MENGHARGAI DAN MEMANFAATKAN WAKTU

Oleh Zulkarnaini Diran

Allah menyediakan fasilitas paling krusial untuk hamba. Fasilitas itu di antaranya adalah waktu. Banyak ayat di dalam Al-Quran yang menyatakan “pentingnya” waktu. Sekurang-kurangnya ada sepuluh ayat di dalam Kitabullah yang menyatakan Allah bersumpah dengan fasilitas waktu itu. Satu ayat sangat populer berbunyi, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-Ashr [103]: 1-3)

Kehilangan fasilitas waktu adalah keugian yang amat besar. Kehilangan harta hari ini, mungkin ke depan dapat didapat lagi. Kehilangan waktu detik ini, ia tidak akan kembali lagi. Ia berlalu dan tidak mugkin dipungut kembali. Waktu yang hilang, tidak mungkin diganti lagi. Itulah sebabnya, kehilangan waktu merupakan kerugian yang amat besar. Oleh karena itu, perlu ditumbuhkan kesadaran yang mendalam kepada diri hamba, bertapa “mahalnya” waktu, betapa “berharganya” waktu. Di balik kesadaran itu insyaalah muncul apresiasi atau penghargaan terhadap waktu, itulah harapan kepada diri.

Menghargai waktu berarti memanfaatkannya dengan baik. Allah bersumpah demi “masa”. Hamba rugi, kecuali beriman, bermal saleh, saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran. Iman ada di dalam kalbu. Berimana tau tidak seorang hamba tidak dapat dicandra oleh orang lain, hanya hamba dan Allah saja yang tahu. Amal saleh adalah semua perbuatan baik yang bermanfaat untuk diri dan orang lain, dikerjakan dengan niat karena Allah, sedangkan pelaksanaannya tidak menyelisihi Quran dan Sunnah. Begitu pula halnya dengan upaya saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran. Intinya adalah waktu yang merupakan fasilitas disediakan Allah itu dimanfaatkan untuk perbuatan baik yang berlandaskan iman.

Kehilangan fasilitas waktu merupakan sebuah kerugian yang sifatnya mutlak dan tidak bisa ditawar. Berbeda dengan materi atau harta duniawi yang hilang hari ini dan mungkin bisa dicari kembali di kemudian hari, waktu yang berlalu pada detik ini tidak akan pernah bisa kembali lagi. Ia berjalan terus tanpa bisa dipungut atau diulang. Kesadaran mendalam mengenai betapa mahalnya waktu inilah yang seharusnya melahirkan apresiasi tinggi pada diri setiap manusia untuk mengisinya dengan hal-hal yang produktif dan bermakna.

Pentingnya waktu ditegaskan secara langsung oleh Allah SWT melalui sumpah-Nya di dalam kitab suci. Setidaknya terdapat sepuluh ayat di dalam Al-Quran di mana Allah bersumpah menggunakan waktu, seperti demi masa (fajr, dhuha, ashr, lail, dan sebagainya). Surat Al-Ashr ayat 1 sampai 3 menjadi landasan paling populer yang mengingatkan bahwa seluruh umat manusia berada dalam kerugian besar, kecuali mereka yang memenuhi empat kriteria: beriman, beramal saleh, serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Para ulama terdahulu sangat memahami nilai waktu jauh melampaui ukuran harta benda. Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata dengan sangat indah: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah hari-harimu. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian darimu pun ikut pergi.” Ungkapan bijak ini menyadarkan kita bahwa umur manusia pada hakikatnya adalah akumulasi hari yang terus berkurang menuju garis akhir kehidupan di dunia.

Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang diberikan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW bersabda bahwa ada dua nikmat yang banyak disia-siakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Hadis ini mengisyaratkan bahwa kesehatan dan kelonggaran waktu adalah modal utama manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, yang jika diabaikan akan berbuah penyesalan mendalam.

Menghargai waktu pada dasarnya identik dengan memanfaatkannya sebaik mungkin sesuai tuntunan syariat. Iman yang tertanam di dalam kalbu harus dimanifestasikan melalui amal saleh, yakni segala bentuk perbuatan baik yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, diniatkan ikhlas karena Allah SWT, serta sejalan dengan Al-Quran dan Sunnah. Selain itu, mengisi waktu dengan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran adalah wujud nyata dari pemanfaatan usia yang produktif secara sosial dan spiritual.

Sangat disayangkan, realitas kehidupan hari ini menunjukkan betapa banyak umat manusia yang gemar membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Waktu berharga yang seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan kualitas ibadah, menuntut ilmu, atau menebar kebaikan justru dihabiskan untuk aktivitas yang melalaikan. Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi) dan tenggelam dalam hiburan yang melampaui batas menjadi penyakit modern yang menjangkiti banyak kalangan.

Mereka yang gemar membuang-buang waktu sebenarnya sedang menabung kerugian besar bagi masa depan akhirat mereka. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menegaskan bahwa menyia-siakan waktu itu lebih berbahaya daripada kematian, karena kematian hanya memutuskan hubungan seseorang dengan dunia, sementara menyia-siakan waktu memutuskan seseorang dari Allah dan surga-Nya. Hilangnya waktu berarti hilangnya kesempatan emas untuk mendulang pahala yang akan menyelamatkan diri dari azab Allah SWT.

Kerugian terbesar dari melalaikan waktu baru akan dirasakan secara nyata ketika seseorang menghadapi sakaratul maut atau hari pembalasan kelak. Di akhirat nanti, manusia yang lalai akan memohon agar dikembalikan ke dunia walaupun hanya sebentar sekadar untuk beramal saleh. Namun, penyesalan di akhirat adalah penyesalan yang terlambat karena pintu kesempatan telah tertutup rapat, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah di dalam Al-Quran surat Al-Munafiqun ayat 10.

Agar tidak termasuk ke dalam golongan yang merugi, setiap Muslim perlu menerapkan manajemen waktu yang berorientasi pada nilai akhirat. Dimulai dengan membuat skala prioritas harian yang menempatkan ibadah wajib dan amal produktif di tempat teratas. Menghindari kesia-siaan digital, mengurangi perbincangan yang kosong, serta mengevaluasi diri (muhasabah) setiap malam sebelum tidur adalah langkah strategis agar setiap detik yang dihirup bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Jadi, waktu adalah fasilitas paling krusial dan terbatas yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Menghargai waktu berarti mengisinya dengan keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran sebagaimana pesan Surat Al-Ashr. Sebaliknya, membuang-buang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat adalah bentuk kerugian hakiki yang mendatangkan penyesalan abadi. Oleh karena itu, mari manfaatkan sisa umur yang ada untuk mempersembahkan amal terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat. Smoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 19 September 2026

Disarikan dari berbagaai sumber dan dikaitkan dengan kehidupan nyata pada usia senja setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *