Oleh Zulkarnaini Diran

Bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepada hamba adalah “kunci” kebhagaiaan. Ketika selalu bersyukur, hamba merasa cukup atas karunia-Nya. Saat itu jiwa tenang, batin damai, dan hati tenteram pula. Bersyukur satu di antara sekian banyak indikator bahagia. Jika itu terus dilakukan, ia akan terjelma menjadi ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman. Sebaliknya, kegelisahan akan mendera setiap saat, jika hamba tidak atau kurang mensyukuri nikmat Allah SWT. Segalanya terasa kurang, terasa tidak cukup, sehingga kegelisahan, kegundahan, dan kekacauan batin datang mendera dan menerpa. Kebahagiaan itu pun sirna karenanya.
Syukur merupakan salah satu pilar akhlak mulia yang memegang peranan sentral dalam kehidupan seorang mukmin. Rasa syukur adalah kunci utama untuk meraih kebahagiaan hidup. Ketika seseorang mampu menghargai setiap pemberian Sang Pencipta, hatinya akan diliputi oleh perasaan cukup, yang kemudian bermuara pada ketenangan jiwa dan kedamaian batin. Sebaliknya, sikap mengingkari nikmat atau kufur akan mengantarkan seseorang pada lorong kegelisahan yang panjang.
Secara konseptual, syukur bagi seorang mukmin tidak hanya dimaknai sebagai ucapan lisan semata, melainkan manifestasi kesadaran hati dan amal perbuatan. Hakikat syukur adalah pengakuan secara batin bahwa segala nikmat, baik yang kecil maupun yang besar, murni berasal dari Allah SWT. Para ulama mendefinisikan syukur sebagai penggunaan nikmat sesuai dengan tujuan penciptaannya dan rida Sang Pemberi nikmat. Dengan memahami konsep ini, seorang mukmin memandang dunia bukan sebagai tempat penumpukan harta, melainkan sebagai ladang amal untuk mengabdi.
Di sisi lain, konsep kebahagiaan (sa’adah) dalam pandangan Islam memiliki dimensi yang sangat komprehensif. Kebahagiaan hakiki seorang mukmin bukanlah terletak pada tumpukan materi atau tingginya status sosial, melainkan pada ketenteraman qolbu (ithminanul qalbi) yang bersumber dari kedekatan kepada Allah SWT. Kebahagiaan duniawi bersifat sementara dan menipu, sementara kebahagiaan ukhrawi bersifat abadi. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebahagiaan tertinggi adalah ketika seseorang mengenal Allah dan mencintai-Nya, rasa syukur menjadi kendaraan utama yang mengantarkan hamba menuju makrifat tersebut.
Dari sudut pandang psikologi modern, konsep syukur ini ternyata sejalan dengan berbagai temuan ilmiah tentang kesehatan mental. Psikologi positif, seperti yang dikembangkan oleh Robert Emmons dan Michael McCullough, menunjukkan bahwa praktik gratitude (rasa syukur) secara konsisten dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, menurunkan tingkat stres, serta memperbaiki kualitas tidur. Orang yang terbiasa bersyukur cenderung memiliki ketahanan mental (resilience) yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tekanan hidup, karena mereka fokus pada apa yang masih dimiliki, bukan pada apa yang hilang.
Namun, menggapai kebahagiaan melalui syukur tentu memerlukan ikhtiar yang nyata dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Upaya pertama yang dapat dilakukan adalah membiasakan lisan untuk selalu memuji Allah melalui kalimat tahmid atas setiap keadaan. Upaya kedua adalah merenungkan dan menyadari betapa banyak nikmat kecil yang sering kali diabaikan, seperti nikmat kesehatan, waktu luang, dan udara untuk bernapas. Upaya ketiga adalah mempraktikkan syukur secara aplikatif, yakni menggunakan nikmat harta untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan melalui zakat, infak, dan sedekah.
Al-Qur’an secara tegas telah mengingatkan manusia tentang urgensi bersyukur ini dalam berbagai ayatnya. Salah satu ayat yang sangat populer adalah Surah Ibrahim ayat 7, di mana Allah SWT berfirman yang artinya bahwa jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih. Ayat ini menjadi garansi Ilahi bahwa rasa syukur bukan sekadar melahirkan ketenangan batin, melainkan juga menjadi magnet bagi keberkahan dan kelimpahan nikmat di masa depan.
Penguatan dalil tersebut juga diperjelas melalui berbagai hadis Rasulullah SAW yang mulia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa sangat mengagumkan urusan seorang mukmin, karena seluruh urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya; dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun adalah kebaikan baginya. Hadis ini menegaskan bahwa siklus kebahagiaan seorang mukmin sangat stabil karena ditopang oleh dua pilar utama, yaitu syukur dan sabar.
Para ulama salaf turut memberikan pandangan yang mendalam mengenai bagaimana mengelola hati agar senantiasa berada dalam gelombang syukur. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kedudukan syukur berada di tingkat yang amat tinggi dan merupakan separuh dari iman (sementara separuh lainnya adalah sabar). Beliau mengibaratkan iman sebagai seekor burung, di mana kepala burung tersebut adalah cinta, sedangkan kedua sayapnya adalah rasa takut dan penuh harap, sementara rasa syukur adalah kemampuan untuk terus terbang menggapai rida Allah dalam setiap kondisi.
Dampak negatif dari kurang atau tidak bersyukurnya seseorang akan sangat terasa pada kondisi psikologis dan spiritualnya. Orang yang kufur nikmat akan terjebak dalam sindrom “tidak pernah merasa puas” atau hedonic treadmill. Sebanyak apapun harta atau pencapaian yang diraih, semuanya selalu terasa kurang. Kondisi ini memicu munculnya penyakit hati seperti sifat serakah (tamak), iri hati (hasad), dan kecemasan kronis yang berujung pada depresi. Jiwa mereka menjadi kering dan hampa karena kehilangan kemampuan untuk menikmati anugerah yang ada di depan mata.
Untuk mencegah timbulnya sifat kufur nikmat dan rasa tidak puas tersebut, terdapat beberapa langkah preventif yang dapat diterapkan oleh seorang mukmin. Langkah pencegahan yang utama adalah senantiasa melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam urusan duniawi, dan melihat kepada orang yang berada di atas kita dalam urusan ukhrawi (ibadah). Rasulullah SAW mengajarkan cara ini agar kita tidak mudah meremehkan nikmat yang telah Allah berikan. Selain itu, menghindari sifat konsumtif yang berlebihan dan memperbanyak zikir mengingat kematian juga efektif untuk meredam ambisi duniawi yang berlebihan.
Perlunya edukasi diri secara terus-menerus mengenai hakikat dunia sebagai tempat ujian turut memperkuat benteng pertahanan mental seseorang. Ketika ujian atau musibah datang, seorang yang bersyukur tidak akan serta-merta berkeluh kesah, melainkan melihat hikmah tersembunyi di baliknya. Proses refleksi diri ini membantu seseorang untuk mendeteksi secara dini bibit-bibit kejenuhan atau rasa tidak terima atas takdir Allah, sehingga ia dapat segera kembali kepada kesadaran spiritual yang utuh.
Secara psikologis, pencegahan terhadap ketidakpuasan ini juga didukung oleh terapi kognitif yang mengajarkan mindfulness atau kesadaran penuh. Dengan melatih pikiran untuk hadir sepenuhnya di saat sekarang (present moment awareness), seseorang dapat lebih menghayati nikmat-nikmat kecil yang sedang dirasakannya detik itu juga. Gabungan antara pendekatan spiritual Islam dan teknik psikologi modern ini menciptakan kerangka yang kokoh bagi individu untuk membangun mental yang tangguh, damai, dan bahagia.
Jadi, syukur adalah kunci sejati kebahagiaan yang menghubungkan dimensi spiritual dan kesejahteraan psikologis manusia. Melalui pemahaman konsep syukur dan kebahagiaan yang benar—sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, hadis, pandangan ulama, serta riset psikologi—seorang mukmin dapat menjalani hidup dengan hati yang tenteram dan jiwa yang damai. Upaya aktif untuk terus bersyukur serta langkah preventif menghindari kufur nikmat akan menyelamatkan seseorang dari kegelisahan batin, sekaligus mengantarkannya pada keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakasih!
Padang, 8 November 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan upaya-upaya yang hamba lakukan dalam berlatih syukur atas nikmat Allah SWT.