KEBENARAN

Oleh Zulkarnaini Diran

Ini tentang kebenaran. Seorang mahasiswa menerima pencerahan dari dosennya. Sangan dosen menjelaskan, penelitian itu bertujuan untuk mencari kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah itu dua indikatornya yakni benar menurut teori dan benar menurut fakta empiris. Intinya adalah kebenaran teoretis dan kebenaran empiris, itu kebenaran ilmiah atau sain. Mahasiswa yang berlatarbelakang Pendidikan Menengah dari Pondok Pesantren itu bingung. Kemudian mahasiswa bertanya, “Kebenaran dari Allah itu letaknya di mana, Pak?” katanya meminta penjelasan untuk menghapus kebingungannya.

Kebenaran dari Allah dengan kebenaran temuan manusia berbeda landasannya. Kebenaran dari Allah SWT landasannya iman. Kebenaran temuan manusia atau kebenaran ilmiah landasannya sebatas pengindraan yakni teori dan fakta. Bisa jadi, kebenaran Allah dan kebenaran temuan manusia dapat berbeda dan dapat sama berdasarkan landasan atau pijakannya. Oleh karena itu, seyogyanya mahasiswa yang bertanya dalam ilustrasi di atas tidak perlu bingung.

Allah SWT berfirman, “Allah akan mengukuhkan kebenaran dengan ketetapan-ketetapan-Nya, walaupun para pendurhaka tidak menyukainya.”(QS Yunus [10]:82). Kebenaran Allah itu mutlak, absolut, dan benar-benar permanen. Hal itu hanya akan diakui, diyakini, dan dibenarkan oleh iman yang dimiliki seorang hamba. Ada kebenaran Allah SWT yang belum dapat dibuktikan oleh hal-hal teoretis dan empiris, tetapi hal itu tetap benar. Hanya hamba yang beriman saja yang menyakini kebenaran itu.

Persoalan mengenai kebenaran sering kali menjadi titik temu sekaligus titik perdebatan antara wahyu dari Allah dan dan kerja ilmiah atau sains. Mahasiswa yang berlatarbelakang pesantren dalam ilustrasi awal, merasakan kebingungan ketika dihadapkan pada definisi kebenaran ilmiah yang bersandar pada teori dan fakta empiris. Kebingungan tersebut sesungguhnya mewakili dialektika abadi antara cara pandang teologis yang bersumber dari Sang Pencipta dan cara pandang rasional-empiris yang lahir dari keterbatasan akal manusia. Memahami perbedaan mendasar antara keduanya akan menuntun kita pada harmoni, yaitu ilmu pengetahuan sains diposisikan sebagai sarana, sementara firman Allah SWT ditempatkan sebagai mercusuar kebenaran mutlak.

Landasan utama dari kebenaran yang datang dari Allah SWT adalah iman, sebuah keyakinan batin yang melampaui batas-batas indra manusia. Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang menuntut pembuktian laboratorium atau validasi statistik, kebenaran Ilahi bersifat absolut, kekal, dan tidak bergantung pada pengakuan manusia. Allah SWT berfirman dalam QS Yunus ayat 82, yang menegaskan bahwa ketetapan-Nya adalah kebenaran yang kokoh meskipun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya. Ayat ini mengisyaratkan bahwa eksistensi kebenaran mutlak tidak runtuh hanya karena belum mampu dijangkau oleh nalar atau instrumen sains modern pada suatu masa tertentu.

Sebaliknya, kebenaran temuan manusia atau yang lazim disebut sebagai kebenaran ilmiah memiliki sifat yang sangat dinamis, tentatif, dan terbuka terhadap koreksi. Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dipenuhi dengan teori-teori yang pada masanya dianggap sebagai kebenaran mutlak, namun kemudian digugurkan oleh penemuan baru. Sebagai contoh, teori geosentris sempat diyakini berabad-abad lamanya sebelum akhirnya dipatahkan oleh teori heliosentris. Sifat tentatif ini terjadi karena kapasitas panca indra dan akal budi manusia memiliki keterbatasan ruang, waktu, serta alat ukur yang senantiasa berkembang dari masa ke masa.

Dalam pandangan teologi Islam, para ulama menegaskan bahwa akal manusia diciptakan bukan untuk menciptakan kebenaran dari ketiadaan, melainkan untuk memahami dan menyingkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam berbagai karyanya sering menguraikan bahwa akal memiliki batas operasional yang tidak mampu menembus wilayah metafisika secara mandiri tanpa bimbingan wahyu. Ketika akal mencoba memahami realitas gaib atau kebenaran mutlak tanpa panduan wahyu, ia rentan terjebak dalam spekulasi yang keliru. Oleh karena itu, wahyu berfungsi sebagai penuntun utama agar akal tidak tersesat dalam pengembaraan intelektualnya.

Al-Quran secara tegas memposisikan dirinya sebagai sumber kebenaran tertinggi yang tidak mengandung keraguan di dalamnya. Allah SWT berfirman,  “Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”  (QS Al-Baqarah [2]: 2) Keabsahan firman Allah ini bersifat mandiri, tidak memerlukan verifikasi empiris untuk membuktikan kebenarannya, sebab kebenaran-Nya bersumber langsung dari Diri Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang nyata maupun yang tersembunyi. Iman berfungsi sebagai lensa ruhani yang memungkinkan seorang hamba untuk menangkap cahaya kebenaran tersebut dengan penuh ketundukan.

Meskipun demikian, Islam tidak pernah mempertentangkan antara kebenaran wahyu dan kebenaran ilmu pengetahuan yang sahih. Seringkali, apa yang baru ditemukan oleh sains modern melalui penelitian empiris yang panjang telah diisyaratkan di dalam Al-Quran sejak belasan abad lalu. Hubungan keduanya bersifat komplementer; ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) diteliti melalui metode ilmiah, sementara ayat-ayat qauliyah (wahyu) dipahami melalui perenungan iman. Ketika sains menemukan fakta baru yang valid, hal itu justru semakin memperkuat kekaguman seorang mukmin terhadap keagungan ciptaan Allah SWT.

Para ulama kontemporer dan teolog Islam sepakat bahwa perbedaan antara kebenaran mutlak dan tentatif ini mengajarkan manusia sikap rendah hati (tawadhu). Kesadaran bahwa ilmu manusia sangatlah terbatas mencegah para ilmuwan jatuh kesombongan intelektual seolah-olah akal mereka mampu menguasai seluruh rahasia alam semesta. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al-Isra [111]: 85). Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa seluas apapun peradaban dan teknologi manusia berkembang, pengetahuan kita hanyalah setetes air di lautan luas dibandingkan ilmu Allah SWT.

Jadi, kebenaran dari Allah SWT bersifat mutlak, kekal, dan menjadi landasan utama yang diyakini melalui iman yang tulus. Di sisi lain, kebenaran temuan manusia bersifat tentatif, terus-menerus berkembang, dan tunduk pada revisi seiring kemajuan zaman serta dinamika ilmu pengetahuan. Mahasiswa dalam ilustrasi awal tidak perlu merasa bingung, sebab sains dan iman berjalan pada ranah yang berbeda namun saling melengkapi dalam jiwa seorang pencari ilmu yang bijaksana. Dengan memadukan keteguhan iman pada kebenaran mutlak dan semangat menggali ilmu pengetahuan empiris, seseorang dapat meraih kebijaksanaan hidup yang utuh dan bermakna. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 2 Oktober 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari dalam upaya memahami kebenaran mutlak dan kebenaran tentatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *