Oleh: Zulkarnaini Diran

“Bersimpuhlah kepada-Nya. Patuhilah perintah-Nya. Hindari larangan-Nya. Terimalah ketetapan-Nya dengan sabar dan setia. Jika yang demikian itu telah sempurna, sempurnalah penghambaanmu kepada Tuhanmu dan kecukupan dari-Nya akan datang kepadamu.” (Al-Jailani, 2007:37). Itulah pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di dalam kitab Al-Fathur Rabbani Wal Faidlur Rahmani yang di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan judul “Menjadi Kekasih Allah”.
Seorang hamba mukmin hidup hanya untuk “mengabdi – menghambakan diri” kepada Allah. Penghambaan yang totalitas itu diwujudkan dalam bentuk ibadah yang tujuan akhirnya untuk mendapatkan Ridha Allah SWT yang kemudian menjelma menjadi “dicintai Allah”. Itulah yang dicari, yang diperjuangkan, dan yang diupayakan secara konsisten oleh hamba yang beriman. Ya, itu, hanya itu yakni berbuat atau melakukan hal yang menjadi “sebab-sebab Allah mencintai hamba”. Itulah yang ditegaskan oleh kutipan dari syeikh di atas.
Untuk mencapai derajat sebagai hamba yang dicintai Allah, jalan utama yang harus ditempuh adalah menyempurnakan ketakwaan melalui kepatuhan yang mutlak. Cinta Allah tidak datang secara cuma-cuma, melainkan sebuah balasan agung atas kesetiaan seorang hamba dalam menjalankan syariat-Nya. Ketika seorang hamba menempatkan perintah Allah di atas segalanya dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran (mawas diri), maka pada saat itulah fondasi cinta ilahi mulai terbangun dengan kokoh di dalam jiwanya.
Sebab pertama yang sangat esensial agar seorang hamba dicintai oleh Allah adalah dengan senantiasa bertobat dan menjaga kesucian diri. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, namun hamba yang istimewa adalah mereka yang langsung bersujud memohon ampunan ketika tergelincir dalam dosa. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS Al-Baqarah [2]:222).Kesucian di sini tidak hanya bermakna fisik melalui wudu dan mandi, melainkan juga kesucian batin dari penyakit hati seperti riya, sombong, dan hasad.
Selanjutnya, sebab yang tidak kalah pentingnya adalah konsistensi dalam berbuat ihsan atau kebaikan. Ihsan adalah sebuah kesadaran tertinggi dalam beribadah, seseorang beribadah seakan-akan ia melihat Allah, atau setidaknya ia merasa diawasi oleh-Nya. Manifestasi dari ihsan ini tecermin dalam perilaku sosial yang penuh kasih sayang dan kemanfaatan bagi sesama manusia. Allah menegaskan kecintaan-Nya kepada golongan ini, “…dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (ihsan).” (QS Ali ‘Imran [3]: 134)
Sikap sabar dalam menghadapi segala dinamika kehidupan juga menjadi magnet utama penarik cinta Allah SWT. Kehidupan di dunia ini dipenuhi dengan ujian, baik berupa kesenangan yang melalaikan maupun kesempitan yang menyesakkan dada. Hamba yang dicintai Allah adalah mereka yang mampu menahan diri, tidak mengeluh, dan tetap teguh berdiri di atas syariat saat badai ujian menerpa. Janji Allah bagi hamba yang penyabar ini tertulis abadi, “…dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali ‘Imran [3]:146)
Selain sabar, ketawakalan atau berserah diri secara penuh kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang maksimal adalah sebab lain yang mendatangkan cinta-Nya. Tawakal mencerminkan sebuah pengakuan tulus bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, dan hanya Allah yang Maha Kuasa atas segala ketentuan. Ketika seorang hamba telah memasrahkan hasil akhir urusannya kepada takdir Allah, maka ketenangan akan bersemayam di hatinya. Allah SWT berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran [3]:159)
Sebab berikutnya adalah menegakkan keadilan dalam segala aspek kehidupan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Keadilan adalah fondasi ketenteraman sosial, dan Allah sangat membenci kezaliman. Seorang hamba yang mampu menimbang sesuatu dengan objektif dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, tanpa dipengaruhi oleh kebencian atau kepentingan pribadi, akan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS Al-Ma’idah [5]: 42)
Di samping mengamalkan kewajiban-kewajiban dasar, cinta Allah akan semakin berlipat ganda apabila seorang hamba gemar mendekatkan diri melalui amalan-amalan sunah (nawafil). Amalan sunah seperti salat tahajud, puasa sunah, dan zikir merupakan bukti cinta yang tulus dari seorang hamba yang tidak sekadar menggugurkan kewajiban. Dalam sebuah Hadis Qudsi yang sahih, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…” (HR. Bukhari).
Jalur mutlak lainnya untuk meraih cinta Allah adalah dengan mengikuti secara setia seluruh sunah dan keteladanan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baiknya contoh manusia yang telah mencapai puncak penghambaan. Kita tidak mungkin bisa mengklaim mencintai Allah tanpa meniru cara Rasulullah dalam beribadah, berakhlak, dan bermuamalah. Penegasan ini termaktub secara jelas dalam Al-Quran, “Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, seorang ulama besar Islam, dalam kitabnya Madarijus Salikin, memaparkan bahwa salah satu tanda utama seorang hamba dicintai Allah adalah ketika hatinya selalu dipenuhi oleh rasa rindu untuk mengingat-Nya (zikir). Lidah yang basah karena menyebut nama Allah dan hati yang bergetar saat mendengarkan ayat-ayat-Nya adalah anugerah cinta yang luar biasa. Zikir yang dilakukan secara konsisten akan membersihkan karat-karat kelalaian di dalam hati, sehingga memancarkan aura kesalehan dalam tindakan sehari-hari.
Lebih jauh lagi, tanda konkret bahwa Allah telah mencintai seorang hamba adalah ketika seluruh anggota tubuhnya “dibimbing” oleh Allah untuk hanya melakukan hal-hal yang diridhai-Nya. Menyambung Hadis Qudsi riwayat Imam Bukhari sebelumnya, Allah menyatakan, “…Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk melangkah.” Ini berarti hamba tersebut terjaga dari kemaksiatan dan terpelihara dalam ketaatan.
Sebagai kesimpulan, meraih cinta Allah SWT adalah tujuan tertinggi dari seluruh rangkaian kehidupan seorang mukmin di dunia ini. Sebab-sebab datangnya cinta ilahi tersebut telah terpampang nyata, mulai dari bertobat, menjaga kesucian, berbuat ihsan, bersabar, bertawakal, berlaku adil, menghidupkan amalan sunah, hingga meneladani Rasulullah SAW secara kaffah. Ketika keikhlasan dan konsistensi dalam menjalankan sebab-sebab ini telah menyatu dalam diri, maka janji kecukupan dan ketenteraman dari Allah—sebagaimana yang dipesankan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani—pasti akan menjadi kenyataan yang indah di dunia dan akhirat. Semoga tulisan sederhana inibermanfaat. Terimakasih!
Padang, 13 Juli 2026
Disarikan dari ayat-ayat Al-Quran, kitab Al-Fathur Rabbani Wal Faidlur Rahmani (Syeih Abdul Qadir Jailani: terj.), dan sumber-sumber bacaan lain.