Oleh Zulkarnaini Diran

Ada pertanyaan yang diajukan kepada saya. Pertanyaan yang berasal dari para sahabat, kemenekan, anak, dan cucu diajukan melalui whatshapp dan akun media sosial lainnya. Inti pertanyaan itu adalah, ”Apa yang harus dilakukan pada tahun 2026 ini agar hidup dan kehidupan lebih baik?” Saya coba menyiasati, ternyata pertanyaan itu muncul atas tulisan saya yang berjudul ”Menakar Pahala dan Dosa” yang terpublikasi melalui https//:zulkarnaini.my.id 31 Desember 2025. Pertanyaan seperti ini memerlukan perenungan dan pemikiran yang mendalam untuk menjawabnya. Akhirnya saya temukan sebuah pernyataan singkat untuk menjawabnyak yaitu, ”Perbaiki salatmu, hidupmu akan lebih baik”.
Perbaiki salatmu, hidupmu akan lebih baik. Pernyataan ini singkat dan padat, tetapi dalam dan luas maknanya. Salat adalah kewajiban seorang muslim dalam beribadah. Salat itu memiliki dua dimensi utama, yakni jasmani dan ruhani. Dimensi jasmani teraktualisasi dalam gerakan-gerakan salat, sementara dimensi ruhani merupakan koneksitas antara seorang hamba dengan Sang Khalik. Jika dianalisis, hidup dan kehidupan juga meliputi kedua dimensi itu yakni materi dan non materi. Hidup dan kehidupan dianggap lebih baik jika memenuhi kebutuhan materi dan nonmateri. Artinya, hidup dan kehidupan yang lebih baik itu adalah jika kebutuhan jasmani dan ruhani terpenuhi.
Dimensi jasmani dalam salat menyangkut dengan banyak hal. Bahkan berkaitan semua sisi jasmani dan menempuh hidup dan kehidupan. Masalah kebersihan, kesehatan, aktifitas dalam ruang dan waktu, dan sebagainya ada dalam lingkup dimensi jasmani ada dalam salat. Kesehatan mental, kebersihan hati, kejujuran, keiklasan, dan sebagainya ada dalam dimensi ruhani dan kejiwaan juga ada dalam salat. Selain itu salat juga menjadi tameng dan pelindung bagi setiap muslim. Pernyataannya adalah bahwa, ”Salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jika dimensi jasmani dan ruhani terpelihara dengan salat dan terlindungi dari yang keji dan mungkar, maka salat yang baik adalah satu-satunya jalan untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik.
Pernyataan “Perbaiki salatmu, hidupmu akan lebih baik” memandang salat bukan sekadar kewajiban ritualistik yang kaku. Ia merupakan pusat gravitasi kehidupan seorang Muslim. Salat berfungsi sebagai instrumen sinkronisasi antara keinginan hamba dengan kehendak Pencipta. Ketika seseorang memperbaiki kualitas salatnya—baik dari segi waktu, rukun, maupun kekhusyukan—ia sebenarnya sedang menata ulang prioritas hidupnya. Secara psikologis, ini menciptakan disiplin internal yang kuat, di mana pusat kendali hidup tidak lagi diletakkan pada ambisi duniawi yang fana, melainkan pada ketenangan spiritual yang abadi.
Dalam dimensi jasmani, salat merupakan manifestasi dari kedisiplinan fisik dan kesehatan yang holistik. Gerakan salat, mulai dari takbir hingga salam, melibatkan koordinasi motorik, peregangan otot, dan pengaturan sirkulasi darah yang teratur. Lebih jauh lagi, syarat sah salat yang mengharuskan kesucian badan, pakaian, dan tempat melalui wuduk mengajarkan nilai higienitas yang sangat tinggi. Dalam konteks kehidupan modern, dimensi jasmani salat ini melatih kita untuk menghargai waktu (manajemen waktu) melalui jadwal salat yang tetap, sehingga ritme biologis tubuh dan ritme kerja profesional dapat berjalan selaras.
Dimensi ruhani salat merupakan inti dari konektivitas antara hamba dan Sang Khalik. Salat adalah momen “mikraj” bagi orang beriman. Segala kebisingan dunia dihentikan sejenak untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Kebutuhan non-materi seperti ketenangan batin, harapan, dan kekuatan mental terpenuhi dalam momen ini. Tanpa dimensi ruhani, hidup manusia akan terasa hampa meskipun kebutuhan materinya terpenuhi. Salat memberikan “makanan” bagi jiwa. Ia memastikan bahwa ego tidak mendominasi tindakan, dan menanamkan kesadaran bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur segala urusan.
Allah SWT berfirman, “Bacalah Kitab (Al-Quran) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabut ayat 45). Ayat ini menjelaskan bahwa salat yang “baik” secara otomatis akan menjadi filter sosial dan moral. Jika seseorang berhenti melakukan kemungkaran, maka konflik dalam hidupnya akan berkurang, reputasinya terjaga, dan kedamaian sosial tercapai—inilah definisi hidup yang lebih baik.
Landasan Sunnah juga memperkuat analogi kebersihan ruhani ini melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW mengibaratkan salat lima waktu seperti sebuah sungai yang mengalir di depan pintu rumah seseorang, di mana ia mandi di sana lima kali sehari. Beliau bertanya, “Apakah masih ada kotoran yang tersisa?” Para sahabat menjawab, “Tidak.” Hadis ini menunjukkan bahwa salat yang dilakukan dengan benar berfungsi sebagai pembersih “sampah visual” dan “sampah batin” yang kita kumpulkan dari interaksi duniawi setiap hari, sehingga hidup kita senantiasa segar dan jernih.
Secara teoretis, jika kita membedah “hidup dan kehidupan,” kita bisa merujuk pada teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow yang dikolaborasikan dengan pandangan eksistensialisme religius. Maslow menyebutkan adanya kebutuhan akan aktualisasi diri dan transendensi. Salat memenuhi kebutuhan transendensi tersebut. Hidup dianggap berkualitas (well-being) bukan hanya saat kebutuhan fisiologis terpenuhi, tetapi ketika individu memiliki “makna hidup.” Tanpa makna, manusia mengalami hampa eksistensial. Salat memberikan struktur makna tersebut, sehingga individu merasa aman (secure) karena merasa selalu dalam pengawasan dan perlindungan Aaallah SWT.
Integrasi antara materi dan non-materi dalam salat mencerminkan keseimbangan hidup yang ideal. Dalam sosiologi agama, praktik rutin seperti salat menciptakan habitus atau kebiasaan positif yang membentuk karakter. Orang yang tertib salatnya cenderung memiliki integritas (kejujuran) dan empati yang tinggi. Ketika etika ini dibawa ke dalam ranah ekonomi dan sosial, hidupnya akan “lebih baik” karena ia dipercaya oleh sesama manusia (modal sosial) dan diberkahi oleh Allah SWT (modal spiritual). Jadi, perbaikan salat secara linear akan berdampak pada perbaikan kualitas interaksi sosial dan profesional seseorang.
Jadi, memperbaiki salat adalah langkah fundamental untuk mereformasi totalitas kehidupan. Salat adalah “laboratorium” mini untuk melatih kesabaran, fokus, kebersihan, dan kerendahan hati kita. Jika di dalam salat kita mampu tunduk sepenuhnya, maka di luar salat kita akan menjadi pribadi yang tangguh namun tetap santun. Hidup yang lebih baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, melainkan hidup yang memiliki “jangkar” yang kuat (salat) untuk tetap tegak berdiri di tengah badai apa pun.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terutama dalam mengawali tahun 2026 menuju tahun-tahun yang akan datang, insyaallah.
Sleman, Yogyakarta 1 Januari 2026