Oleh Zulkarnaini Diran

Allah SWT memuji hamba-hamba yang menyucikan jiwa. Penegasan itu terdapat di dalam Al-Quran, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS Asy-Syam [91]:9) Pujian Allah itu tentu bukanlah sekedar berita gembira bagi hamba, tetapi merupakan motivasi yang dapat dijadikan bahan renungan. Renungan utama yang dilakukan adalah melakukan muhasabah atau introspeksi diri. “Sudahkan hamba termasuk orang yang berhak mendapat pujian dari Allah SWT?” Perenungan ini akan membawa diri ke dalam aktifitas mengoreksi diri sendiri secara intesif dan terus-menerus.
Banyak aktifitas individu yang mengotori jiwa. Pengeotoran itu kadangkala disadari dan tidak disadari. Jika hal itu disadari tentu hamba akan segera mengubahnya, memperbaikinya, dan bertobat kepada Allah. Salah satu perilaku yang mengotori jiwa adalah “suka mencela”. Mencela selain merusak diri sendiri dalam bentuk mengotori jiwa, juga dapat merusak ekologi sosial di tengah-tengah masyarakat. Kerusakan parah itu benar-benar akan menjadikan jiwa semakin kotor. Pada saat itulah hamba tidak termasuk golongan yang “dipuji” oleh Allah seperti kutipan ayat di atas.
Tulisan mengajak kita membuka kesadaran bahwa kebersihan rohani merupakan fondasi utama dalam meraih keberuntungan hakiki di sisi Allah SWT. Penekanan Al-Quran melalui Surah Asy-Syam ayat 9 menegaskan bahwa orientasi hidup seorang mukmin seharusnya bermuara pada upaya penyucian diri (tazkiyatun nafs). Ketika seorang hamba lalai dan membiarkan lisannya terbiasa mencela, ia tidak hanya sedang merusak tatanan sosial, tetapi juga menodai kemurnian nuraninya sendiri.
Konsep jiwa yang suci atau nafs zakiyyah merujuk pada jiwa yang telah dibersihkan dari segala bentuk kotoran batin, syirik, sifat tercela, serta penyakit hati seperti dengki, riya, dan ujub. Dalam perspektif Islam, jiwa yang suci bukanlah jiwa yang tanpa kelemahan, melainkan jiwa yang senantiasa kembali kepada Allah melalui tobat dan amal saleh. Al-Quran menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan mematuhi Allah), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS Al-A’la [87]: 14 dan 15) Ayat ini mengaitkan penyucian jiwa secara langsung dengan kepatuhan vertikal dan ibadah yang konsisten kepada Sang Pencipta.
Para ulama tasawuf, seperti Imam Al-Ghazali dalam karya monumental Ihya’ Ulumuddin, membagi tahapan jiwa menjadi beberapa tingkatan, mulai dari nafs ammarah (jiwa yang condong kepada keburukan), nafs lawwamah (jiwa yang kerap mencela diri atas kelalaiannya), hingga mencapai puncaknya pada nafs muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa yang suci adalah jiwa yang telah berhasil mengendalikan dorongan-dorongan destruktif dari hawa nafsu. Pembersihan ini memerlukan proses mujahadah atau kesungguhan spiritual yang tiada henti, sehingga nurani tetap peka terhadap nilai-nilai kebaikan dan kebenaran ilahi.
Dari sudut pandang psikologi Islam, konsep penyucian jiwa sejalan dengan pembentukan kepribadian yang utuh dan sehat secara mental. Tokoh psikologi Islam seperti Malik Badri dan Muhammad Uthman Najati menjelaskan bahwa kesehatan mental seseorang sangat bergantung pada stabilitas spiritualnya. Jiwa yang kotor oleh dosa dan perilaku destruktif akan menciptakan kecemasan internal, rasa bersalah yang tidak terselesaikan, serta alienasi diri. Sebaliknya, proses tazkiyatun nafs berfungsi sebagai mekanisme pertahanan psikologis yang sehat, membantu individu mencapai kedamaian batin (sakinah) melalui keselarasan antara akal, emosi, dan keyakinan agama.
Perilaku mencela, merupakan salah satu penyakit lisan yang paling merusak kemurnian jiwa. Dalam bahasa Arab, mencela seringkali diasosiasikan dengan tindakan tahqir (merendahkan orang lain), lamz (mencaci), atau ayb (mencari-cari aib). Islam secara tegas melarang perbuatan ini karena mencerminkan kesombongan pelakunya yang merasa lebih baik daripada orang lain. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka…” (QS Al-Hujurat [49]: 11)
Dampak negatif dari kebiasaan mencela sangatlah luas, baik bagi pelaku maupun korban. Secara psikologis, seorang pencela sebenarnya sedang memproyeksikan rasa inferioritas atau ketidakamanan diri yang tersembunyi di balik kritik tajamnya. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa lisan adalah cerminan hati; jika hati dipenuhi dengan iri dan kebencian, maka lisan akan memuntahkan kata-kata celaan. Bagi masyarakat, mencela merusak ekologi sosial dengan memicu permusuhan, memutus tali silaturahmi, dan menghancurkan kepercayaan kolektif yang menjadi perekat persaudaraan umat Islam.
Bahaya mencela ini ditegaskan pula dalam berbagai sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW memperingatkan tentang hakikat orang yang bangkrut di akhirat kelak, yaitu orang yang datang dengan pahala salat, puasa, dan zakatnya, tetapi pernah mencela, menuduh, memakan harta, dan menyakiti orang lain, sehingga pahala kebaikannya habis diberikan kepada korban-korbannya. Hadis ini menjadi pengingat keras bahwa lisan yang tidak dijaga dapat melenyapkan seluruh amal ibadah mahdah yang telah dikumpulkan semasa hidup di dunia.
Untuk keluar dari perangkap kebiasaan mencela, langkah awal yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran diri melalui muhasabah atau introspeksi intensif. Seseorang harus mampu mengalihkan perhatian dari mencari-cari keburukan orang lain kepada mengevaluasi kekurangannya sendiri. Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan bahwa kesibukan seseorang dalam memerhatikan aib dirinya sendiri akan membuatnya terhindar dari mengomentari aib orang lain. Muhasabah ini melatih kepekaan hati agar segera merasa bersalah tatkala lisan mulai terpeleset mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
Langkah strategis berikutnya adalah melatih disiplin diri dalam mengendalikan lisan dan memanfaatkan prinsip diam yang konstruktif. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim). Dengan membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, seseorang dapat memfilter apakah ucapannya mengandung manfaat atau justru sekadar celaan yang sia-sia. Latihan ini memerlukan kesabaran tingkat tinggi karena mengontrol lidah adalah salah satu ujian terbesar dalam pengendalian hawa nafsu manusia.
Selain itu, memperbanyak interaksi dengan lingkungan yang positif dan majelis ilmu turut membantu seseorang menjaga kesucian jiwanya. Pergaulan dengan orang-orang saleh akan memberikan pengaruh baik, menumbuhkan empati, serta mengikis sifat dengki yang sering kali menjadi akar dari perilaku mencela. Ulama salaf senantiasa menganjurkan agar kita senantiasa mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang tidak disukai, sebagai terapi mujarab untuk melembutkan hati yang keras dan menjauhkannya dari penyakit lisan.
Jadi, mencela adalah perilaku destruktif yang tidak hanya merusak hubungan antarmanusia di ruang sosial, tetapi juga mengotori kemurnian jiwa di hadapan Sang Pencipta. Proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) menuntut setiap Muslim untuk senantiasa melakukan muhasabah, menjaga lisan, dan menghiasi diri dengan akhlak mulia sesuai bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Dengan meninggalkan kebiasaan mencela dan menggantinya dengan ucapan yang santun serta penuh kasih sayang, seorang hamba berpeluang besar meraih keberuntungan sejati serta pantas mendapatkan pujian dan ridha dari Allah SWT di dunia maupun di akhirat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakasih!
Padang, 7 November 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan proses upaya untuk senantiasa menyucikan jiwa dengan menghindari prilaku tercela.