SUAMI, DENGARLAH CURHAT ISTRI

Oleh Zulkarnaini Diran

”Ini tampak sepele. Berbincang berdua – suami dan istri – secara akrab dari hati ke hati ampuh mengusir kepenatan raga dan keterasingan dalam jiwa. Hal ini menjadi pelumas bagi roda keluarga yang sering kali seret. Sebuah sentuhan kecil yang sederhana namun sangat besar dampaknya. Dan ternyata di tengah kesibukan yang padat dan tugas keumatan yang menumpuk, Rasulullah SAW junjungan kita masih menyempatkan diri untuk mendengarkan curhat istri beliau.” (Kurniawan, 2021:137 – 138).

Ya, alasan kesibukan, tugas yang menumpuk, persoalan yang membelit, dan masalah yang menggunung kadang-kadang dijadikan alasan untuk tidak sempat duduk bersama. Suami sibuk, istri sibuk telah menjebak pasangan dalam kerangkeng baja kehidupan individualis. Hal itu menjadikan gangguan kenyamanan dan ketenteraman keluarga yang senantiasa menggerogoti keutuhan keluarga skinah, mawadah, warahmah. Tentu himbauan pertama dan utama disampaikan kepada Sang Suami, “Denganlah curahan hati istri!” Ternyata Rasulullah SAW telah meneladankan itu kepada umatnya.

Dalam ajaran Islam, hubungan suami istri dibangun atas dasar mu’asyarah bil ma’ruf (menggauli istri dengan cara yang baik). Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa [4]: 19). Menggauli istri dengan baik tidak hanya terbatas pada pemenuhan nafkah lahir seperti pangan, sandang, dan papan. Nafkah itu juga mencakup nafkah batiniah dan emosional. Mendengarkan keluh kesah, kerinduan, dan rasa lelah istri merupakan bagian integral dari pemenuhan nafkah batin tersebut. Suami memiliki kewajiban moral dan syar’i untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan psikologis bagi istrinya. Mengabaikan komunikasi batin ini dapat mengikis kedekatan yang dituntut dalam pernikahan.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik (uswatun hasanah) dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam memperlakukan para istri beliau. Di tengah beratnya wahyu, kepemimpinan negara, dakwah, dan urusan umat yang sangat menumpuk, beliau tidak pernah terlalu sibuk untuk duduk dan mendengarkan istri-istrinya.

Aisyah RA pernah menceritakan sebuah kisah yang panjang tentang sebelas wanita yang saling berjanji untuk menceritakan sifat suami masing-masing secara terbuka (Hadis Umm Zara’). Rasulullah SAW mendengarkan kisah yang sangat panjang tersebut dari Aisyah dengan penuh perhatian, kesabaran, dan tanpa memotongnya. Di akhir cerita, beliau membesarkan hati Aisyah dengan bersabda: “Aku bagimu seperti Abu Zara’ bagi Umm Zara’ (dalam hal kasih sayang), hanya saja aku tidak menalakmu.” (HR. Bukhari & Muslim). Ini membuktikan bahwa mendengarkan curhat adalah sunnah Nabi SAW yang sangat mulia.

Mendengarkan curahan hati istri memiliki keutamaan yang sangat besar dalam pandangan Islam. Pertama, hal itu merupakan bentuk pengamalan langsung dari keluhuran akhlak. Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi). Kedua, meluangkan waktu untuk menyimak istri bernilai pahala sedekah dan ibadah kerinduan. Setiap ketenangan yang dihadirkan suami di hati istrinya akan mendatangkan keridhaan Allah SWT. Ketika seorang suami mampu menjadi “pelindung emosional” bagi istrinya, ia sedang menjalankan fungsi kepemimpinan (qawwam) secara utuh dan bijaksana.

