MEMPERBAIKI DIRI

Oleh Zulkarnaini Diran

Menyibukkan diri itu perlu, bahkan sangat dianjurkan. Siapapun kita dari latarbelakang apapun, kesibukan haruslah dicari. Kesibukan diri itu artinya beraktifitas, bergerak, dan berbuat. Kesibukannya itu melibatkan jasmani dan ruhani, raga dan jiwa, lahir dan batin. Tentu kesibukan selain seuai dengan keadaan dan kebutuhan diri, hal penting dalam bersibuk adalah bermanfaat bagi diri, bagi orang lain, bagi lingkungan, diniatkan karena Allah, dan tidak menyelisihi Al-Quraan dan Sunnah. Sibuklah!

Kesibukan merupakan proses. Proses berbuat atau melakukan sesuatu. Dalam proses itu banyak variabel yang terlibat seperti waktu, tenaga, uang, kemampuan teoretis, kemampuan praktis, dan sebagainya. Artinya, menyibukkan diri itu berarti mengorbankan banyak hal dalam prosesnya. Oleh karena itu, bersibuk-sibuklah untuk hal yang bermanfaat dan untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah SWT. Jika orinetasinya tidak jelas, bisa berakibat, “minyak habis, sambal tak enak, arang habis, besi binasa”. Rugi dan berujung pada penyesalan.

Umar bin Khattab berujar, “Jangan habiskan hidupmu untuk menghitung kesalahan orang lain, sementara dirimu sendiri masih kekurangan. Ingatlah tujuan hidup ini bukan untuk mencari kesalahan manusia, melainkan memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan hati kepada Allah. Orang yang sibuk menghakimi orang lain sering lupa bahwa dirinya sedang diuji.” Merujuk ujaran khalifah ini, seyogyanya kesibukan hamba sehari-hari adalah memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan diri kepada Allah, serta menajuhkan diri dari menghakimi orang lain.

Proses memperbaiki diri (muhasabah dan tazkiyatun nafs) merupakan poros utama keberagamaan seorang Muslim. Ketika seseorang disibukkan oleh usaha mengenali cacat celah dirinya sendiri, ia tidak lagi memiliki ruang maupun waktu untuk mengintai cacat orang lain. Prinsip ini selaras dengan nasehat mulia Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang menekankan bahwa orientasi hidup seorang hamba yang cerdas adalah berfokus pada pembenahan jiwa, memperbanyak bekal amal saleh, serta mendekatkan diri secara konsisten kepada Allah SWT.

Secara teologis, landasan utama perintah untuk senantiasa memperbaiki diri termaktub dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”  (QS Al-Hasyr [59]: 18). Ayat ini mengisyaratkan pentingnya introspeksi secara mendalam sebelum berbuat, saat berbuat, dan setelah berbuat. Kesibukan memeriksa bekal akhirat diri sendiri secara alami memalingkan perhatian kita dari keburukan yang ada pada diri sesama.

Rasulullah SAW juga memberikan panduan yang sangat tegas mengenai kriteria kebaikan iman seseorang melalui pemanfaatan fokus dan kesibukan dirinya. Rasulullah SAW bersabda,  “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR At-Tirmidzi). Mengamati, menghitung, dan mendiskusikan kejelekan orang lain adalah bentuk aktivitas yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi kualitas agama maupun kedewasaan jiwa seorang hamba, melainkan justru menguras energi spiritual.

Imam Hasan Al-Basri, seorang ulama tabi’in kenamaan, menegaskan hakikat ini dengan ungkapan yang sangat mendalam, “Di antara tanda bahwa Allah SWT telah berpaling dari seorang hamba adalah Allah menjadikannya sibuk dalam hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” Ungkapan ini menjadi peringatan keras bahwa ketagihan menilai dan menghakimi orang lain bukanlah tanda kecerdasan sosial atau moral, melainkan sinyal bahaya bahwa jiwa hamba sedang jauh dari pertolongan dan rahmat Allah SWT.

Langkah konkret pertama dalam memperbaiki diri adalah mengarahkan pandangan ke dalam (mawas diri). Usaha ini dimulai dari pembenahan niat dan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) dari sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, dan sombong. Seseorang yang sibuk meneliti kelemahan ibadahnya, memperbaiki kualitas shalatnya, dan menata tutur katanya tidak akan memiliki ruang pikiran untuk menyusun daftar kesalahan tetangga atau rekannya. Fokus penuh pada agenda pembenahan internal ini adalah kunci ketenangan batin.

Langkah berikutnya adalah memperbanyak amal kebajikan sebagai wujud nyata dari proses pembenahan tersebut. Memperbaiki diri tidak cukup hanya dengan menghentikan kebiasaan buruk, tetapi harus diimbangi dengan mengisi waktu menggunakan aktivitas yang konstruktif. Amal saleh—baik yang bersifat ritual ibadah maupun sosial kemasyarakatan—menjadi benteng kokoh yang menjaga energi jasmani dan ruhani agar tetap berada pada lintasan yang diridhai oleh Allah SWT.

Selanjutnya, menahan diri dari sikap menghakimi (judgemat) orang lain merupakan buah manis dari keberhasilan perbaikan diri. Rasulullah SAW mengingatkan bahaya menilai status spiritual orang lain,  “Ada dua orang lelaki dari Bani Israil yang saling bersaudara… Salah satunya berkata kepada yang lain: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!’ Maka Allah SWT berfirman: ‘Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si Fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapuskan amalmu.'”  (HR Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa mengambil peran sebagai penilai atau penghakim atas nasib spiritual orang lain adalah tindakan yang sangat berbahaya di hadapan Allah.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesadaran atas dosa dan kekurangan diri sendiri akan melahirkan sifat kasih sayang dan kelembutan kepada sesama. Ketika seseorang menyadari betapa ringkih dirinya dalam menghadapi godaan, ia tidak akan mudah mencela orang lain yang sedang tergelincir. Sebaliknya, ia akan merasa prihatin, mendoakan kebaikan bagi orang tersebut, dan semakin memperketat penjagaan terhadap dirinya sendiri agar tidak jatuh pada lubang yang sama.

Mengalihkan perhatian dari kesalahan orang lain menuju pembenahan diri juga membawa dampak yang sangat menenangkan bagi kesehatan jiwa. Rasa dengki, dorongan untuk mengkritik, dan dorongan menghakimi timbul dari hati yang gelisah dan jauh dari Allah. Ketika fokus dialihkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui dzikir, belajar, dan berbuat baik, maka hati akan meraih ketenangan yang sejati.  Allah berfirman,  “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’ad [13]: 28)

Jadi, menyibukkan diri dengan perbaikan pribadi (islaahul nafs) adalah perniagaan spiritual yang tidak akan pernah merugi. Dengan memfokuskan energi jasmani dan ruhani untuk menambal kekurangan diri, memperbanyak bekal amal, dan senantiasa bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah, hamba akan terhindar dari kiasan “minyak habis, sambal tak enak, arang habis, besi binasa.” Memperbaiki diri adalah jalan keselamatan, sementara menghakimi orang lain hanya akan mengantarkan jiwa pada kebangkrutan hakiki di hadapan Sang Maha Pencipta. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Manna, Bengkulu Selatan, 18 Agustus 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan hasil penyimakan sehari-hari serta pengalaman pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *