Oleh Zulkarnaini Diran

Tahun 2025 segera berakhir. Tahun 2026 segera datang. Di penghujung tahun ini banyak hal yang dapat dilakukan. Ada dua perilaku yang terlihat pada akhir tahun, yakni membuat acara khusus dan berperilaku biasa-biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Acara khususnya misalnya berlibur ke berbagai tempat, melakukan ibadah-ibadah ritual, dan sebagainya. Perilaku biasa, ya umembiarkan waktu bergulir sedemikian rupa tanpa acara-acara khusus. Itu semua tergantung pilihan individu, piilihan keluarga, dan pilihan masing-masing. Mau berakahir tahun dengan acara khusus atau biasa-biasa saja, ya terserah masing-masing.
Banyak hal yang dapat di lakukan pada akhir tahun. Di antaranya adalah melakukan refleksi, evaluasi, dan introspeksi diri dalam berbagai dimensi kehidupan yang dilakukan selama tahun 2025. Hasil yang diharapkan dari ketiga kegiatan itu di antaranya tertakarnya pahala dan dosa. Berapa banyak pahala yan tertabung dan berapa banyak dosa yang dilakukan. Selanjutnya merencanakan pahala yang hendak dikumpul dan menghapus dosa yang terperbuat. Repleksi berarti melihat kembali yang telah dilakukan, evaluasi berarti membandingkan hal yang seharusnya dengan yang telah dilakukan, dan mengeintrospeksi berarti melihat secara mendalam hal yang berbuah pahala dan menuai dosa.
Kegiatan menutup tahun dengan melakukan refleksi, evaluasi, dan introspeksi adalah langkah yang sangat mulia dan dianjurkan. Hal itu sejalan dengan prinsip Islam yang dikenal sebagai Muhasabah. Dalam konteks spiritual, muhasabah bukan sekadar menghitung untung rugi. Melainkan mengkaji secara mendalam hasil dari garapan ladang pahala dan melihat lebih jernih pintu gerbang dosa yang telah ditempuh. Ujungnya bukan saja keuntungan materi, melainkan menghitung investasi akhirat yang telah ditanam sepanjang tahun 2025.
Secara umum, aktivitas itu terangkum dalam konsep muhasabah. Islam mengajarkan bahwa waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mengakhiri tahun 2025 dengan .menoleh ke belakang kemudian merenungkannya, merupakan bentuk kesadaran bahwa setiap detik yang terlewati telah dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Sebagaimana pesan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang sangat masyhur, “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang kelak.”
Refleksi adalah upaya melihat kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2025. Dalam tahap ini, kita memutar kembali ingatan tentang nikmat apa saja yang telah diterima dan ujian apa yang telah dilalui. Tanpa refleksi, manusia cenderung lupa diri dan menjadi kufur nikmat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr, 59:18, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Ayat ini secara eksplisit memerintahkan kita untuk “melihat kembali” (refleksi) demi mempersiapkan masa depan.
Hasil refleksi dapat dijadikan dasar untuk langkah berikutnya, yakni evaluasi. Evaluasi adalah upaya untuk membandingkan antara standar syariat (apa yang seharusnya dilakukan) dengan kenyataan amal atau perbuatan kita. Evaluasi membantu kita menyadari “kebocoran” pahala dan “penumpukan” dosa. Misalnya, jika Allah memerintahkan shalat tepat waktu namun kita sering menundanya, di sinilah letak evaluasi tersebut. Kita menimbang apakah tahun 2025 lebih banyak diisi dengan ketaatan atau kemaksiatan. Hal ini penting agar kita tidak termasuk golongan yang merugi, sebagaimana diingatkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, “Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati…” (HR. Tirmidzi).
Introspeksi atau bashirah melangkah lebih jauh ke dalam hati. Ini adalah proses mencari tahu mengapa kita melakukan suatu perbuatan. Apakah pahala yang kita kejar didasari keikhlasan, atau justru tercampur dengan riya (pamer)? Apakah dosa yang kita lakukan berasal dari kelemahan iman atau kesombongan? Introspeksi membongkar akar masalah di dalam jiwa. Dengan mengetahui akar masalahnya, kita bisa memperbaiki kualitas ibadah di tahun mendatang agar tidak sekadar menjadi rutinitas fisik tanpa makna spiritual.
Tujuan akhir dari ketiga kegiatan ini adalah “akuntansi spiritual”. Kita mencoba menaksir seberapa banyak investasi pahala yang terkumpul dan berapa jumlah dosa yang menggerogotinya. Pahala adalah energi positif yang mendekatkan kita kepada Allah, sementara dosa adalah beban yang menjauhkannya. Dengan menyadari banyaknya dosa di tahun 2025, muncul rasa takut (khauf) yang sehat, dan dengan melihat potensi pahala, muncul harapan (raja’). Keseimbangan antara takut dan harap inilah yang menjaga stabilitas iman seorang mukmin dalam mengarungi pergantian tahun.
Kabar baiknya, evaluasi terhadap dosa di tahun 2025 tidak seharusnya berujung pada keputusasaan. Islam menyediakan mekanisme penghapusan dosa melalui taubat dan perbuatan baik yang dilakukan secara sadar setelahnya. Jika dalam introspeksi kita menemukan banyak noda hitam, maka rencana terbaik adalah memperbanyak amal shaleh sebagai penghapus. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Hud, 11:114, “….Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan (dosa). Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”
Setelah evaluasi selesai, langkah selanjutnya adalah menyusun strategi untuk tahun 2026. Kita tidak hanya ingin sekadar “bertahan,” tetapi ingin “tumbuh.” Kita berharap tahun yang akan datang lebih dari tahun yang lalu. Rencana ini mencakup penutupan celah-celah dosa yang sering dilakukan dan membuka pintu-pintu pahala baru yang sebelumnya terabaikan. Perencanaan ini adalah bentuk keseriusan dalam beragama, dalam menempuh kehidupan. Sebab, seseorang yang hari ini (atau tahun ini) sama dengan kemarin adalah orang yang merugi, dan yang lebih buruk adalah orang yang celaka.
Melakukan refleksi di akhir tahun 2025 adalah awal yang baik, namun kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi (istiqamah). Hasil dari evaluasi harus diwujudkan dalam aksi nyata. Mari kita mintah pertolongan kepada Allah agar hati dikuatkan untuk meninggalkan keburukan masa lalu. Sebagaimana doa yang sering diajarkan Nabi Muhammad SAW agar kita ditetapkan dalam ketaatan: “Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘ala Diinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Yogyakarta, 30 Desember 2025