Secara psikologis dan relasional, kerelaan suami untuk mendengarkan curhat istri memberikan dampak yang luar biasa masif bagi keutuhan rumah tangga: (1) Pelepas Penat dan Pembunuh Keterasingan. Istri yang seharian bergelut dengan rutinitas rumah tangga maupun pekerjaan membutuhkan penyaluran emosi (catharsis). Mendengarkan keterbukaannya akan menghapus rasa lelah raga dan mengusir kesepian jiwa; (2) Pelumas Roda Rumah Tangga. Sebagaimana disebutkan dalam kutipan Kurniawan (2021), komunikasi tulus dari hati ke hati menjadi pelumas yang mencairkan kekakuan, meredakan potensi konflik, dan melancarkan kembali roda kehidupan keluarga; dan (3) Membangun Kepercayaan dan Empati. Istri merasa dihargai, dicintai, dan diakui keberadaannya. Hal ini memperkokoh ikatan batin sehingga iklim rumah tangga menjadi lebih harmonis dan tahan banting menghadapi ujian.

Mendengarkan bukan sekadar mendengar suara (hearing), melainkan menyimak dengan hadir secara utuh (empathic listening). Berikut adalah alternatif proses dan tahapan praktis yang dapat ditempuh oleh seorang suami, yakni menyediakan (mengalokasikan) waktu khusus, hadir secara utuh dn bebas distraksi, simak dengan empati, dan validasi diiringi pemberian apresiasi.

Mengalokasikan waktu khusus (quality time) maksudnya, suami perlu sengaja menyisihkan waktu sabanhari—misalnya menjelang tidur atau di cangkruk sore—tanpa beralasan “terlalu sibuk”. Hadir secara utuh (mengeliminasi distraksi) maksudnya meletakkan gawai (HP), mematikan televisi, dan memberikan tatapan mata serta gestur tubuh yang fokus kepada istri. Tidak ada aktifitas lain yang dilakukan suami pada saat itu. Meskipun waktu terbatas, tetapi suami benar-benar berupaya mendengarkan dan menerima curhat istri.

Menyimak tanpa menghakimi atau terburu-buru memberi Solusi. Sering kali istri hanya butuh didengar, bukan langsung diberi ceramah atau jalan keluar. Berikan kesempatan baginya untuk menumpahkan seluruh isi hatinya sampai tuntas. Kemudian memberikan validasi dan sentuhan fisik.  Hal ini dapat berupa respon dengan anggukan, kata-kata penenang, atau usapan lembut di tangan/pundak. Ungkapan sederhana seperti “Terima kasih ya sudah berjuang hari ini” memiliki kekuatan magis yang luar biasa.

Para ulama menekankan pentingnya ketenangan batin dalam rumah tangga. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa termasuk adab suami terhadap istri adalah bersikap lembut, memperlakukan mereka dengan ramah, serta melapangkan dada atas sifat dan keluh kesah mereka. Ulama kontemporer seperti Sheikh Muhammad Metwalli al-Sharawi juga menegaskan bahwa sakinah (ketenangan) tidak akan tercipta tanpa adanya dialog yang saling menenteramkan antara suami dan istri.

Jadi, mendengarkan curahan hati istri bukanlah hal sepele atau sekadar pengisi waktu luang. Hal ini merupakan pilar penting dalam merawat bangunan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Teladan Agung Rasulullah SAW telah membuktikan bahwa sehebat dan sesibuk apa pun peran seorang pria di luar rumah, ia tetaplah seorang suami yang harus hadir utuh sebagai tempat berlabuh yang aman bagi istrinya. Dengan kerelaan meluangkan waktu, menyimak dengan empati, dan memberikan sentuhan kasih sayang, seorang suami tidak hanya sedang menguatkan jiwa istrinya, tetapi juga sedang menjemput pahala besar dan menjaga keutuhan benteng keluarganya dari keretakan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Manna, Bengkulu Selatan, 04 Agustus 2026

Disarikan dari berbagai sumber bacaan yang relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *