadah puasa adalah takwa. Hamba yang mengikuti dan melaksanakan proses dengan benar diharapkan mencapai tingkat taqwa yang paripurna. Untuk mencapai hal itu, selain melakukan proses dengan benar dan optimal, juga diperlukan pemahaman terhadap konsep bertakwa. Pemahaman itu hanya akan muncul jika mempelajari, memahami, menghayati, serta menerapkan nilai-nilai takwa itu dalam kehidupan pasca berpuasa. Untuk itu seorang hamba perlu memiliki pengetahuan dan ilmu tentang taqwa beserta dalil-dalil pendukungnya. Dengan demikian dapat diartikan, jelas jalan yang ditempuh (proses) dan konkret tujuan yang dicapai (takwa).
Banyak ayat di dalam Al-Quran yang mengungkapkan ciri orang bertaqwa. Di antaranya ditegaskan di dalam Surat Ali Imran, “….yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, …” (QS Ali Imran, 3:134). Selain itu juga ditegaskan Allah SWT, ”yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS Albaqarah, 2: 3 dan 4).
Upaya optimal melaksanakan puasa secara syariat (menurut fiqih) hendaklah diiringi dengan puasa secara hakikat (melibatkan batin). Hal penting di dalam proses secara hakikat adalah melaksanakan syariat dengan penuh keihlasan yakni ikhlas melaksanakannya karena Allah SWT semata. Ditegaskan di dalam Al-Quran, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS Al-Bayyinah, 98:5). Ketika proses ibadah puasa dilaksanakan bukan karena Allah, saat itu pula puasa hanyalah sekedar ”menahan haus, lapar, dan syahwat” belaka. Puasa tidak berarti di sisi Allah SWT.
Proses yang benar, baik, optimal, dan dilaksanakan dengan ikhlas tentu akan berbuah hasil yang diharapkan. Hasil yang diharapkan dari proses berpuasa adalah bertakwa. Pada saat ”predikat bertakwa” belum tercapai pasca proses, ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama adalah proses belum memenuhi standar yang ditetapkan Al-Quran dan Sunnah, belum sesuai dengan syariat dan hakikat yang ditetapkan. Kemungkinan kedua adalah Allah SWT belum memperkenankannya karena Dia memberikan sesuatu kepada yang dikehendaki-Nya. Dari dua alternatif itu, dua hal pula yang harus ditempuh. Pertama mengoreksi, menilai, dan mengevaluasi proses yang dilakukan. Kedua, berserah diri atau bertawakal kepada Allah SWT.
Jadi, puasa adalah proses yang harus dilakukan oleh seorang hamba. Proses itu dilaksanakan dengan syariat dan hakikat. Pasca proses, hasil yang diharapkan adalah bertaqwa. Jika hasil itu belum dicapai, tentu perlu introspeksi atas proses. Terkahir berserah diri kepada Allah SWT, karena tugas hamba hanyalah dua yakni “berikhtiar dan berdoa” sedangkan hasil ditentukan oleh Allah SWT, hasil adalah hak otoritas-Nya.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Selamat menyambut ”Bulan Suci Ramadan” dan selamat menjalankan ”proses berpuasa” untuk mencapai tingkat yang paling mulia yakni ”bertakwa”.
Padang, 16 Februari 2026