Oleh Zulkarnaini Diran

Al-Qur’anul Karim adalah pedoman hidup yang sempurna. Kitab ini tidak hanya memberikan petunjuk tentang ibadah dan akidah, tetapi juga meneguhkan keimanan manusia terhadap sifat-sifat keagungan Allah SWT. Salah satu pertanyaan retoris yang menggugah jiwa dan meneguhkan akidah terdapat dalam firman Allah itu, “Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. Al-Tin: 8). Ayat penutup ini berfungsi sebagai penegasan mutlak bahwa seluruh ketetapan, hukum, dan pembalasan kelak di akhirat berada di tangan Zat yang Maha Sempurna dalam keadilan-Nya, tanpa ada keraguan sedikit pun bagi orang-orang yang beriman.
Keadilan Allah SWT bukanlah keadilan yang bersifat relatif atau dipengaruhi oleh kepentingan duniawi sebagaimana keadilan manusia. Dalam pandangan Islam, keadilan Allah mencakup seluruh aspek penciptaan, pemeliharaan, hingga penetapan hukum di dunia dan di akhirat. Konsep keadilan ilahi ini didasarkan pada kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang bersih dari kezaliman, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya” (QS. Fussilat: 46). Ayat ini mengukuhkan bahwa setiap takdir, ujian, maupun ketetapan yang diberikan kepada hamba-Nya selalu berpijak pada kebijaksanaan dan keadilan yang utuh.
Sebagai penguat terhadap makna keadilan Allah SWT, Sunnah Rasulullah SAW juga memberikan penjelasan yang sangat mendalam melalui sabda-sabda beliau. Di antara dalil hadis yang masyhur mengenai keadilan dan sifat kasih sayang Allah adalah hadis qudsi Abu Dzar al-Ghifari ra., Allah SWT berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa keadilan adalah esensi dari sifat-sifat Allah, Dia sama sekali tidak pernah berbuat zalim kepada makhluk-Nya, bahkan Dia melarang perbuatan zalim tersebut di antara sesama manusia.
Lebih lanjut, dalam lembaran sejarah dan hadis-hadis tentang hari kiamat, Rasulullah SAW juga menggambarkan bagaimana pengadilan Allah di akhirat kelak ditegakkan dengan sangat presisi. Sabda Nabi SAW menegaskan bahwa kelak pada hari kiamat, hak-hak setiap makhluk akan dikembalikan kepada yang berhak, bahkan sampai-sampai domba yang tidak bertanduk akan diberi keadilan dari domba yang bertanduk (HR. Muslim). Hadis ini menggambarkan betapa detail, teliti, dan sempurnanya pengadilan Allah SWT, sehingga tidak ada satu pun kezhaliman sekecil apa pun di dunia yang luput dari perhitungan-Nya di hari pembalasan.
Para ulama salaf dan khalaf turut memberikan penjelasan yang luar biasa luas mengenai makna keadilan Allah SWT dalam karya-karya tafsir mereka. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim ketika menafsirkan Surah Al-Tin ayat 8 menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung makna penutup yang agung: tidakkah Zat yang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan memberikan berbagai kenikmatan mampu untuk mengembalikan mereka dan menegakkan pengadilan yang adil antara orang yang zhalim dan yang dizhalimi? Para ulama sepakat bahwa Allah adalah Hakim Yang Maha Adil karena keputusan-Nya didasarkan atas ilmu yang meliputi segala sesuatu, hikmah yang mendalam, serta kasih sayang yang luas.
Pendapat ulama tauhid, seperti yang dijabarkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqshad al-Asna, juga menegaskan bahwa keadilan Allah SWT adalah keadilan yang sempurna karena tidak ada paksaan bagi-Nya dan tidak ada pula motif kepentingan pribadi. Jika manusia terkadang berlaku tidak adil karena didorong oleh hawa nafsu, kebodohan, atau keterbatasan pengetahuan, maka Allah SWT Mahasuci dari segala kekurangan tersebut. Keadilan-Nya senantiasa berjalan beriringan dengan rahmat-Nya, Dia melipatgandakan pahala kebaikan hamba-Nya dan membalas keburukan secara proporsional atau bahkan memaafkannya dengan ampunan-Nya.
Hikmah yang dapat dipetik dari pemahaman mendalam mengenai Surah Al-Tin ayat 8 ini adalah tumbuhnya ketenteraman jiwa di dalam hati setiap mukmin. Ketika seseorang melihat berbagai ketidakadilan di dunia yang terkadang lolos dari hukum buatan manusia, keimanan kepada Allah sebagai Hakim yang Paling Adil akan menjadi penawar dan sandaran utama. Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun tetesan air mata orang yang teraniaya atau amal saleh yang terabaikan di dunia melainkan pasti akan mendapatkan balasan yang seadil-adilnya di hadapan mahkamah ilahi kelak.
Sebagai kesimpulan, pertanyaan retoris “Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” dalam QS. Al-Tin: 8 merupakan mercusuar keimanan yang mengingatkan kita bahwa seluruh perjalanan hidup manusia bermuara pada pengadilan yang mutlak. Dengan berpedoman pada ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis shahih Rasulullah SAW, serta penjelasan para ulama, kita semakin yakin bahwa Allah SWT adalah Zat yang Maha Sempurna dalam keadilan-Nya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap muslim menjalani hidup dengan senantiasa berbuat kebajikan, menjauhi kezaliman, serta meletakkan harapan penuh hanya kepada keadilan Allah SWT. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 1 November 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan dimotivasi oleh Prof. Anas Yasin, guruku di Pascasarjana IKIP Padang.