Oleh Zulkarnaini Diran

Judul tulisan ini berupa “pertanyaan”. Ini menggambarkan isi tulisan. Kita hidup di dunia ini sementara. Dunia ini fana, akan rusak, hancur, dan lebur. Dunia hanya “persinggahan” bagi hamba. Persinggahan itu pun hanya dalam tempo yang singkat, sesaat. Akhir dari perjalanan di dunia ini adalah akhirat. Di akhirat ada dua terminal terakhir seorang hamba yakni surga dan neraka. Untuk sampai ke terminal pilihan harus melalui proses. Proses itulah yang diwujudkan dalam bentuk ibadah. Perintah Allah begitu, “Tidak Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Ad-Dzariyat [51]:56).
Ibadah adalah aktualisasi dan kongretisasi dari penghambaan kepada Allah SWT. Ketika hamba beribadah apa yang diharap? Banyak kemungkinan atau alternatif jawaban yang dimunculkan. “Aku beribadah untuk mendapatkan pahala.”, kata si Pulan. “Aku untuk dapat masuk surga dan terhindari neraka”, kata Puaini. Dan tentu masih banyak jawaban lain yang dapat dimunculkan. Oleh karena terminal akhir hamba adalah surga dan neraka, “Apakah betul kalau pahala banyak, ada jaminan masuk surga dan terhindar dari neraka?” Nah jawaban inilah yang dicari oleh seorang hamba yang ingin menemukan alasan keberadaannya dalam beribadah.
Rasulullah SAW bersabda, “Amal perbuatan (seseorang) tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah engkau juga begitu Raulullah?” Rasul menjawab, “Juga saya begitu, kecuali kalau Allah memberikan kepada saya Rahmat dan Karunia-Nya.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Hadis ini memberikan jawaban kepada hamba. Untuk sampai ke terminal impian yang dicari adalah “rahmat dan karunia” Allah SWT. Di situ juga dapat diajukan alasan, untuk itu pulalah hamba beribadah kepada-Nya, ya, untuk mendapatkan Rahmat dan Karunia-Nya.
Dunia adalah fana dan sekadar tempat persinggahan yang singkat (darul mumar). Di dalam filsafat Islam, kesadaran akan kefanaan ini merupakan titik awal dari kejernihan spiritual (mawas diri). Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengibaratkan manusia di dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Oleh karena itu, pertanyaan “Apa yang dicari?” menjadi jangkar yang mengarahkan pandangan manusia melampaui fatamorgana duniawi menuju terminal hakiki di akhirat kelak, yaitu surga atau neraka.
Secara syariat, mengharapkan pahala tidaklah salah, namun jika berhenti di sana, ibadah menjadi bersifat transaksional—seolah-olah amal manusia memadai untuk “membeli” surga. Pemikiran ini didekonstruksi oleh hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang dikutip pada awal tulisan ini. Hadis tersebut menegaskan adanya jarak yang besar antara kuantitas amal makhluk yang terbatas dengan kesempurnaan surga yang tak terbatas. Nilai surga terlalu agung jika hanya ditukar dengan beberapa puluh tahun masa ibadah manusia yang penuh dengan kelalaian.
Jika amal bukan penentu utama, maka apa yang dicari? Jawabannya adalah Rahmat dan Karunia Allah SWT. Rahmat (rahmah) adalah manifestasi dari kasih sayang Allah yang meluas kepada segenap makhluk-Nya. Karunia (fadhl) adalah pemberian-Nya yang melimpah tanpa batas. Syaikh Ibnu Ataillah al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam menegaskan, “Salah satu tanda bersandar pada amal adalah berkurangnya harapan (kepada rahmat Allah) ketika terjadi kesalahan.” Dengan demikian, proses ibadah yang dicari oleh seorang hamba bukanlah sarana untuk mendikte takdir Allah, melainkan sarana untuk memantaskan diri agar layak menerima curahan Rahmat-Nya.
Bagaimana proses ibadah yang mampu mengundang rahmat tersebut? Prosesnya dimulai dari transformasi motivasi (niat). Ibadah yang mengundang rahmat adalah ibadah yang melampaui rasa takut akan neraka (khauf) dan sekadar harap akan pahala (raja’), melainkan naik ke maqam cinta (mahabbah) dan syukur. Hal ini dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW ketika ditanya mengapa beliau salat malam hingga kakinya bengkak, padahal dosa beliau yang lalu dan akan datang telah diampuni. Beliau menjawab, “Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari). Ibadah atas dasar syukur inilah yang membuka pintu rahmat tertinggi.
Sesuai dengan QS. Adz-Dzariyat [51]:56 disebutkan pada awal tulisan ini, tujuan penciptaan adalah ibadah. Namun, ibadah yang berproses menuju rahmat membutuhkan pemenuhan aspek kualitatif, bukan sekadar kuantitatif. Allah SWT berfirman, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]:2). Para ulama tafsir menekankan kata ahsanu ‘amala (yang lebih baik amalnya), bukan aktsaru ‘amala (yang lebih banyak amalnya). Amalan yang terbaik adalah yang paling ikhlas karena Allah dan paling benar sesuai dengan tuntunan (syariat).
Proses ibadah yang mendatangkan rahmat tidak boleh terjebak dalam egoisme spiritual— seseorang hanya peduli pada kesalehan dirinya sendiri di atas sajadah. Islam menggariskan bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan mereka yang menebar kemaslahatan di muka bumi. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Zat yang Maha Penyayang). Sayangilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Oleh karena itu, dimensi ibadah harus mewujud dalam keluhuran akhlak dan kepedulian sosial di dunia digital maupun nyata.
Proses pencarian rahmat ini bukanlah sebuah lompatan sesaat, melainkan sebuah perjalanan konsisten yang disebut istikamah. Istikamah dalam ibadah, meskipun dalam kadar yang sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada amal yang besar namun terputus. Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus (istikamah) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari). Melalui keajegan dalam beribadah ini, seorang hamba sedang merawat kontinuitas hubungannya dengan Sang Pencipta, sehingga rahmat-Nya senantiasa menaungi hamba tersebut hingga ajal menjemput.
Dalam proses beribadah, hamba yang mencari rahmat akan selalu mengedepankan sikap mawas diri atau muhasabah (introspeksi). Ia tidak akan merasa aman dengan amalnya, tidak terjangkit penyakit ujub (bangga diri), dan tidak memandang rendah orang lain. Umar bin Khattab RA pernah berpesan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Kesadaran bahwa amal kita masih jauh dari sempurna justru melahirkan rasa butuh yang amat sangat (iftiqar) kepada maghfirah (ampunan) dan karunia Allah, dan rasa butuh inilah yang justru menarik datangnya rahmat-Nya.
Ketika rahmat dan karunia Allah telah diraih oleh seorang hamba selama berproses di dunia, maka rahmat itulah yang akan menjelma menjadi benteng pelindung di hari kiamat. Di padang mahsyar, saat manusia dilingkupi kecemasan, hamba yang mendapatkan rahmat akan berada di bawah naungan-Nya. Rahmat Allah-lah yang kemudian meringankan timbangan kebaikan (mizan), mempercepat langkah di atas jembatan (shirat), menjauhkannya dari terminal neraka yang mengerikan, dan pada akhirnya menuntun tangannya memasuki terminal Impian yakni surga.
Jadi, tulisan ini memberikan jawaban yang sangat jernih bagi kegelisahan spiritual setiap manusia. Yang dicari dalam hidup yang singkat ini bukanlah kemegahan duniawi, dan bukan pula sekadar tumpukan angka-angka pahala yang dihitung secara matematis. Yang dicari adalah rida, rahmat, dan karunia Allah SWT. Proses ibadah hanyalah wadah atau ikhtiar lahiriah kita untuk mengetuk pintu-pintu rahmat tersebut. Ketika pintu itu terbuka, maka selamatlah sang hamba di terminal akhir. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih.
Baiturrahim, Padang, 11 Juni 2026
Disarikan dari berbagai sumber.