PERINGATAN BAGI ORANG BERILMU

Oleh Zulkarnaini Diran

“Celaka sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar.  Tapi celaka seribu kali bagi orang alim  tidak mengamalkan ilmunya.” (Imam Al-Gazali, 2000:19). Di dalam sebuah riwayat diceritakan. Ketika Rasululullah SAW mengikuti Isyrak dan Mikraj, beliu bertemu dengan sekelompok orang yang sedang menggunting lidahnya dengan gunting api neraka. Rasul bertaanya, “Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang  yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukannya, dan mencegak keburukan tapi kami sendiri mengerjakannya.”  

Orang bodoh yang tidak mau belajar ternyata celakanya hanya satu kali. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya ternyata celakanya seribu kali. Ini merupakan peringatan “keras” bagi orang yang berpengetahuan dan berilmu. Hal ini sebenarnya dapat dijadikan rujukan utama bagi orang-orang alim yang selalu berbagi ilmu dan pengetahuan kepada khalayak atau umat.

Ilmu pada hakikatnya adalah lentera kehidupan yang berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi manusia agar tidak tersesat. Namun,  ilmu bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah sarana. Memiliki ilmu barulah setengah jalan dari proses penghambaan; setengah jalan berikutnya—yang jauh lebih menentukan—adalah bagaimana ilmu tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari yakni berbentuk amal Kebajikan atau amal saleh.

Ungkapan Imam Al-Ghazali yang menyatakan orang bodoh celaka satu kali merujuk pada mereka yang hidup dalam ketidaktahuan karena malas belajar. Kecelakaan mereka bersumber dari satu titik, yaitu keengganan untuk membuka diri terhadap kebenaran. Di mata hukum moral dan agama, ketidaktahuan memang sebuah kerugian besar, namun dosanya sering kali didasari oleh ketidaktahuan itu sendiri (jahl), yang dalam kondisi tertentu masih mendapatkan ruang uzur atau keringanan sebelum mereka mengetahui kebenaran.

Sebaliknya, mengapa orang alim atau berilmu yang tidak mengamalkan pengetahuannya disebut celaka seribu kali? Jawabannya terletak pada kesengajaan. Ketika seseorang sudah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tetap melanggar batas tersebut, ia tidak lagi berada dalam posisi “tidak tahu”. Ia telah menantang kebenaran secara sadar. Inilah mengapa beban moral dan spiritual yang dipikulnya jauh lebih berat, karena ilmu yang dimilikinya justru menjadi saksi yang memberatkannya di hadapan Tuhan.

Peringatan keras ini sejalan dengan firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As-Saff [61]:2)

Ayat ini secara gamblang menegaskan bahwa ada jurang pemisah yang berbahaya ketika ucapan, teori, atau khotbah seseorang tidak selaras dengan perilakunya sendiri. Allah membenci kepalsuan sikap tersebut.

Kisah yang dinukil dari pengalaman Rasulullah SAW saat peristiwa Isra Mikraj—melihat sekelompok orang menggunting lidah mereka sendiri dengan gunting api—bukanlah sekadar cerita menakutkan, melainkan sebuah simbolis yang nyata. Lidah adalah simbol komunikasi, pengajaran, dan nasihat. Ketika lidah sibuk menyuruh orang lain berbuat baik tetapi pemiliknya justru melompat ke dalam kemaksiatan, maka “alat” komunikasi itulah yang pertama kali menanggung akibat dari kemunafikan tersebut.

Rasululullah SAW bersabda, “Akan didatangkan seorang pria pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka… Penghuni neraka bertanya, ‘Wahai fulan, bukankah kamu dahulu memerintahkan kami berbuat baik dan mencegah yang mungkar?’ Ia menjawab, ‘Aku memerintahkan kebaikan tapi aku tidak melaksanakannya, dan aku mencegah kemungkaran tapi aku mengerjakannya.'” (HR. Bukhari & Muslim).

Jika ditarik ke dalam konteks ilmuwan modern, fenomena orang berilmu yang kontradiktif ini mirip dengan teori Disonansi Kognitif yang dikemukakan oleh psikolog Leon Festinger. Ketika seseorang mengetahui suatu kebenaran (kognitif) tetapi bertindak sebaliknya (perilaku), terjadi ketidaknyamanan mental yang hebat. Bagi masyarakat awam, melihat tokoh berilmu yang perilakunya menyimpang akan memicu krisis kepercayaan (distrust). Ilmuwan sosial sepakat bahwa keteladanan tindakan jauh lebih efektif daripada ribuan rangkaian kata-kata indah.

Bagi para pendidik, ustaz, ulama, atau siapa saja yang sering berbagi pengetahuan (khalayak/umat), wacana ini adalah cermin besar. Ada bahaya psikologis yang disebut “sindrom panggung”, di mana seseorang merasa sudah menjadi baik hanya karena ia fasih menyuarakan kebaikan di depan podium. Padahal, ilmu yang dialirkan kepada orang lain wajib disaring terlebih dahulu ke dalam hati dan perilaku diri sendiri sebelum disebarkan, agar tidak menjadi bumerang yang menghancurkan.

Para pakar spiritual Islam, termasuk Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, membagi ilmu menjadi dua: ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang justru menjadi hujah (tuntutan) atas pemiliknya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Allah (khasyyah) dan melahirkan kerendahan hati. Sebaliknya, ilmu yang hanya berhenti di kepala dan bibir hanya akan melahirkan kesombongan intelektual, yang pada gilirannya menyeret pemiliknya ke dalam kecelakaan yang berlipat ganda.

Bagi masyarakat awam, perilaku orang berilmu adalah kiblat praktis. Ketika orang alim tidak mengamalkan ilmunya, dampak kerusakannya bersifat massal. Masyarakat bisa kehilangan arah, menjadi apatis terhadap agama atau ilmu pengetahuan, bahkan menganggap bahwa kebaikan hanyalah sekadar teori yang mustahil dipraktikkan. Oleh karena itu, tanggung jawab seorang ilmuwan atau orang alim bukan hanya mencerdaskan otak umat, melainkan juga menuntun moralitas mereka melalui contoh nyata.

Tulisan  ini mengajak kita semua—terutama para pemilik ilmu—untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah). Mengetahui sesuatu barulah sebuah potensi, namun mengamalkannya adalah sebuah prestasi sejati. Agar terhindar dari celaka yang “seribu kali” itu, setiap butir ilmu yang kita pelajari hari ini harus langsung dicoba untuk dipraktikkan dalam skala kecil di kehidupan sehari-hari, sehingga ilmu tersebut menjadi berkah, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang banyak. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 2 Juni 2026

Dari berbagai sumber di antaranya:

Imam Al-Ghazali (2000), Al-Adab fi ad-Din (terj.)

 _____________(2003), Bidayah al-Hidayah (terj.)

_____________ (1989), Ihya Ulumuddin (terj.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *