AYAH JANGAN TERLALU BERHARAP

Oleh Zulkarnaini Diran

“Jangan terlalu berharap kebaikan dari anak-anak jika ayah tidak memberikan teladan akhlak kepada mereka”, ungkap orang bijak. Anak-anak sejak dini belajar melalui perilaku ayahnya. Kebiasaan dan tampilan pribadi ayah akan meresap ke dalam jiwanya. Hal itulah yang diresponnya dalam kenyataan hidup sehari-hari. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At-Tahrim [66]: 6) Ini artinya, bapak harus membenahi dirinya lebih dahulu, barulah dia membenahi keluarganya. Pada saat ayah tidak dapat memberikan contoh akhlak yang baik, benar, dan utuh kepada anak-anaknya, tentu jangan lah berharap banyak melihat kebaikan dari mereka.

Keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi seorang anak. Dalam struktur keluarga, sosok ayah memegang peranan penting sebagai nahkoda yang menentukan arah dan corak kepribadian anak-anaknya. Ungkapan bijak yang menyatakan “Jangan terlalu berharap kebaikan dari anak-anak jika bapak tidak memberikan teladan akhlak kepada mereka” menyadarkan kita bahwa moralitas anak tidak tumbuh secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari proses penyerapan tanpa sadar yang terjadi di lingkungan rumah setiap hari.

Secara psikologis, anak-anak memiliki kecenderungan bawaan untuk mengamati dan meniru orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Albert Bandura, seorang tokoh psikologi pendidikan terkenal melalui Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), menyatakan bahwa sebagian besar perilaku manusia dipelajari secara observasional melalui pemodelan (modeling). Ketika seorang ayah menunjukkan integritas, kejujuran, dan kasih sayang, anak akan merekamnya sebagai standar hidup. Sebaliknya, inkonsistensi sikap pada ayah akan membingungkan jiwa anak yang sedang bertumbuh.

Pesan dari firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim [66]: 6). Ayat ini memberikan isyarat metodologis yang sangat jelas. Pembenahan harus dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik) sebelum seseorang berupaya memperbaiki orang lain, termasuk istri dan anak-anaknya. Seorang ayah tidak dapat mengajarkan kejujuran jika ia sendiri kerap berdusta di hadapan keluarganya.

Perintah untuk memperbaiki diri sebelum mendidik orang lain telah ditegaskan oleh para sahabat dan ulama salaf. Khalifah Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan agar seseorang mendidik dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum mencoba mendidik orang lain melalui lisan, karena keteladanan perbuatan jauh lebih membekas daripada sekadar ucapan. Senada dengan hal itu, Ibnu Khaldun dalam kitab mukaddimahnya juga menekankan bahwa watak dan kebiasaan anak sangat dipengaruhi oleh figur otoritas terdekat yang mereka saksikan setiap hari.

Dalam dunia modern, peran ayah sering kali direduksi sebatas pencari nafkah materi semata. Padahal, anak-anak membutuhkan kehadiran figur ayah secara emosional dan spiritual. Rasulullah SAW adalah teladan utama (uswatun hasanah), bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari). Kepemimpinan seorang ayah di dalam rumah tangga diuji dari caranya membimbing keluarganya menuju ridha Allah SWT melalui akhlak mulia.

Ketika seorang ayah gagal menampilkan akhlak yang baik, utuh, dan benar, anak-anak cenderung mengalami krisis identitas moral. Prof. Dr. Thomas Lickona, seorang pakar pendidikan karakter, menyatakan bahwa karakter tidak diajarkan melalui ceramah semata, melainkan melalui penularan nilai (values transmission) yang hidup. Jika ayah bersikap kasar, egois, atau tidak amanah, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sinis, memberontak, atau bahkan kehilangan rasa hormat yang esensial bagi pembentukan kepribadian mereka.

Kritik tajam sering kali muncul ketika orang tua menuntut anak-anaknya untuk berperilaku jujur, disiplin, dan santun, sementara mereka sendiri mengabaikan nilai-nilai tersebut. Al-Qur’an secara tegas mengecam sikap inkonsisten ini, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Saf [66]: 2–3). Ayat ini menjadi pengingat keras bagi para ayah agar menyelaraskan perkataan dan perbuatan.

Pakar pendidikan anak modern sepakat bahwa parenting berbasis keteladanan (keteladanan mutlak) jauh lebih efektif dibandingkan parenting berbasis instruksi verbal. Dr. Zakaria Al-Banna dalam kajian pendidikan Islam menegaskan bahwa jiwa anak laksana spons bersih yang menyerap segala cairan di sekitarnya. Jika cairan yang diserap adalah air keteladanan yang jernih, maka anak akan tumbuh menyegarkan. Namun, jika yang diserap adalah perilaku buruk, maka buah yang dihasilkan pun akan pahit.

Hukum alam (sunnatullah) berlaku dalam hubungan orang tua dan anak: apa yang ditanam, itulah yang akan dituai. Mengharapkan anak-anak yang berbakti, santun, dan bertanggung jawab tanpa pernah menanamkan nilai-nilai tersebut melalui contoh nyata adalah sebuah angan-angan kosong. Oleh karena itu, wajarlah agar ayah tidak terlalu berharap muluk-muluk terhadap kebaikan anak jika fondasi keteladanan dari sang ayah tidak pernah hadir di rumah, di tengah-tengah anak-anak dan istrinya.

Bagi para ayah yang merasa selama ini kurang memberikan teladan yang utuh, pintu perbaikan belum tertutup. Proses introspeksi diri (muhasabah) dapat dimulai hari ini juga. Meminta maaf kepada anak atas kekeliruan di masa lalu, memperbaiki komunikasi, serta membiasakan diri bersikap adil, jujur, dan penuh kasih sayang di dalam rumah adalah langkah awal yang sangat dihargai dalam pandangan Islam maupun psikologi perkembangan anak.

Jadi, mendidik anak bukanlah sekadar membebankan aturan, melainkan sebuah perjalanan panjang menghadirkan diri sebagai teladan yang hidup. Keteladanan akhlak seorang ayah adalah kunci utama yang membuka pintu kebaikan pada jiwa anak-anaknya. Hal itu  diperintahkan dalam Surah At-Tahrim ayat 6 untuk menjaga keluarga dari kehancuran moral. Tanpa adanya konsistensi antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang dicontohkan, harapan untuk melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang saleh dan berakhlak mulia hanya akan menjadi sebuah asa yang jauh dari kenyataan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 31 Oktober 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman sebagai bapak dan hasil simakan terhadap kondisi ril di tengah-tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *