Oleh: Zulkarnaini Diran

Waktu laksana anak panah yang melesat cepat dari busurnya. Ia hanya bergerak satu arah dan tidak akan pernah kembali. Di tengah semesta yang mahaluas dan garis waktu sejarah yang membentang jutaan tahun, masa hidup seorang manusia di dunia ini sesungguhnya hanyalah satu kedipan mata. Menyadari bahwa hidup ini sangat pendek bukan berarti kita harus bersikap pesimistis atau pasrah. Sebaliknya, kesadaran akan singkatnya waktu dunia justru harus menjadi pemantik kesadaran eksistensial yang paling kuat bagi setiap individu untuk segera berbuat, berkarya, dan mengukir arti sebelum batas usia itu tiba. Wujudnya adalah hamba yang bermanfaat untuk dirinya dan bermanfaat bagi orang lain.
Konsep singkatnya kehidupan dunia ini digambarkan dengan sangat lugas dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Pada hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi hari.” (QS An-Nazi’at [79]:46) Rasulullah SAW juga mempertegas realitas ini melalui analogi yang sangat menyentuh dalam sebuah hadis, “Apalah artinya dunia ini bagiku? Perumpamakan aku dengan dunia ini adalah seperti seorang pengembara yang berkuda, ia bernaung di bawah pohon di hari yang panas, kemudian ia beristirahat, lalu meninggalkannya.” (HR Imam At-Tirmidzi). Dua sandaran ini menegaskan bahwa dunia bukanlah pelabuhan akhir, melainkan sekadar jembatan penyeberangan yang sangat singkat.
Dalam ruang waktu yang sempit itulah, tugas utama manusia adalah mentransformasikan dirinya agar menjadi entitas yang bermanfaat. Konsep “bermanfaat untuk diri sendiri” bermakna bahwa seorang manusia harus mampu menyelamatkan, merawat, dan mengembangkan potensi lahiriah serta batiniahnya agar selamat di dunia dan di akhirat. Manusia yang bermanfaat bagi dirinya adalah mereka yang tidak membiarkan jiwanya gersang dan tidak membiarkan raganya melakukan kesia-siaan. Pakar psikologi humanistik, Abraham Maslow, menyebut fase ini mirip dengan “aktualisasi diri”, manusia secara optimal menggunakan bakat dan kapasitasnya untuk mencapai puncak kematangan kepribadian dan spiritualitasnya sendiri.
Kebermanfaatan tidak boleh berhenti pada batas ego personal. Ia harus meluap dan mengalir keluar menyentuh kehidupan makhluk lain. Konsep “bermanfaat bagi orang lain” adalah manifestasi tertinggi dari kesalehan sosial. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang sangat popule, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Imam Al-Thabarani). Ulama besar Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati seorang hamba terletak pada kemampuannya menjadi wasilah (perantara) kebaikan dan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitan yang dihadapi sesama manusia. Di sinilah letak sinergi estetis antara kesalehan individu dan kesalehan sosial.
Untuk mewujudkan kehidupan yang bermakna dan bermanfaat dalam durasi yang singkat tersebut, ada lima modal dasar yang saling mengikat. Kelima modal dasar itu adalah ilmu, iman, amal, Ikhlas, dan akhlak. Modal dasar yang pertama dan utama adalah ilmu. Tanpa ilmu, niat baik untuk menjadi bermanfaat sering kali berujung pada kekeliruan atau bahkan kerusakan. Ilmu adalah kompas, cahaya, dan pemandu tindakan. Imam Syafii menegaskan urgensi ini dengan sangat visioner: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya maka hendaklah dengan ilmu.” Ilmu membuat kontribusi seseorang menjadi efektif, terukur, dan berdampak luas.
Modal dasar yang kedua, yang menjadi fondasi dan motor penggerak dari ilmu tersebut, adalah iman. Jika ilmu memberikan kemampuan teknis untuk berbuat baik, maka iman memberikan orientasi nilai dan energi spiritual yang tak kenal lelah. Iman adalah keyakinan kokoh di dalam hati yang membenarkan kebenaran Ilahi. Dalam pandangan Buya Hamka, iman laksana akar pohon yang menghujam kuat ke dalam tanah. Ia tidak terlihat, namun ia yang menyuplai nutrisi dan kekuatan agar pohon tersebut tetap tegak berdiri menantang badai dan mampu menghasilkan buah yang lebat bagi orang-orang di sekitarnya. Imanlah yang menjaga motivasi manusia agar tetap konsisten berbuat baik meskipun tidak mendapatkan apresiasi dari manusia.
