Oleh Zulkarnaini Diran

“ Kehidupan ini seperti burung yang mengepak dengan dua sayap. Sayap kiri Bernama sabar dan sayap kanan bernama syukur. Bila kedua sayap itu mengepak seirama dan senada sesuai dengan ketentuan Allah SWT, niscaya hidup dan kehidupan akan sampai ketujuan”, begitu orang bijak berkata. Hal itu sejalan dengan perspektif Islam bahwa impelementasi iman seorang mukmin terlihat pada kesabaran dan kesyukuran yang dimilikinya.
Iman yang kuat akan melahirkan ketaatan melaksanakan perintah Allah dan menajuhi larangannya. Untuk menjadi taat diperlukan kedua resep itu yakni sabar dan syukur. Ketaatan akan hampa dan tidak akan terwujud manakala sabar dan syukur tidak dimiliki. Lagi pula Islam menekankan bahwa orang sabar mendapat pahala tanpa ditimbang, orang bersyukur mendapat limpahan karunia berlipatganda dari Allah SWT. Muara akhirnya, orang sabar sabar dan syukur akan menjadi ahli surga.
Dalam mengarungi samudra kehidupan, seorang manusia tidak akan pernah lepas dari dua kondisi. Kedua kobndisi itu adalah mendapatkan sesuatu yang menyenangkan atau menghadapi sesuatu yang menyulitkan. Di sinilah sabar dan syukur berperan sebagai jangkar sekaligus sayap. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan mengendalikan diri, menahan lisan dari mengeluh, dan menjaga hati agar tetap berprasangka baik kepada Allah saat ujian menerpa.
Sementara itu, syukur adalah pengakuan yang tulus di dalam hati atas segala nikmat Allah. Hal kemudian diekspresikan melalui ucapan alhamdulillah dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Selanjutnya menggunakan nikmat tersebut di jalan kebaikan. Ketika kedua sikap ini berpadu dalam diri seorang mukmin, maka runtuhlah segala kegelisahan hidup, dan berganti dengan ketenangan jiwa yang hakiki.
Implementasi iman seorang mukmin tercermin utuh pada kesabaran dan kesyukurannya. Para ulama bahkan mengibaratkan iman itu seperti satu tubuh yang memiliki dua belahan. Tanpa salah satunya, keimanan seseorang menjadi pincang dan tidak sempurna. Hubungan erat ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih yang sangat menyentuh hati, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan jika ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka itu kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa bagi seorang mukmin yang sejati, tidak ada momentum dalam hidupnya yang sia-sia. Setiap detik yang dilewatinya adalah ladang pahala, baik saat fajar kemudahan menyingsing maupun saat malam ujian menyelimuti.
Allah SWT telah menjanjikan martabat yang sangat mulia bagi hamba-hamba-Nya yang memilih jalan kesabaran. Di dalam Al-Qur’an, kata “sabar” disebutkan berulang kali. Hal itu menunjukkan betapa krusialnya sifat ini dalam membentuk karakter seorang muslim. Salah satu janji Allah yang paling luar biasa adalah pemberian pahala tanpa batas dan tanpa hitungan bagi mereka yang bersabar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Ayat ini mempertegas bahwa pahala kesabaran itu tidak ditimbang dengan timbangan biasa, melainkan dicurahkan bagaikan air bah yang mengalir langsung dari kemurahan Allah SWT.
Pada sisi lain, syukur adalah kunci pembuka pintu-pintu keberkahan dan jaminan dilipatgandakannya nikmat yang telah ada. Manusia sering kali merasa kekurangan karena mereka lupa melihat apa yang sudah ada di tangan. Dia terlalu sibuk meratapi apa yang belum digenggam. Allah SWT memberikan garansi yang sangat tegas dan tidak bernilai harganya di dalam Al-Qur’an terkait sikap syukur ini, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7). Melalui ayat ini, Islam mengajarkan bahwa syukur adalah magnet rezeki dan pelindung terbaik dari hilangnya nikmat yang telah dititipkan kepada kita.
Umat Islam yang saleh dan para ulama besar senantiasa menekankan bahwa ketaatan tanpa sabar dan syukur akan terasa hampa, kering, dan mekanis. Khalifah Umar bin Khattab RA pernah berkata dengan penuh hikmah, “Andai sabar dan syukur itu adalah dua ekor unta, aku tidak peduli unta mana yang aku kendarai.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kedua sifat ini memiliki derajat yang sama tingginya di mata para sahabat.
Sementara itu, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya yang monumental, Madarijus Salikin, menjelaskan secara rinci bahwa iman terbagi menjadi dua separuh: separuh adalah sabar dan separuh lagi adalah syukur. Beliau menambahkan bahwa ketaatan kepada Allah membutuhkan kesabaran dalam menjalankannya, kesabaran dalam menjauhi maksiat, serta rasa syukur karena telah dipilih dan diberi kekuatan oleh Allah untuk berada di atas jalan ketaatan tersebut.
Muara akhir dari konsistensi mempraktikkan sabar dan syukur di dunia adalah tiket abadi menjadi ahli surga. Surga disiapkan bagi mereka yang mampu bertahan dalam badai ujian dan tidak kufur saat dihujani kenikmatan. Allah SWT menggambarkan bagaimana para malaikat menyambut penduduk surga justru karena kesabaran yang telah mereka tunjukkan selama hidup di dunia, “(Malaikat-malaikat berkata): ‘Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.’ Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24). Sambutan hangat dari para malaikat ini menjadi bukti sahih bahwa kesabaran di dunia yang tampaknya berat dan pahit, akan berbuah manis tak bertepi di akhirat kelak.
Tidak hanya sabar, para ahli surga juga dikenal dengan lisan dan hati mereka yang dipenuhi rasa syukur. Bahkan, aktivitas pertama dan utama yang diucapkan oleh penduduk surga ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki di dalam taman-taman keabadian adalah untaian kalimat syukur kepada Allah SWT. Al-Qur’an merekam momen indah ini, “Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri’.” (QS. Fatir: 34). Ayat ini mengonfirmasi bahwa syukur bukan sekadar ibadah sesaat di dunia, melainkan karakter abadi yang melekat pada jiwa para penghuni surga.
Dalam konteks kehidupan modern saat ini, menjaga kepakan sayap sabar dan syukur tentu memiliki tantangan tersendiri. Arus informasi yang cepat dan budaya membandingkan diri dengan orang lain di media sosial sering kali memicu penyakit hati berupa ketidakpuasan dan hilangnya rasa damai.
Mawas diri (mawas diri) menjadi tameng yang sangat penting. Ketika kita melatih diri untuk menahan diri dari keluhan (sabar) dan fokus menghitung setiap kebaikan kecil yang kita terima (syukur), kita sedang membangun benteng spiritual yang kokoh. Dengan demikian, kita tidak mudah terombang-ambing oleh dinamika duniawi yang melelahkan.
Bagaimana kita bisa mempraktikkan resep ahli surga ini dalam keseharian dengan cara yang sederhana? Kuncinya adalah melatih sudut pandang kita (mindset). Ketika menghadapi musibah atau rencana yang gagal, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam, mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan meyakini bahwa ada takdir terbaik yang sedang Allah persiapkan.
Sebaliknya, ketika mendapatkan keberhasilan, kesehatan, atau sekadar berkumpul dengan keluarga dalam keadaan damai, segera sadari bahwa itu murni karena kasih sayang Allah, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Gunakan kesehatan dan kelapangan tersebut untuk membantu sesama, yang merupakan wujud nyata dari syukur.
Jadi, sabar dan syukur adalah poros utama kebahagiaan seorang mukmin, baik di dunia maupun di akhirat. Kehidupan laksana sebuah perjalanan terbang, mendarat menuju keridaan Allah SWT. Sayap kiri berupa kesabaran menahan kita agar tidak jatuh terhempas saat angin kencang ujian datang, sementara sayap kanan berupa kesyukuran mendorong kita untuk terbang lebih tinggi memanfaatkan energi kenikmatan demi kebaikan.
Ketika kedua sayap ini mengepak seirama, selaras dengan ketentuan syariat, maka perjalanan hidup seorang hamba di dunia ini akan terasa lapang dan berujung indah. Pada akhirnya, kombinasi indah antara ketabahan hati dan kelapangan jiwa inilah yang akan mengantarkan kita melangkah tegap memasuki gerbang surga, disambut dengan salam kedamaian yang abadi. Insyaallah. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 23 Mei 2026,
Dihimpun dari berbagai sumber, di antaranya:
- Imam Al-Muhasibi, terj. Abu Yazid al-Busthomi (2026), Bad’u Man Anaba Ilallah
- Imam Al-Ghazali, terj. Kaserun As. Rahman (2023), Raudha ath-Thalibin wa ‘Umdah as-Salikin