Oleh Zulkarnaini Diran

Allah SWT mengundang jiwa yang tenang untuk masuk ke surga-Nya. Jiwa yang tenang muaranya ke surga. Undangan Allah kepada jiwa yang tenang itu termaktub di dalam Al-Quran, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS Fajar [89]: 27,28,29,30)
Jiwa adalah kehidupan hamba. Tanpa jiwa kehidupan tidak akan ada. Jiwa itu sendiri memiliki karakter multidimensi. Adakalanya jiwa itu memang tenang, tenteram, dan damai. Pada waktu dan tempat lain ia gundah, gelisah, dan tidak tenteram. Oleh karena itu, hamba harus bejuang, berupaya, dan istiqamah untuk memelihara jiwa agar tetap tenang. Hal itu ada kaitannya dengan “undangan” Allah SWT. Hanya jiwa yang tenanglah yang diundang-Nya untuk masuk bersama hamba yang lain ke dalam surga. Ada empat upaya dapat dilakukan hamba agar jiwa tetap tenang. Keempat upaya itu adalah berzikir, mendirikan salat, berinfaq, dan mendatangi pusat taklim.
Hal ini membuka sebuah permenungan mendalam mengenai esensi eksistensi manusia, khususnya perjalanan spiritual jiwa menuju hadirat Allah SWT. Undangan Ilahi yang termaktub dalam Surah Al-Fajr ayat 27 sampai 30 bukan sekadar janji eskatologis di akhirat, melainkan sebuah peta jalan bagi kehidupan hamba di dunia. Jiwa yang tenang (an-nafs al-mutmainnah) adalah maqam tertinggi yang menjadi dambaan setiap mukmin, karena pada maqam inilah keridaan timbal balik antara Sang Pencipta dan makhluk tercapai secara paripurna.
Secara ontologis, konsep jiwa atau nafs dalam pandangan Islam memiliki dimensi yang sangat kompleks dan dinamis. Al-Quran merekam dinamika kejiwaan manusia ke dalam tiga tingkatan utama yang saling bertransformasi. Pertama, an-nafs al-ammarah bi as-su’, yaitu jiwa yang cenderung dan aktif mendorong pemiliknya kepada keburukan serta memperturutkan hawa nafsu syahwat. Kedua, an-nafs al-lawwamah, yakni jiwa yang mulai sadar, senantiasa mencela dirinya sendiri ketika berbuat salah, dan memiliki nurani penyesalan. Ketiga, an-nafs al-mutmainnah, yaitu jiwa yang telah mencapai ketenteraman, kedamaian, dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT.
Puncak dari evolusi spiritual tersebut adalah jiwa yang tenang, yang diistilahkan oleh para ulama tasawuf sebagai jiwa yang telah disucikan dari penyakit-penyakit hati (tazkiyatun nafs). Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ketenangan jiwa lahir dari makrifatullah, yakni pengenalan yang mendalam kepada Allah, sehingga hati menjadi sandaran yang kokoh dan tidak mudah goyang oleh badai duniawi. Ketika seseorang mencapai tingkat ini, dunia di tangannya, bukan di dalam hatinya, sehingga ketenteraman hakiki senantiasa menyelimuti relung batinnya.
Dinamika kehidupan dunia yang penuh dengan ketidakpastian sering kali mengguncang stabilitas jiwa manusia. Ia menjatuhkannya ke dalam jurang kegelisahan dan kecemasan eksistensial. Oleh karena itu, ikhtiar untuk merawat dan memelihara ketenangan jiwa merupakan kewajiban mutlak yang harus diperjuangkan secara istiqamah. Untuk meraih derajat jiwa yang tenang, seorang hamba membutuhkan amalan-amalan konkret yang berfungsi sebagai nutrisi rohani sekaligus penawar bagi kegelisahan batin.
Upaya pertama yang fundamental dalam menjaga ketenangan jiwa adalah senantiasa berzikir kepada Allah SWT. Zikir berfungsi sebagai jangkar spiritual yang mengikat kesadaran hamba kepada Sang Maha Kuasa di tengah gelombang kesibukan dunia. Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS Ar-Ra’ad [13]: 28) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa hati yang gundah hanya akan menemukan kedamaian hakiki ketika ia kembali mengingat keagungan, kasih sayang, dan kekuasaan Allah.
Ikhtiar kedua yang tidak kalah penting adalah mendirikan salat secara khusyuk dan konsisten. Salat bukan sekadar ritual fisik gerakan harian, melainkan mi’raj ruhani yang menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalam salat, manusia menumpahkan segala keluh kesah, memohon petunjuk, dan merasakan kehadiran Ilahi yang menenangkan. Allah berfirman, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji and mungkar.” (QS Al-Ankabut [29]: 45) Para ulama teolog menegaskan bahwa salat yang ditegakkan dengan penghayatan mendalam akan melahirkan ketenangan jiwa (sakinah), karena ia memberikan jeda bagi jiwa untuk melepaskan diri dari materialisme dunia.
Upaya ketiga untuk memelihara jiwa yang tenang adalah dengan berinfaq dan berbagi kepada sesama. Sifat kikir dan kecintaan yang berlebihan terhadap harta sering kali menjadi akar dari kegelisahan batin manusia akibat rasa takut kehilangan. Dengan berinfaq, seorang hamba membersihkan jiwanya dari penyakit ketamakan dan menumbuhkan rasa empati sosial. Allah SWT berfirman, “Dan siapa yang dipelihara dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Tagabun [64]: 16) Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyatakan bahwa kedermawanan meluaskan dada dan melapangkan hati, sehingga jiwa merasa kaya, damai, dan jauh dari rasa iri serta dengki.
Langkah keempat yang diajukan untuk merawat ketenangan jiwa adalah mendatangi pusat taklim atau majelis ilmu. Majelis ilmu adalah taman-taman surga di dunia yang menghadirkan pencerahan akal dan keteduhan hati melalui pemahaman agama yang lurus. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengerumuni mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim) Menuntut ilmu agama membentengi jiwa dari kebodohan dan keraguan yang kerap memicu stres spiritual.
Sinergi dari keempat upaya tersebut—berzikir, mendirikan salat, berinfaq, dan mendatangi majelis ilmu—membentuk sebuah ekosistem rohani yang kokoh bagi seorang mukmin. Ketika keempat amalan ini dilakukan secara berkesinambungan, jiwa yang tadinya labil, mudah cemas, dan dikuasai hawa nafsu akan berangsur-angsur bertransformasi menjadi jiwa yang tenang. Proses ini memerlukan kesabaran, mujahadah (kesungguhan), dan doa yang tulus agar Allah senantiasa membimbing langkah hamba-Nya di atas jalan yang diridai-Nya.
Jadi, undangan Allah SWT kepada jiwa yang tenang (an-nafs al-mutmainnah) untuk memasuki surga-Nya merupakan puncak penghargaan tertinggi bagi hamba yang berhasil menaklukkan hawa nafsunya di dunia. Hal ini mengingatkan hamba bahwa ketenangan jiwa bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan, melainkan hasil dari perjuangan spiritual yang konsisten. Dengan senantiasa berzikir, mendirikan salat, berinfaq, serta menghadiri majelis ilmu, seorang hamba tidak hanya sedang merawat kedamaian batinnya di dunia, tetapi juga sedang mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan mulia pulang ke hadirat Allah dalam keadaan rida dan diridai. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 7 November 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan proses atau upaya hamba sehari-hari dalam mempersiapan diri dengan menenangkan jiwa menunggu waktu undaangan-Nya.