Selanjutnya, ilmu yang dipandu oleh iman harus mewujud dalam bentuk nyata, yaitu amal. Ini adalah modal dasar yang ketiga. Ilmu dan iman tanpa amal laksana pohon yang tidak berbuah—indah dipandang namun tidak memberikan manfaat riil bagi perut yang lapar atau kepala yang kepanasan. Dalam teologi Islam, kata “iman” hampir selalu digandengkan dengan kalimat “amal saleh”. Hal itu termaktub di dalam banyak ayat Al-Quran. Ini menunjukkan bahwa kesalehan teoritis harus diejawantahkan dalam kesalehan praktis. Amal adalah jembatan konkret yang menghubungkan potensi kebaikan di dalam diri manusia dengan kebutuhan nyata masyarakat di sekelilingnya.
Agar amal yang dilakukan tidak menjadi debu yang beterbangan ditiup angin, maka ia memerlukan modal dasar yang keempat, yaitu ikhlas. Ikhlas adalah pemurnian motivasi. Berbuat semata-mata karena mengharap rida Allah SWT, bebas dari pamrih pujian (riya’), popularitas (sum’ah), atau keuntungan material yang fana. Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis Qudsi bahwa Allah tidak menerima amal kecuali yang murni dan ditujukan hanya demi wajah-Nya. Pakar spiritualitas Islam sering menyebut ikhlas sebagai “ruhnya amal”. Sebuah tindakan yang kecil namun disertai keikhlasan yang besar akan memiliki bobot spiritual yang jauh lebih berat dan dampak sosial yang lebih mendalam daripada tindakan raksasa yang dikotori oleh kesombongan.
Modal dasar yang kelima, yang membingkai seluruh modal di atas menjadi sebuah bangunan kepribadian yang indah, adalah akhlak. Akhlak bukanlah sekadar sopan santun seremonial, melainkan kondisi jiwa yang tertanam kuat yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik dengan mudah tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan yang berbelit-belit. Nabi Muhammad SAW secara tegas menyatakan: “Sesungguhnya aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad Nomor 8952, Al-Baihaqi Nomor 7978). Seseorang yang berilmu, beriman, beramal, dan ikhlas, secara otomatis akan memancarkan akhlak yang luhur—seperti kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan kerendahan hati—dalam interaksi sosialnya sehari-hari.
Kelima modal dasar ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri secara terpisah, melainkan beroperasi sebagai sebuah sistem yang utuh dan organik. Perpaduan kelimanya membentuk sebuah siklus kehidupan yang mulia. Ilmu mencerahkan pikiran; iman mengokohkan hati; amal menggerakkan tangan; ikhlas memurnikan jiwa; dan akhlak mempercantik perilaku. Jika salah satu komponen ini hilang, maka kebermanfaatan manusia akan pincang. Seseorang yang beramal tanpa ilmu akan tersesat; seseorang yang berilmu tanpa iman akan menjadi angkuh; dan seseorang yang beramal tanpa keikhlasan dan akhlak hanya akan menciptakan kepalsuan di tengah masyarakat.
Ketika seorang manusia berhasil mengintegrasikan ilmu, iman, amal, ikhlas, dan akhlak dalam hidupnya yang singkat, maka ia telah mencapai derajat manusia yang khairukum li al-nas (sebaik-baik manusia). Dampak positif dari kebermanfaatan ini akan terus mengalir bahkan ketika jasadnya telah bersatu dengan tanah. Inilah yang kita kenal sebagai investasi keabadian. Melalui ilmu yang diajarkan, amal jariyah yang diwariskan, serta keteladanan akhlak yang ditinggalkan, manusia tersebut menolak untuk dilupakan oleh sejarah dan tetap hidup di hati orang-orang yang ditinggalkannya.
Jadi, hidup di dunia ini memang teramat pendek, namun ia adalah satu-satunya kesempatan emas yang kita miliki untuk menentukan nilai abadi diri kita. Ini adalah sebuah pengingat yang sangat tajam bagi kita semua. Dengan bersenjatakan lima modal dasar—ilmu, iman, amal, ikhlas, dan akhlak—kita memiliki semua prasyarat yang dibutuhkan untuk mengubah waktu yang pendek ini menjadi sebuah panggung pengabdian yang agung. Dengan demikian hamba bermanfaat untuk dirinya dan bagi orang lain. Mari kita terus bergegas, mengasah diri, dan meluaskan rida sesama, agar pada hari ketika kita harus melangkah pergi dari dunia ini, kita meninggalkannya dalam keadaan senyum kemuliaan, sementara dunia menangisi kehilangan kita. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Padang, 7 Juni 2026
Disasrikan dari berbagai sumber.