IMAN DAN AKHLAK KEPADA PASANGAN

Oleh Zulkarnaini Diran

 Pagi itu saya duduk di lobi hotel. Seperti biasa, jam-jam begitu saya gunakan waktu untuk menulis. Sedang berkonsentrasi untuk menggarap topik sederhana dalam tulisan, saya didatangi oleh sepasang suami – istri berusia sekitar 50 tahun. Setelah mengucapkan salam, pasangan ini memperkenalkan diri (sengaja tidak disebut identas untuk menghindari fitnah). Kemudian serempak mereka berujar, “Maaf, Pak kami mengganggu”, katanya.  Hal itu terjadi di Kawasan Syisyah lokasi hotel penginapan jemaah haji Indonesia embarkasi Padang 2024.

Pasangan itu duduk di kursi di depan meja saya. Untuk menghormatinya, saya langsung melipat monitor tablet, hingga kami langsung berhadapan. Selesai menjawab salamnya, saya meminta penjelasan hal yang bisa dibantu. Si istri pasangan itu menjelaskan, sejak berangkat dari asrama haji embarkasinya, mereka berdua selalu saja berbeda pendapat. Kadang-kadang berujung dengan pertengkaran. Bahkan kadang-kadang lebih dari bertengkar  yaitu saling menyakiti dengan kata-kata.  Suaminya menambahkan bahwa tidak ada ketenteraman yang dirasakan sejak berangkat dari Tanah Air. ”Bantu kami, Pak!” katanya dengan nada ”menghiba”.

Dalam hati saya bertanya, kenapa mereka datang kepada saya. Kami belum dan tidak saling mengenal. Pertanyaan itu tidak saya lontarkan, saya simpan saja di dalam hati. Saya mulai berpikir. Di Tanah Suci dalam lingkup prosesi ibadah, orang datang meminta bantuan, orangnya tidak dikenal, bantuan yang diminta adalah nasihat. Spontan pikiran ini meminta saya membuka memori tentang “larangan dalam berhaji”. Di antara larangan itu adalah berbicara kotor dan berdebat. Saya ingat, hal itu termaktub di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah, 197.

Selengkapnya” arti ayat itu adalah, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat (fusuq), dan bertengkar (jidal) dalam (masa) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”

Selain itu memori otak saya juga terbuka bahwa di dalamnya tersimpan sejumlah hadis tentang adab pasangan suami istri. Di antara hadis itu mengapung kembali ke permukaan. Isinya antara lain menyatakan bahwa orang beriman yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Orang beriman yang paling sempurna dan baik  adalah  yang paling baik akhlaknya kepada pasangannya. Hadis itu terbuka dari memori saya sehingga dengan ayat dan hadis itulah saya bantu kedua pasangan ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1162. Beliau mengatakan hadis ini hasan shahih).

Keimanan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa rajin ia beribadah di masjid atau seberapa panjang doa-doanya. Hal itu juga tergambar dari bersikap saat berada di balik pintu rumah. Rumah tangga adalah tempat seseorang menjadi dirinya yang paling asli, tanpa topeng pencitraan sosial. Oleh karena itu, Rasulullah menegaskan bahwa standar kesalehan yang sejati tercermin dari cara seseorang memperlakukan pasangannya, karena di sanalah kesabaran dan ketulusan benar-benar diuji setiap hari.

Satu dari beberapa pilar akhlak mulia dalam rumah tangga adalah komunikasi yang didasari oleh mu’asyarah bil ma’ruf (bergaul dengan cara yang baik). Hal ini mencakup penggunaan kata-kata yang santun, nada bicara yang tenang, serta kemampuan untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Menghindari kata-kata kasar atau hinaan saat terjadi perselisihan adalah tanda kematangan iman, karena lisan yang beriman tidak akan menyakiti hati orang yang paling dekat dengannya.

Tidak ada manusia yang sempurna. Setelah pernikahan, kekurangan tersebut akan terlihat dengan jelas. Akhlak yang baik mengajarkan pasangan untuk saling menutupi aib dan bersabar atas kekhilafan kecil. Rasulullah mengajarkan agar seorang suami tidak membenci istrinya karena satu perilaku yang tidak disukai. Di balik itu, pasti ada sisi lain dari karakternya yang sangat baik dan menyenangkan. Fokus pada kelebihan, bukan kekurangan, adalah kunci keharmonisan dalam rumah tangga dan akhlak terpuji kepada pasangan.

Akhlak terhadap pasangan juga diwujudkan melalui tindakan nyata dalam membantu beban pekerjaan sehari-hari. Rasulullah SAW, meskipun seorang pemimpin besar, tidak segan untuk menjahit sandalnya sendiri atau membantu pekerjaan rumah tangga istrinya. Dalam konteks modern, suami yang membantu pekerjaan domestik dan istri yang mendukung perjuangan suami adalah bentuk nyata dari rasa kasih sayang dan penghargaan terhadap martabat satu sama lain.

Kepercayaan adalah fondasi utama dalam pernikahan. Akhlak yang luhur menuntut pasangan untuk menjaga rahasia rumah tangga. Mereka tidak menceritakan kekurangan pasangan kepada orang lain, termasuk keluarga sendiri, kecuali dalam keadaan darurat yang syar’i. Al-Qur’an mengibaratkan suami dan istri sebagai “pakaian” bagi satu sama lain, yang fungsinya adalah melindungi, menghangatkan, dan menutupi apa yang tidak layak dilihat orang luar.

Pasangan yang baik adalah mereka yang menjadi pendukung utama dalam pertumbuhan spiritual dan emosional pasangannya. Mengajak dalam kebaikan, mengingatkan untuk shalat, atau sekadar memberikan pelukan hangat saat pasangan sedang tertekan adalah bentuk akhlak yang sangat bernilai pahala. Hubungan ini tidak hanya bertujuan untuk kebahagiaan dunia, tetapi juga visi besar untuk bersama-sama melangkah menuju surga-Nya.

Terakhir, akhlak yang sering terlupakan adalah membudayakan rasa syukur dan apresiasi. Mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil, seperti masakan yang dihidangkan atau nafkah yang dibawa pulang, dapat mempererat ikatan batin. Mengakui peran pasangan dan tidak menganggap remeh pengorbanannya adalah wujud nyata dari pribadi yang tahu cara bersyukur kepada Allah SWT melalui perantara manusia (pasangannya).

Usai berdiskusi hampir satu jam, pasangan suami istri itu meneteskan air mata. Malah keduanya terisak dan benar-benar menangis. Saya tegaskan pada akhir pembicaraan, “Mulai makan siang nanti, makanlah sepiring bedua, bersihkan hati, sucikan jiwa!” kata saya dengan nada edukatif dan persuasif. Kami berpisah kemudian. Saya pun membatin, tidak saya sangka kalimat-kalimat saya mengalir demikian rupa dengan iringan perasaan. Kalimat-kalimat itu mewakili perasaan saya yang paling dalam. Mungkin karena yang berbicara adalah ”rasa” dan yang menerimanya juga ”rasa”, terjadilah koneksi antar-perasaan yang sangat manusiawi.

Ramadan tahun 2025, saya diundang berceramah Ramadan. Ketika sampai di masjid, saya ditemui oleh seorang jemaah. Ketika bersalaman, beliau mencium tangan saya. Saya merasa risih juga karena disaksikan oleh jemaah lain. Dia menjelaskan bahwa saya pernah berbagi nasihat kepadanya. Ingatan saya kembali  ke kawasan Syisyah, Makkah, Arab Saudi tentang peristiwa di lobi hotel itu. Selesai bersalaman dia berujar, ”Pak kami sekarang sangat rukun, di rumah penuh kedamaian,” katanya dengan nada bahagia dan linangan air mata penuh kebahagiaan. Saya mengucapkan alhamdulillah.

Tulisan ini adalah secuil kisah yang saya rekam dari catatan harian Zulkarnaini Diran. Mudah-mudahan bermanfaat.

Yogyakarta, 29 Desember 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *