Oleh Zulkarnaini Diran

Dahulukan adab, baru ilmu. Belajar adablah terlebih dahulu baru kemudian belajar ilmu. Keduanya sama-sama perlu, sama-sama penting, dan sama-sama dibutuhkan. Akan tetapi, adab lebih diutamakan, kemudian disusulkan dengan ilmu. Imam Asy-Syafi’i menyampaikan nasehat, “Ilmu akan membuatmu lebih berpengetahuan, tetapi adab membuatmu lebih dihargai. Maka jangan hanya sibuk menambah ilmu, sibukkan pula dirimu memperbaiki akhlak. Sebab ilmu tinggi tanpa adab hanya akan membuat seseorang mudah merasa paling hebat.”
Fenomena sejak dulu sampai kini terlihat nyata. Orang berilmu yang kurang adab, hidupnya diwarnai oleh kesombongan. Mereka angkuh, sombong, dan cendrung meredahkan orang lain. Akibatnya sangat buruk. Di antara akibat itu adalah mereka dimajinalkan dari masyarakat. Kemudian dalam tatanan pergaulan dan hubungan sosial, mereka sering menimbulkan masalah. Oleh karena itu, ilmu harus diawalai dengan adab. Dengan adab seorang ilmuwan akan beranlogai dengan ilmu padi, “semakin berisi, semakin runduk”. Artinya, dengan adab seorang ilmuwan akan rendah hati.
Adab menempati posisi yang paling fundamental dalam bangunan peradaban Islam sebelum seseorang menimba dan memperdalam ilmu pengetahuan. Hal ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan intelektual tanpa diiringi dengan kehalusan budi pekerti bagaikan pelita di tangan pencuri. Ia bukan menerangi jalan, melainkan memudahkan lahirnya kerusakan. Para ulama salaf senantiasa mendahulukan mempelajari adab selama bertahun-tahun lamanya sebelum mereka menyibukkan diri dengan hafalan dalil dan hukum fikih.
Al-Qur’an dan Sunnah menempatkan akhlakul karimah sebagai misi utama diutusnya risalah kenabian kepada umat manusia. Allah SWT memuji kepribadian Nabi Muhammad SAW secara langsung, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti luhur.” (QS Al-Qalam [68]: 4) Ayat ini menegaskan bahwa Rasululllah, Muhammad SAW berada di atas budi pekerti yang agung. Dari sudut pandang teologis, ketinggian ilmu seseorang diuji dari sejauh mana ilmu tersebut melahirkan rasa takut kepada Allah. Allah berfirman, “…Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para ulama….” (QS Fathir [35]: 28). Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmidzi).
Para teolog dan mazhab pemikiran Islam klasik sepakat bahwa adab adalah mahkota bagi seorang penuntut ilmu. Imam Malik bin Anas pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy agar mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu. Begitu pula dengan riwayat-riwayat masyhur dari ulama besar seperti Abdullah bin Mubarak, yang menyatakan bahwa mereka lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu. Pandangan ini menunjukkan konsensus ulama bahwa ilmu bersifat pasif dan netral, sementara adablah yang mengarahkan ilmu tersebut menjadi amal jariyah yang mendatangkan kemaslahatan atau justru malapetaka.
Fenomena hilangnya adab di kalangan orang berilmu melahirkan watak kesombongan intelektual yang merusak tatanan sosial masyarakat. Ketika seseorang merasa dirinya memiliki ilmu yang tinggi, ia rentan terjangkit penyakit ujub (bangga diri) dan merendahkan kapasitas berpikir orang lain. Sifat angkuh ini tidak hanya menjauhkan simpati masyarakat, tetapi juga memicu disintegrasi sosial dan permusuhan di ruang publik. Ilmuwan yang kehilangan adab sering kali menggunakan argumen ilmiahnya bukan untuk mencerahkan, melainkan untuk mendominasi dan melukai pihak lain.
Filosofi tradisional nusantara tentang “ilmu padi”—semakin berisi semakin merunduk—sejalan dengan esensi adab Islam yang mengajarkan ketawadhuan. Semakin luas wawasan seseorang tentang luasnya ciptaan Tuhan, seharusnya semakin tumbuh kesadaran bahwa pengetahuan manusia itu sangatlah terbatas di hadapan ilmu Allah. Kerendahan hati ini menjadi perisai pelindung yang menjaga agar hati tidak terkotori oleh kesombongan atas prestasi akademik atau kedudukan sosial yang diraih.
Ilmu yang dipelajari dengan adab yang benar akan bertransformasi menjadi sebuah kebijaksanaan hidup yang mendalam. Kebijaksanaan ini memampukan seseorang untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya, menghargai perbedaan pandangan, dan menggunakan otoritas keilmuannya untuk membimbing umat menuju kebaikan. Tanpa adanya adab, ilmu pengetahuan hanya berhenti sebagai tumpukan informasi kognitif yang kering dari nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Salah satu manifestasi konkret dari perbaikan adab adalah tata cara seseorang dalam memperlakukan guru dan sumber-sumber ilmu pengetahuannya. Penghormatan kepada pendidik bukan sekadar formalitas sosial, melainkan kunci keberkahan ilmu itu sendiri agar dapat meresap dan bermanfaat bagi sesama. Para penuntut ilmu terdahulu sangat menjaga adab duduk, adab bertanya, dan adab mendengarkan di hadapan gurunya karena mereka menyadari bahwa keberkahan jauh lebih utama daripada sekadar kuantitas hafalan.
Penerapan adab secara konsisten melatih keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam diri seorang mukmin. Kecerdasan intelektual memberikan kemampuan analisis, sementara adab dan akhlak membingkai kecerdasan tersebut agar senantiasa berorientasi pada kemaslahatan universal. Integrasi ini melahirkan sosok manusia paripurna yang cerdas akalnya dan lembut nuraninya dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah.
Di tengah gelombang keterbukaan informasi era digital saat ini, urgensi memperbaiki adab menjadi jauh lebih mendesak dibandingkan masa-masa sebelumnya. Ruang-ruang publik virtual sering kali diwarnai oleh perdebatan ilmiah yang kehilangan adab diskusi, saling hujat, dan hilangnya rasa hormat antarsesama pencari kebenaran. Menghidupkan kembali tradisi adab bermedia sosial adalah bentuk nyata dari pengamalan ilmu yang bertanggung jawab secara moral di hadapan hukum Tuhan dan masyarakat.
Membangun kembali peradaban yang berlandaskan adab merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dimulai dari institusi terkecil, yakni keluarga dan lembaga pendidikan formal. Kurikulum pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian angka-angka akademik semata, melainkan harus menempatkan pembentukan karakter dan adab sebagai indikator kelulusan yang utama. Masyarakat yang sehat hanya akan terwujud apabila para cerdik pandainya berdiri di barisan terdepan dalam memberikan teladan ketulusan dan ketawadhuan.
Pada akhirnya, ujian terbesar dari proses panjang menuntut ilmu bukanlah seberapa banyak gelar yang disandang, melainkan seberapa besar manfaat akhlak kita bagi lingkungan sekitar. Ilmu yang bermanfaat selalu meninggalkan jejak kedamaian, kasih sayang, dan pencerahan di mana pun pemiliknya berada. Ketika adab dijadikan sebagai panglima dalam setiap langkah pencarian pengetahuan, maka keselamatan dunia dan akhirat insya Allah akan menyertai perjalanan hidup seorang hamba.
Jadi, mendahulukan adab di atas ilmu adalah kunci utama agar kecerdasan tidak berubah menjadi bencana kesombongan bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur’an, Sunnah, serta petunjuk para teolog Islam, kita diingatkan untuk senantiasa mengevaluasi niat dan perilaku dalam setiap proses belajar. Mari kita sibukkan diri memperbaiki adab agar setiap jengkal ilmu yang kita miliki menjelma menjadi cahaya yang menuntun pada ridha Allah SWT. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 8 September 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan dikaitkan dengan pengalaman pribadi belajar adab dan menunut ilmu.