Oleh Zulkarnaini Diran

Firaun berujar, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya” (QS Yunus, 10:90). Hal itu diucapkan Firaun saat-saat kematiannya. Ketika Bani Israil yang dipimpin Nabi Allah Musa Alihissalam melintasi Laut Merah, Firaun dan tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya dan menindas. Saat itu Allah SWT menenggelamkan mereka. Pada detik-detik itulah Firaun sadar, bertobat, dan mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya.
Allah berfirman, “Apakah baru sekarang (kamu beriman), padahal sungguh telah durhaka sejak dulu dan Kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” (QS Yunus [10]: 91). Kemudian Allah SWT kembali berfirman dengan tegas, “Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah Kamu. Sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar lengah (tidak mengindahkan) tanda-tanda (kekuasaan) Kami” (QS Yunus [10]: 92).
Firaun adalah lambang atau representasi dari semua bentuk kedurhakaan kepada Allah. Dia mewakili makhluk paling zalim, paling jahat, dan paling berutal di bumi Allah ini. Hal itu tentu bukanlah cerita “bohong” atau hoak karena diinformasikan melalui kitabullah yang tidak ada keraguan atas kebenarannya bagi orang yang beriman. Perilaku Firaun ternyata diwarisi oleh “generasi pelanjutnya”. Meskipun tidak seganas Firaun, tetapi sisa-sisa kebrutalan, kezaliman, dan kejahatan itu masih ada. Hal itu dapat dilihat dalam fenomena berbagai dimensi kehidupan kini.
Sebagai hamba yang hidup pada kurun ini, tentu kita berupaya untuk menjauhi perilaku Firaun dan tidak mewarisinya. Jika dalam skala kecil, perangai Firaun ada yang “turun” kepada hamba. Jika itu memang ada tentu hamba haruslah berupaya untuk “bertobat” sebelum terlambat. Jangan sampai bernasib seperti Firaun yang sadar dan berobat pada detik-detik terakhir sebelum ruh meninggalakan jasad. Mari kita berupaya untuk tidak terlambat seperti Firaun.
Sikap Firaun yang baru bertobat ketika maut menjemput bukanlah sekadar kisah sejarah tentang tenggelamnya seorang penguasa tiran di Laut Merah. Kisah itu sebuah peringatan agung tentang bahaya ghurur (tertipu oleh dunia). Dalam Al-Qur’an, Allah SWT merekam bagaimana puncak kesombongan Firaun membuatnya menolak kebenaran secara terang-terangan. Seperti dinukilkan dalam firman Allah SWT, “Wahai para pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS Al-Qasas [28]: 38). Kesombongan inilah yang menutup pintu hidayah baginya hingga detik-detik kehancurannya tiba.
Sosok fisik Firaun tersimpan selama ribuan tahun lalu. Hal itu menjadi pembelajaran bagi umat manusia. Esensi sifatnya yang berupa kezaliman, kesombongan, merasa paling berkuasa, dan suka menindas yang lemah terus dimewarisi zaman. Sisa-sisa karakter ini dapat kita saksikan dalam kehidupan modern, mulai dari penyalahgunaan kekuasaan, kesewenang-wenangan pemimpin korup, hingga individu yang menindas sesama demi ambisi duniawi. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki potensi keburukan jika tidak dibimbing oleh iman. Sabda Nabi SAW dalam sebuah hadis sahih, “Jalankanlah takwa kepada Allah di mana pun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi).
Islam adalah agama yang sangat luas rahmatnya, yang senantiasa membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi hamba yang ingin kembali kepada-Nya. Berbeda dengan nasib Firaun yang taubatnya ditolak karena diucapkan saat sakaratul maut, orang yang bertaubat di masa sehat dan lapang akan diterima oleh Allah SWT. Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa taubat yang hakiki mensyaratkan penyesalan yang mendalam, meninggalkan kemaksiatan seketika, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Allah SWT menegaskan, “Sesungguhnya tobat yang pasti diterima Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Merekalah yang Allah terima tobatnya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Tidaklah tobat itu (diterima Allah) bagi orang-orang yang melakukan keburukan sehingga apabila datang ajal kepada seorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, ‘Saya benar-benar bertobat sekarang.’ Tidak (pula) bagi orang-orang yang meninggal dunia, sementara mereka di dalam kekufuran. Telah Kami sediakan azab yang sangat pedih bagi mereka.” (QS An-Nisa [4]: 17-18). Tobat itu hanya diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena kebodohan, kemudian segera bertaubat, dan taubat itu tidak berlaku bagi orang yang melakukan kejahatan hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, ia berkata, “Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.”
Penolakan taubat Firaun dan orang-orang yang menyerupainya saat sakaratul maut memiliki hikmah teologis yang mendalam. Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, menjelaskan bahwa taubat pada saat nyawa sudah berada di tenggorokan (al-ghar-gharoh) tidak lagi bernilai iman yang Ikhlas. Hal itu merupakan bentuk keterpaksaan karena saksi mata kepedihan azab telah nyata di depan mata. Iman dan taubat yang sah adalah yang didasari oleh ghaib (keimanan kepada yang belum kasat mata). Seorang hamba memilih tunduk kepada Allah atas kesadaran akal dan nuraninya, bukan karena sudah tidak ada pilihan lain.
Pelajaran terbesar dari kisah Firaun adalah bahaya sikap taswif (menunda-nunda taubat dan amal saleh). Seringkali hamba terjebak dalam ilusi bahwa hidup masih panjang, sehingga mereka terus melanggengkan dosa dengan asumsi “nanti tua baru tobat“. Padahal, kematian datang tanpa pernah mengetuk pintu terlebih dahulu. Hasan al-Bashri, seorang tabi’in yang masyhur dengan kezuhudannya, pernah menasihati umat manusia dengan perkataan penuh hikmah: “Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda amal kebaikan dan taubatmu hingga esok hari, karena hari esok belum tentu menjadi milikmu.”
Selain kezaliman dalam skala besar seperti kekuasaan tiran, sifat “Firaun kecil” juga bisa menyusup ke dalam diri hamba secara tidak sadar. Sifat egois, menolak kritik, merasa paling benar, mendzolimi keluarga, atau mengambil hak orang lain adalah bentuk-bentuk kecil dari watak Firauniah. Ketika teguran nurani atau nasihat agama datang kepada kita, hendaknya kita tidak bersikap defensif seperti Firaun yang menolak peringatan Nabi Musa AS. Evaluasi diri (muhasabah) setiap malam sebelum tidur adalah kunci utama untuk membersihkan hati dari noda-noda kesombongan tersebut.
Untuk tidak bernasib seperti Firaun, setiap hamba mukmin harus senantiasa melakukan hijrah ruhani yakni berpindah dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan. Hijrah ini menuntut keberanian untuk memutus rantai kebiasaan buruk yang selama ini dipelihara. Sebagaimana firman Allah SWT, “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'” (QS Az-Zumar [39]: 53) Ayat ini menjadi mercusuar harapan bahwa selagi masih bernapas di bumi, pintu ampunan Allah masih terbuka luas asalkan kita tidak menunggu sampai ajal menjemput.
Sebagai manusia biasa yang lemah dan mudah khilaf, benteng terbaik untuk menghindari kesombongan gaya Firaun adalah dengan memperbanyak istighfar dan doa memohon keteguhan hati. Rasulullah SAW, yang seorang maksum (terjaga dari dosa), bahkan senantiasa beristighfar kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari. Mengamalkan doa-doa pelindung dari sifat sombong dan ujub, serta senantiasa mendekatkan diri kepada para ulama dan majelis ilmu, akan menjaga nurani kita agar tetap peka terhadap kebenaran dan cepat merasa bersalah saat melakukan kesalahan.
Kisah tragis Firaun di akhir hayatnya bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia merupakan cermin pengingat yang sangat tajam bagi seluruh umat manusia. Terlambat menyadari kesalahan hingga detik-detik kematian adalah sebuah kerugian abadi yang tidak dapat ditarik kembali. Oleh karena itu, marilah kita mengambil ibrah yang mendalam untuk senantiasa melembutkan hati, menyegerakan taubat dari segala khilaf, menanggalkan segala bentuk kesombongan, dan memohon kepada Allah SWT agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah yakni jauh dari nasib nahas yang dialami oleh Firaun dan bala tentaranya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Padang, 3 Oktober 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman pribadi serta hasil simakan terhadap fenomena perilaku insan pada kurun terkahir ini.