Oleh Zulkarnaini Diran

“Wahai anakku, dunia ini lautan, iman adalah perahunya, ketaatan adalah pendayungnya, dan akhirat adalah pantainya”, kata Luqman Al-Hakim kepada anaknya (2007:98). Indah sekali kalimat nasihat ini. Analoginya luar biasa dan penuh makna. Luas dan dalam maknanya jika dibawa ke dalam diri untuk direnungkan. Hal ini akan mengundang kesadaran yang mendalam jika kita menghayati setiap kata dalam kalimat itu. Kesadaran itu insyaallah akan meyakinkan bahwa kita haruslah senantiasa mawas diri dalam menapaki kehidupan ini.
Jika dunia dianalogikan sebagai lautan, kesadaran kita akan timbul. Dunia hanyalah media perjalanan menuju suatu tempat yang bernama pantau akhirat. Kita ada di dunia ini hanyalah sekedar mencari “bekal” untuk sampai ke “pantai” akhir yakni akhirat. Untuk menempuh lautan diperlukan perahu, itulah iman. Hidup di dunia hendaklah dengan iman yang kokoh, kuat, dan bertahan. Perahu itu tidak akan bergerak menuju pantai manakalah tidak ada pendayungnya, itulah ketaatan. Ketaatan itulah satu-satunya upaya untuk sampai kepantai “akhirat” dengan selamat.
Lautan adalah tempat yang sangat luas, penuh dengan keindahan permukaan yang berkilau, namun menyimpan bahaya yang luar biasa di kedalamannya. Ada ombak yang besar, badai yang tiba-tiba datang, hingga palung yang bisa menenggelamkan siapa saja. Ketika Luqman Al-Hakim mengumpamakan dunia sebagai lautan, beliau ingin menyadarkan kita bahwa dunia ini penuh dengan ujian, kesenangan yang menipu, dan cobaan yang bisa melalaikan manusia jika tidak waspada. Allah SWT mengintakan tentang hakikat dunia, “…Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Ali Imaran [3]:185
Para ulama, seperti Imam Al-Ghazali, juga sering mengingatkan bahwa dunia ini seperti air laut. Semakin diminum oleh orang yang haus, maka akan semakin haus pula dirinya hingga air itu membunuhnya. Jadi, dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi, melainkan sebuah bentangan luas yang harus kita seberangi dengan hati-hati agar tidak tenggelam dalam arus kelalaian.
Untuk bisa menyeberangi lautan yang dalam dan penuh badai, manusia mutlak membutuhkan sebuah kendaraan yang kokoh. Dengan kenderaan itu tubuhnya tidak langsung menyentuh air dan tenggelam. Kendaraan itu adalah perahu, yang dianalogikan sebagai iman. Tanpa perahu iman, seorang manusia akan langsung terombang-ambing oleh ombak ujian dunia, terseret arus kemaksiatan, dan akhirnya binasa di dasar lautan dosa.
Iman menjadi dinding pembatas antara diri kita dengan keburukan dunia. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai pentingnya memiliki pegangan yang menyelamatkan di tengah kekacauan dunia, seperti dalam hadis riwayat Al-Hakim tentang perumpamaan Ahlul Bait dan ajaran Islam, “Perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian adalah seperti perahu Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka ia akan tenggelam.” (HR. Al-Hakim).
Dalam konteks umum, perahu tersebut adalah keimanan yang utuh kepada Allah. Ulama salaf, Hasan al-Bashri, menyatakan bahwa iman itu bukanlah sekadar angan-angan atau hiasan bibir. Iman adalah sesuatu yang menancap kuat di dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan. Iman yang kokoh membuat perahu kehidupan kita tidak mudah bocor meski dihantam badai sekulerisme, materialisme, atau cobaan hidup lainnya.
Sebuah perahu, secanggih dan sekokoh apa pun jalannya, tidak akan pernah bergerak maju jika tidak ada daya yang menggerakkannya. Ia hanya akan terombang-ambing di tempat yang sama, atau bahkan terbawa arus ke arah yang salah. Di sinilah fungsi ketaatan sebagai pendayung. Ketaatan—yang diwujudkan dalam bentuk salat, zakat, puasa, berbuat baik kepada sesama, dan menjauhi larangan agama—adalah energi yang membuat perahu iman kita bergerak maju mendekati tujuan. Tanpa adanya pendayung ketaatan, iman seseorang menjadi pasif dan tidak membuahkan hasil. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS An-Nahl [16]:97)
Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa ketaatan adalah kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya…” (HR. Bukhari). Para ulama menyimpulkan bahwa jika iman adalah mesin atau perahunya, maka ketaatan adalah bahan bakar dan dayung yang mengarahkan perahu tersebut menembus ombak rintangan.
Setiap perjalanan yang melelahkan pasti membutuhkan titik henti yang damai. Bagi seorang pelaut yang telah berhari-hari dihantam badai di tengah samudra, melihat pantai atau daratan adalah kebahagiaan yang tiada tara. Pantai itulah akhirat, tempat pemberhentian terakhir yang abadi, semua lelah diganti dengan istirahat, dan semua perjuangan mendayung diberi balasan yang setimpal oleh Allah SWT.
Pantai akhirat adalah tempat pembuktian apakah perahu dan dayung kita berfungsi dengan baik selama di lautan dunia. Allah SWT menggambarkan keindahan tempat berlabuh ini, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al-Fajr [89]: 27 – 30)
Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib RA, pernah memberikan petuah yang sangat masyhur mengenai hal ini: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menyambut kita. Masing-masing dari keduanya memiliki anak (pengikut). Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini (di dunia) adalah waktunya beramal tanpa ada perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah waktunya perhitungan (hisab) tanpa ada lagi kesempatan beramal.”
Melalui tulisan ini kita mengangkat kembali mutiara hikmah Luqman Al-Hakim. Kita diajak untuk selalu mawas diri. Kita saat ini sedang berada di atas perahu yang sama, mengarungi lautan yang sama. Jangan sampai kita terlena dengan indahnya air laut hingga lupa mendayung, atau justru merusak perahu kita sendiri dengan kemaksiatan. Tujuan kita jelas, yaitu berlabuh di pantai akhirat dengan selamat, disambut oleh rida Allah SWT. Di sana kita menikmati istirahat, insyaallah, setelah lelah mendayung di dunia. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 22 Mei 2026
Dari berbagai sumber seperti:
Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani, (2007), Al-Fathur Rabbani wal Faidlur Rahmani
Imam al-Ghazali, (2023), Raudha ath Thalibin wa ‘Umdah as-Salikin