KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

Oleh Zulkarnaini Diran

Tidak ada yang aman di muka bumi ini dari keburukan. Setiap sisi dan sudut di bumi terbuka pintu-pintu keburukan. Keburukan selalu ada di dalam setiap ruang dan waktu. Sebaliknya di mana-mana di muka bumi ini terbuka pintu kebaikan. Setiap saat, detik, dan waktu yang tersedia di situ ada kebaikan. Begitu pula di setiap inci ruang di muka bumi ada kebaikan. Keburukan dan kebaikan adalah dua sisi yang bersebarangan, tetapi keduanya hanya dibatasi oleh ”benang-benang halus” yang kadang-kadang bagi orang tertentu, pembatas itu sukar dideteksi. Di sinilah masalahnya, di sinilah dilemanya. Itu pun menjadi sifat ”naluriah” manusia, ya baik dan buruk.

Keburukan yang dilakukan oleh manusia akan berujung kepada bencana. Bisa jadi bencana itu datang pada saat keburukan dilakukan, bisa pula ditunda oleh Allah, bahkan ditunda sampai ke akhirat kelak. Begitu pula halnya kebaikan yang berujung kepada kenikmatan. Kenikamatan itupun dapat dirasakan pada saat kebaikan dilakukan. Bisa jadi pula Allah menuda pemberian kenikmatan kepada mereka yang berbuat baik dalam jangka waktu yang dekat atau jauh. Mungkin juga kebaikan itu akan diperlihatkan kenimatannya oleh Allah di akhirat kelak.

Eksistensi kebaikan dan keburukan di setiap sudut bumi bukanlah sebuah kebetulan, melainkan desain Ilahi untuk menguji kualitas ruhani manusia. Allah SWT menegaskan bahwa hidup dan mati diciptakan untuk menyaring siapa di antara hamba-Nya yang memiliki amalan terbaik. Tidak ada satu jengkal tanah pun yang steril dari godaan, namun tidak ada pula satu ruang pun yang tertutup dari rahmat dan kesempatan untuk berbuat baik. Allah SWT berfirman, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (QS. Al-Mulk: 2).

Secara naluriah, manusia memang dibekali dengan dua potensi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ada kecenderungan pada nafsu yang membawa pada keburukan. Pada sisi lain ada fitrah suci yang selalu rindu pada kebenaran. Dilema muncul karena kita memiliki kehendak bebas (free will) untuk memilih pintu mana yang akan kita masuki di setiap situasi. Allah SWT berfirman, “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jiwa itu) jalan kejahatan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8).

Seringkali, pembatas antara kebaikan dan keburukan memang setipis rambut. Sebuah perbuatan baik secara lahiriah, seperti sedekah, bisa seketika menjadi keburukan jika disusupi penyakit hati seperti riya (pamer). Inilah yang disebut sebagai “benang-benang halus” yang sukar dideteksi. Tanpa ilmu dan kejernihan hati, manusia mudah tergelincir dari satu sisi ke sisi lainnya tanpa ia sadari. Rasulullah SWT bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang…” (HR. Bukhari & Muslim).

Setiap keburukan yang dilakukan manusia, baik secara individual maupun kolektif, memiliki resonansi yang merusak alam semesta. Bencana yang muncul, baik berupa kerusakan lingkungan, konflik sosial, maupun kegelisahan batin, merupakan “feedback” atau peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar. Keburukan tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu membawa konsekuensi yang merugikan pelakunya. Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).

Sebaliknya, kebaikan menghasilkan ketenangan jiwa yang disebut sebagai Hayatan Tayyibah (kehidupan yang baik). Kenikmatan ini sering kali bersifat instan dalam bentuk kelapangan dada saat kita menolong orang lain atau menjalankan ibadah. Kebaikan menciptakan harmoni antara manusia dengan Penciptanya, sesama makhluk, dan lingkungan sekitarnya. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. An-Nahl: 97).

Allah Maha Bijaksana dalam menetapkan waktu balasan. Penundaan balasan bagi pelaku keburukan terkadang merupakan bentuk istidraj (dibiarkan dalam kesenangan agar semakin lalai), sedangkan penundaan bagi pelaku kebaikan adalah ujian kesabaran dan keikhlasan. Hal ini mengajarkan kita bahwa niat berbuat baik tidak boleh didasarkan pada pamrih duniawi semata, melainkan karena ketaatan kepada Allah. Seperti disabdakan Rasulullah SAW, “Jika engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba pada kemaksiatan yang ia lakukan, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad).

Meskipun dunia menyediakan panggung bagi kebaikan dan keburukan, pengadilan yang benar-benar tuntas hanya terjadi di akhirat. Di sanalah setiap “benang halus” akan diurai, dan setiap amal sekecil atom pun akan diperlihatkan hasilnya. Akhirat adalah muara dari semua pintu yang kita pilih selama di dunia. Di situ keadilan tidak lagi terhalang oleh waktu atau rahasia. Allah SWT berfirman, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Jadi, menghadapi dunia yang penuh dengan pintu yang terbuka lebar bagi kebaikan dan keburukan ini, kita memerlukan kompas berupa Taqwa. Taqwa adalah kemampuan untuk mendeteksi “benang-benang halus” tersebut sehingga kita bisa tetap berada di jalur kebaikan. Dengan selalu merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah), kita dapat menutup pintu keburukan sebelum ia membawa kita pada bencana. Kita senantiasa memasuki gerbang dan melakukan kebaikan agar mendapat kenikmatan dunia dan akhirat. Insyaallah. Semoga tulisan sedehana ini bermanfaat!

Yogyakarta, 2 Januari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *