HAMBA HABISKAN WAKTU UNTUK APA?

Oleh Zulkarnaini Diran

Suatu pagi saya menerima pesan whatsapp dari seorang teman. Isinya menyatakan bahwa dia telah memasuki usia pensiun. Hal itu telah berlangsung lebih kurang enam tahun. Saat pensiun itu dia benar-benar menikmatinya. Waktunya dihabiskan untuk “menyenang-nyenangkan hati”. Hobi selama ini benar-benar tersalurkan. Tentu saja saya turut berbahagia membaca pesannya itu. “Saya benar-benar menikmati masa pensiun ini, Mamak,” katanya di dalam pesan tertulis itu.

Pada bagian akhir pesan, ia menyampaikan kegiatan hariannya. Usai salah subuh dia sarapan. Kemudian jalan kaki lebih kurang satu kilometer. Sekalian terus ke warung tempat berkumpul dengan teman-teman. Sambil menikmati minuman kesukaan, di warung itu dia main domino dan sebagainya. Hal itu dilakukan sampai menjelang Zuhur. Usai Zuhur istirahat sampai selesai Asyar, kemudian ke warung lagi dengan berbagai kegiatan seperti main domino, main koa, karaoke, dan sebagainya. Hal itu dilakukan sampai menjelang Magrib. Usai salat Isya, ke warung lagi dengan kegiatan yang rada-rada sama. Kadang-kadang pulang larut malam. Paling cepat sampai di rumah pukul dua puluh tiga, adakalanya sampai pukul duapuluh empat. Begitu teman ini bercerita.

Saya sungguh kaget membaca agenda harian sahabat ini. Hari-harinya dihabiskan untuk bermain di warung. Sebagai orang yang juga pensiunan saya mulai menimbang-nimbang diri. Merefleksi kegiatan yang dilakukan. Dibandingkan dengan sahabat ini, masa pensiun saya jauh lebih lama, empatbelas tahun lebih. Rasanya saya belum mampu menikmati masa pensiun dengan “menyenang-nyenangkan hati” seperti sahabat yang mengirim pesan ini. Tentu tidak ada pula kewenangan saya untuk membandingkan penggunaan waktu saya dengan sahabat ini. Saya lebih kaget lagi kemudian, karena sepekan setelah kami berkomunikasi itu, sahabat ini dipanggil oleh Allah SWT menghadap ke haribaannya. Innalilahi wa innailaihi rajiun.

Peristiwa itu membuat saya termenung dan membatin. Saya benar-benar melakukan koreksi terhadap diri. Pertanyaan yang saya ulang-ulang tiap hari, bahkan belasan kali tiap hari adalah, “Hamba habiskan waktu untuk apa?” Pertanyaan itulah yang saya carikan jawabannya. Saya mendalami kembali eksistensi manusia di muka bumi ini. Allah SWT berfirman, “Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, mlainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS Az-Zuriyat [51]: 56). Itulah alasan Allah menjadikan hamba, hanya untk beribadah kepada-Nya. Kalau demikian, semua waktu yang disediakan dan difasilitasi oleh Allah SWT ini “wajib” hamba gunakan untuk beribadah. “Apakah hamba sudah melakukan itu?” Itulah pertanyaan yang menyusul setelah pertanyaan sebelumnya.

Firman Allah SWT kembali menjadi penguat renungan hamba yakni, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-Ashr [103]: 1,2,3). Ayat ini menggiring hamba untuk merenung lebih dalam. Selama empat belas tahun ini, termasuk manusia merugikah hamba? Tentu jawabnya bisa ya dan bisa tidak. Jika dalam rentangan waktu itu hamba beriman, beramal saleh, saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran, tentu tidak dan insyaallah tidak termasuk manusia yang merugi. Akan tetapi, jika waktu dihabiskan seperti cerita “ilustrasi” teman saya itu, rasanya memang termasuk merugi, karena waktu dihabiskan bukan untuk hal-hal yang bernilai “amal saleh”.

Kisah tragis ini sarat hikmah. Sang sahabat yang wafat tak lama setelah menceritakan rutinitasnya di warung membuka mata kita bahwa waktu bukanlah sekadar deretan angka di jam. Waktu adalah modal paling berharga yang diberikan Sang Pencipta. Dalam pandangan Islam, waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban secara ketat. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang empat perkara, salah satunya adalah “tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya.” Ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam berbagai karyanya sering menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu jauh lebih berbahaya daripada kematian, karena kematian hanya memutuskan hubungan seseorang dengan dunia, sementara menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan hamba dengan akhirat dan rida Allah SWT.

Ketika Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 56 bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah, para mufassir dan ulama menegaskan bahwa ibadah di sini memiliki makna yang sangat komprehensif. Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ibadah mencakup segala bentuk amal saleh, kepedulian sosial, pengembangan diri, hingga pekerjaan yang diniatkan untuk mencari rida Allah. Mengisi masa pensiun dengan bersilaturahmi, menjaga kesehatan tubuh melalui jalan kaki, atau menikmati hobi yang mubah tentu tidak dilarang dalam agama. Namun, ketika aktivitas tersebut mendominasi seluruh sisa usia tanpa diselingi dengan amal yang bernilai ukhrawi—seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, menebar manfaat bagi sesama, atau memakmurkan masjid—maka esensi penciptaan manusia sebagai hamba yang produktif menjadi tereduksi dan kehilangan arah spiritualnya.

Rutinitas menghabiskan waktu berjam-jam di warung hanya untuk bermain domino atau kegiatan hiburan yang melalaikan tanpa batas sering kali menjerumuskan seseorang ke dalam penyakit hati yang disebut al-ghaflah (kelengahan). Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin memperingatkan bahwa hati manusia sangat mudah berkarat manakala disibukkan oleh hal-hal yang sia-sia (laghwun). Dunia sering kali menipu manusia dengan melenyapkan kesadaran akan dekatnya kematian. Sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib RA, pernah berpesan bahwa dunia sedang berjalan meninggalkan kita, sementara akhirat sedang berjalan menyongsong kita, dan setiap dari keduanya memiliki anak-anak (pengikut) masing-masing. Menjadikan hari-hari tua sekadar sebagai tempat “menyenangkan hati” secara materialistis dikhawatirkan membuat seorang hamba menjadi asing dari “anak-anak akhirat”.

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan di masa pensiun identik dengan ketiadaan beban kerja dan kebebasan mutlak untuk bersenang-senang. Padahal, psikolog muslim kontemporer serta para sufi sepakat bahwa ketenangan jiwa (thuma’ninah) yang hakiki justru lahir dari kedekatan kepada Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan, “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hatimu menjadi tenteram.”  (QS Ar-Ra’ad [13]: 28). Masa pensiun yang merupakan fase akhir dari perjalanan hidup seharusnya menjadi momentum keemasan untuk memperbanyak muhasabah (introspeksi diri), memperkuat kualitas ibadah sunnah, dan mempersiapkan bekal kepulangan menghadap Sang Khaliq. Jika di masa muda waktu banyak tersita oleh urusan duniawi dan pekerjaan, maka masa tua adalah saat terbaik untuk melunasi “hutang-hutang spiritual” kepada Allah.

Islam sangat menganjurkan agar sisa umur diisi dengan produktivitas moral dan sosial yang berkelanjutan. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya” (HR Tirmidzi). Keberhasilan seorang Muslim di ujung usianya bukan diukur dari seberapa banyak ia menikmati permainan dunia, melainkan dari seberapa besar jejak kebaikan dan amal jariyah yang ia tinggalkan. Teolog kontemporer Yusuf Al-Qaradawi dalam pandangannya tentang waktu menekankan bahwa setiap tarikan napas di masa senja adalah kesempatan emas untuk bertaubat, menebus kekhilafan masa lalu, serta menjadi teladan bagi generasi yang lebih muda melalui nasihat-nasihat yang bijak dan penuh kesabaran.

Tentu saja, Islam tidak menuntut seseorang untuk beribadah ritual tanpa henti hingga mengabaikan hak fisik dan psikologis diri sendiri. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW pernah menegur sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash yang beribadah sepanjang malam dan berpuasa sepanjang hari hingga mengabaikan hak tubuh dan keluarganya, dengan sabda, “Sesungguhnya dirimu mempunyai hak atasmu.” Keseimbangan (tawazun) adalah kunci. Menikmati hobi atau berkumpul dengan kerabat adalah hal yang diperbolehkan selama berada dalam koridor syariat dan tidak melalaikan kewajiban utama. Yang dikritisi dalam renungan ini bukanlah rekreasi itu sendiri, melainkan orientasi hidup yang hampa dari tujuan ukhrawi dan orientasi pemanfaatan waktu yang dibiarkan mengalir tanpa kendali iman.

Pertanyaan reflektif “Hamba habiskan waktu untuk apa?”, sejatinya harus menjadi alarm harian bagi setiap insan yang menyadari bahwa usianya terus berkurang. Umar bin Khattab RA pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang.” Refleksi ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang cerdas bukanlah mereka yang menghabiskan waktu untuk melupakan kematian, melainkan mereka yang mengingat kematian dan mempersiapkan amal terbaik untuk menghadapinya. Setiap detik yang berlalu adalah mutiara tak ternilai yang jika dibiarkan jatuh ke dalam kesia-siaan, tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan seluruh kekayaan dunia.

Jadi, masa pensiun bukanlah garis finish untuk berhenti berbuat kebajikan, melainkan babak baru yang lebih fokus untuk merajut hubungan mesra dengan Allah SWT. Kisah wafatnya sang sahabat di tengah rutinitas permainan warung menjadi pelajaran berharga (ibrah) agar kita senantiasa waspada terhadap jebakan kelengahan waktu. Dengan berpedoman pada Al-Qur’an, Sunnah, serta petunjuk para ulama, kita diajak untuk memastikan bahwa sisa umur yang dianugerahkan tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-Ashr. Semoga di sisa usia ini, setiap detik waktu yang kita miliki senantiasa bernilai ibadah, amal saleh, dan membawa keselamatan dunia hingga akhirat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 05 Oktober 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman bermuhasabah serta hasil simakan terhadap fenomena yang terlihat sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *