Oleh Zulkarnaini Diran

Dengki adalah penyakit yang bersarang dalam kalbu. Orang dengki tidak mensyukuri nikmat Allah yang diperoleh orang lain. Hal seperti itu pada hakikatnya adalah bentuk protes terselubung terhadap keadilan Allah SWT. Orang yang dengki (hasad) merasa bahwa Allah “salah” dalam membagikan nikmat seperti rezeki dan kedudukan. Terkait hal ini, salah seorang ulama salaf, Ibnu al-Mu’tazz, memberikan analogi yang sangat tajam, “Orang yang dengki itu marah kepada takdir, dan menganggap karunia Allah sebagai sebuah kesalahan.” Hal inilah yang secara perlahan mengikis kemurnian iman, karena hati tidak lagi memiliki keridaan (rida) terhadap pembagian ketetapan-Nya.
Dengki itu bersemayam di kalbu. Syetan turut memperkuatnya. Tiap hari dikipas oleh syetan dan nafsu. Kalbu diselimuti oleh kedengkian. Akibatnya, selain menyiksa pemilik hati juga merusak imannya. Jika hati telah dikotori oleh dengki, iman terkikis, kenyamanan hidup dan kehidupan berkurang, kemungkaran pun akan mempenjarakan diri. Bisa jadi maksiat akan mengurung dan membelenggunya sampai akhir hayat.
Dengki, atau dalam khazanah Islam dikenal dengan istilah hasad. Hql ini adalah suatu kondisi psikologis dan spiritual. Seseorang merasa tidak senang atas nikmat, kebahagiaan, atau keberhasilan yang diperoleh orang lain. Lebih jauh lagi, sifat ini sering kali disertai dengan harapan atau keinginan agar nikmat yang ada pada orang tersebut hilang atau berpindah kepada dirinya. Sifat ini tidak tampak di permukaan, melainkan bersarang jauh di dalam lubuk hati (kalbu) manusia. Inilah suatu bentuk penyakit hati yang paling berbahaya.
Dengki bukan sekadar masalah sosial antarmanusia, melainkan masalah teologis yang sangat serius. Ketika seseorang merasa iri atas rezeki atau kedudukan orang lain, ia secara tidak sadar sedang melayangkan protes terselubung terhadap keadilan Allah SWT. Orang yang hasad merasa seolah-olah pembagian yang dilakukan oleh Sang Pencipta tidak adil atau keliru. Sikap seperti ini menentang sifat Allah Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Seorang ulama salaf terkemuka, Ibnu al-Mu’tazz, memberikan sebuah analogi yang sangat mendalam mengenai hakikat penyakit ini. Beliau menyatakan bahwa orang yang dengki itu pada hakikatnya sedang marah kepada takdir, dan menganggap karunia atau anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagai sebuah kesalahan. Analogi ini membuka mata kita bahwa hasad adalah bentuk kesombongan makhluk yang merasa lebih tahu daripada Penciptanya mengenai siapa yang layak menerima kebaikan.
Iman yang murni menuntut seorang hamba untuk memiliki sifat rida (menerima dengan lapang dada) terhadap segala ketentuan dan pembagian yang telah ditetapkan Allah SWT. Ketika penyakit dengki menguasai hati, rasa rida ini akan lenyap dan digantikan oleh rasa sesak serta ketidakpuasan. Tanpa adanya keridaan terhadap takdir, fondasi iman seseorang akan goyah karena ia gagal memercayai hikmah di balik setiap keputusan Allah.
Kalbu manusia adalah medan pertempuran spiritual. Ketika benih dengki mulai tumbuh, setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mengambil peran aktif untuk memperkuat dan membesarkan volume kedengkian tersebut. Setiap hari, setan bersama dengan hawa nafsu manusia akan terus “mengipas” dan membakar emosi tersebut, sehingga api cemburu dan benci di dalam dada semakin berkobar dan sulit untuk dipadamkan.
Akibat dari tiupan setan dan korbaran hawa nafsu yang terus-menerus, kalbu seseorang perlahan-lahan akan diselimuti oleh kegelapan kedengkian. Hati yang tadinya bersih dan peka terhadap cahaya kebenaran menjadi tumpul, keras, dan kotor. Ketika hati telah tertutup oleh noda hitam hasad, sinyal-sinyal keimanan, rasa syukur, dan empati kepada sesama manusia akan terhalang dan tidak dapat berfungsi dengan baik.
Allah SWT telah memperingatkan manusia mengenai buruknya sifat hasad dalam berbagai ayat di Al-Qur’an, di antaranya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…” (QS An-Nisa’ [4]:32)
Melalui ayat ini, Allah secara tegas melarang hambanya untuk memelihara rasa iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain, karena setiap karunia telah ditakar dengan keadilan yang sempurna. Selain itu, kita bahkan diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki, “… dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS Al-Falaq [113]:5)
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat konkret mengenai sifat dengki yang dapat menghancurkan amal ibadah dan keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah dirimu dari sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)Hadis ini secara visual menggambarkan bahwa semua pahala salat, puasa, dan sedekah yang telah dikumpulkan seseorang dengan susah payah bisa hangus seketika tanpa sisa, hanya karena ia memelihara sifat dengki di dalam hatinya.
Dalam perspektif teologi Islam (ilmu tauhid), para ulama sepakat bahwa dengki merusak tauhid seseorang. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hasad adalah cabang dari mencintai dunia secara berlebihan dan merupakan bentuk penentangan terhadap hikmah Allah. Ulama lain juga menambahkan bahwa orang yang dengki sebenarnya sedang menyiksa dirinya sendiri sebelum ia berhasil mencelakai orang lain, karena hatinya selalu gelisah melihat kebahagiaan orang di sekitarnya.
Sifat dengki adalah hukuman tunai yang langsung dirasakan oleh pemiliknya di dunia sebelum di akhirat. Orang yang memiliki penyakit hasad tidak akan pernah merasakan ketenangan hidup. Setiap kali melihat tetangga, teman, atau kerabatnya mendapatkan nikmat, dadanya akan terasa sesak dan tersiksa. Kenyamanan hidup dan kebahagiaan hakiki akan berkurang secara drastis karena fokus hidupnya habis digunakan untuk mengawasi dan membenci keberhasilan orang lain.
Ketika iman telah terkikis dan hati dikotori oleh kedengkian, benteng pertahanan moral seseorang akan runtuh. Sifat dengki ini bertindak bagai pintu gerbang yang membuka jalan bagi berbagai kemungkaran lainnya, seperti berbohong, memfitnah (ghibah), mengadu domba (namimah), hingga melakukan tindakan zalim untuk menjatuhkan orang yang didengkinya. Kemungkaran demi kemungkaran ini pada akhirnya akan memenjarakan diri pelaku dalam lingkaran setan yang merusak hubungan sosial.
Jika penyakit ini tidak segera disadari dan diobati melalui taubat serta pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), kemaksiatan tersebut akan mengurung dan membelenggu pelakunya sampai akhir hayat. Seseorang yang meninggal dalam keadaan hatinya penuh dengan kedengkian dan penolakan terhadap takdir Allah berada dalam risiko besar kehilangan husnul khatimah. Oleh karena itu, membersihkan hati dari sifat dengki adalah kebutuhan mutlak demi menyelamatkan iman dan meraih kebahagiaan yang abadi.
Baiturrahim, Padang, 2 Muharam 1448 H, 17 Juni 2026 M
Disarikan dari berbagai sumber.