DOA TIDAK DIKABULKAN

Oleh Zulkarnaini Diran

Tugas manusia dalam memenuhi kebutuhan itu hanya dua yakni berusaha dan berdoa. Kedua hal itu dilakukan setiap hari secara optimal. Berusaha, berupaya, dan berikhtiar dalam berbagai  profesi menjadi keseharian setip orang. Upaya optimal itu kemudian diiringi dengan doa yang disampaikan kepada Allah SWT. Setelah berupaya maksimal dan berdoa sungguh-sungguh, hasilnya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Manusia tidak boleh mengambil “kewenangan” Allah yakni mentukan hasil.

Usaha atau ikhtiar yang dilakukan sering tidak mendapat hasil seperti yang diharapkan. Begitu juga doa yang disampaikan sering tidak terkabulkan. Kalau itu terjadi, tentu ada sebab-sebabnya. Doa-doa yang tidak dikabulkan Allah itu ada sebabnya. Menurut Ibrahim bin Adam sebabnya adalah karena hati yang berdoa telah mati. Di antara ciri hari yang mati itu adalah: (1) mengenal Allah, tetapi tdak memberikan hak-Nya; (2) mengaku mencintai Rasulullah, tetapi tidak mengikuti Sunnahnya; (3) membaca Al-Quran, tetapi tidak mengamalkannya; (4) memanfaatkan nikmat-nikmat Allah, tetapi tidak menyukurinya; dan (5) mengakui bahwa syetan adalah musuhnya, tetapi tidak melawannya. Itu di antara yang dikatakan oleh ahli sufi itu.

Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kehendak (iradah) namun terbatas oleh takdir Allah. Upaya atau ikhtiar bukan sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan bentuk ibadah dan kepatuhan terhadap sunnatullah (hukum alam). Setiap Gerak dan upaya ketika berikhtiar adalah ibadah yakni berjuang untuk mencari Ridha Allah SWT. Dari usaha itu itu akan terjadi perubahan ke  arah yang lebih baik. Allah SWT berfirman mengenai pentingnya perubahan yang dimulai dari diri sendiri, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” QS Ar-Ra’d: 11)

Setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal, langkah selanjutnya adalah berdoa. Doa hanya disampaikan kepada Allah SWT, bukan kepada selain Dia. Setiap doa ada kaidah yang harus dipenuhi, ada ketentuan dipatuhi, dan ada proses yang harus dilalui. Selain itu, doa merupakan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan kemahakuasaan Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Doa adalah otaknya ibadah” (HR. Tirmidzi). Dengan berdoa, seseorang mengaitkan usaha fisiknya dengan dimensi spiritual, memastikan bahwa egonya tidak merasa paling berjasa atas hasil yang dicapai.

Tahap terakhir adalah tawakkal, yaitu menyerahkan segala hasil kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan tidak “mengambil kewenangan Allah.” Manusia bertugas merencanakan, namun Allah yang menentukan hasil terbaik. Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap hamba-Nya yang bertawakal, kebutuhannya dijamin. Allah berfirman, “…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS  At-Talaq: 3)

Seringkali manusia merasa kecewa ketika usaha dan doanya tidak langsung membuahkan hasil. Ibrahim bin Adham, seorang ulama sufi terkemuka, memberikan diagnosis yang tajam,  ”masalahnya terletak pada hati yang mati”. Hati yang mati adalah hati yang kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran ilahi. Hati yang mati kehilangan keyakinan bahwa Allah SWT memiliki “kewenangan” tidak terbatas. Ia kehilangan kepercayaan bahwa Allah adalah Maha Segala-galanya. Berikut adalah kupasan mengenai lima ciri hati yang mati tersebut.

Banyak orang mengaku beriman kepada Allah, namun dalam kesehariannya tidak menunaikan kewajiban dasar seperti shalat atau menjauhi larangan-Nya. Hak Allah yang paling utama adalah disembah tanpa disekutukan. Bahkan itu pulalah alasan Allah SWT menciptakan makhluknya, termasuk jin dan manusia. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56). Mengabdi kepada Allah, diwujudkan dengan senantiasa beribadah kepada-Nya. Saat ibadah dilakukan, hubungan dengan-Nya selalu terkoneksi, tersambung. Jika hubungan transendental ini rusak, maka komunikasi melalui doa pun terhambat.

Cinta menuntut pembuktian melalui ketaatan (ittiba’). Jika seseorang mengaku mencintai Nabi Muhammad SAW namun perilakunya jauh dari etika dan ajaran beliau, maka pengakuannya adalah palsu. Ketika pengakuan disampikan secara saakral dalam bentuk kalimat syahdah, berarti di situ ada komitmen, ada tekad. Tekad itu bermuara kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah menegaskan “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’…” (QS Ali ‘Imran: 31).

Al-Quran diturunkan sebagai huda (petunjuk), bukan sekadar hiasan atau bacaan ritual. Membaca tanpa ada upaya untuk memahami, menghayati, dan  menerapkan hukum dan akhlak Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, hanya akan mengeraskan hati. Bahkan kemudian hati itu akan mati. Rasulullah SAW memperingatkan dalam sebuah hadis, “Al-Quran itu adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujjah yang akan menuntutmu.” (HR. Muslim). Sangatlah tidak mungkin akan menjadi pembela dan penuntun jika tidak dipahami, dihayati, dan diamalkan isinya.

Manusia seringkali fokus pada apa yang belum dimiliki dan melupakan jutaan nikmat yang sudah ada di depan mata. Ketidaktahuan untuk bersyukur (kufur nikmat) adalah penyumbat pintu rahmat. Padahal, janji Allah jelas, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7).

Secara lisan, semua orang beriman sepakat bahwa syetan adalah musuh. Namun, dalam prakteknya, banyak yang masih mengikuti bisikan syetan dalam hal kemaksiatan, kesombongan, dan kebencian. Allah memperingatkan, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu)…” (QS  Fatir: 6). Hati yang berkompromi dengan musuh tidak akan memiliki kejernihan untuk mengetuk pintu langit.

Kunci agar doa dan usaha kita selaras serta membuahkan hasil (baik di dunia maupun dalam bentuk pahala di akhirat) adalah dengan menyehatkan hati. Jangan biarkan hati kita mati ”terkapar” karena mengabaikan kelima hal yang diungkapkan oleh ahli sufi ini. Hati yang sehat (Qalbun Salim) adalah hati yang ikhlas dalam bekerja, tekun dalam berdoa, dan ridha terhadap apapun ketetapan Allah. Ketika hati hidup, doa bukan lagi sekadar daftar keinginan, melainkan bentuk dialog intim antara hamba dan Khalik-nya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Demak, 6 Janauari 2026

2 comments

Leave a Reply to Tria Nuviza Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *