Oleh Zulkarnaini Diran

Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS Al-A’raf [7]:62)
Nabi Nuh menegaskan kepada kaumnya. Dia mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan perintah-perintah Tuhannya. Perintah itu adalah agar manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada hari kemudian, kepada Rasul-rasul yang diutus Allah, kepada malaikat-malaikat. Selain itu dia juga menyampaikan juga hukum-hukum-Nya. Hukum Allah itu berkenaan dengan ibadat dan muamalat. Nabi Nuh dalam menyampaikan tugasnya disertai dengan ancaman halus berrupa akibat atau resiko jika seruan itu tidak dipatuhi.
Semua itu berupa nasihat-nasihat kepada kaumnya. Nasihat itu adalah agar kaumnya takut kepada siksaan Allah sebagai balasan terhadap orang-orang yang tidak beriman kepadanya dan mendustakan rasul-rasul-Nya. Nabi Nuh menegaskan pula bahwa ia benar-benar mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kaumnya, semuanya itu diketahuinya dari Allah. Nabi Nuh berupaya maksimal dengan gigih untuk meyakinkan kaumnya.
Sebagian dari kaum Nuh ingkar kepadanya. Mereka tidak mengindahkan dan tidak melaksanakan perintah Nabi Nuh. Akhirnya Allah SWT memberikan hukuman kepada mereka yang tidak patuh. Firman Allah, “(Karena) mereka mendustakannya (Nuh), Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera serta Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS Al-A’raf [7]:64)
Nabi Nuh tetap berupaya untuk meyakinkan kaumnya. Dengan gigih dan perjuangan yang tidak kenal Lelah, Dia menyampaikan riasalah Allah SWT. Kegigihan Nabi Nuh dalam berdakwah syogyanya menjadi contoh bagi umat manusia, khususnya Muslim dalam menegakkan Asma Allah di muka bumi. Perjuangan Nabi Nuh ini dapat dijadikan motivasi bagi Muslim untuk terus-menerus mendakwahi dirinya dan mendkawahi umat.
Perjuangan Nabi Nuh alaihis salam merupakan lambang keteguhan tanpa batas dalam sejarah dakwah tauhid. Beliau adalah rasul pertama yang diutus Allah SWT ke bumi untuk menghadapi masyarakat yang telah menyimpang jauh dari fitrah, yakni menyembah berhala. Selama kurun waktu yang sangat panjang—kurang lebih 950 tahun—Nabi Nuh mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyeru kaumnya kembali kepada Allah SWT. Kegigihan beliau bukan sekadar masalah durasi waktu, melainkan cerminan dari kesabaran yang luar biasa (Ulul ‘Azmi) dalam menghadapi penolakan, ejekan, dan pembangkangan yang terjadi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kegigihan dakwah Nabi Nuh dicirikan oleh metodologinya yang komprehensif, fleksibel, dan tidak kenal lelah. Sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an Surah Nuh ayat 8-9, beliau menggunakan berbagai pendekatan: berdakwah secara terang-terangan (jiharā), menyeru secara personal dan rahasia (asrarā), serta memanfaatkan momentum siang dan malam. Pendekatan yang multifaset ini menunjukkan bahwa Nabi Nuh melakukan perencanaan dakwah yang matang dan evaluasi yang terus-menerus demi menyentuh hati kaumnya. Beliau menggabungkan antara targhib (memberi kabar gembira tentang ampunan dan keberkahan bumi) dan tarhib (ancaman halus mengenai siksa Allah) agar kaumnya menyadari kekeliruan mereka.
Namun, keluhuran budi dan kasih sayang Nabi Nuh disambut dengan kezaliman yang amat sangat oleh kaumnya. Bentuk kezaliman terbesar mereka adalah kesombongan intelektual dan spiritual (kibar), yang berujung pada penolakan total terhadap kebenaran. Ketika Nabi Nuh menyampaikan risalah, mereka justru menutup telinga dengan jari-jari mereka dan menyelimuti wajah mereka dengan pakaian sebagai simbol keengganan untuk mendengar dan melihat kebenaran (QS. Nuh [71]:7). Pakar teologi dan mufasir terkemuka, Imam Ibnu Katsir, dalam kitab Qashash al-Anbiya, menjelaskan bahwa setiap kali orang tua dari kaum Nuh akan meninggal, mereka berwasiat kepada anak-anak mereka agar jangan pernah memercayai Nuh. Kezaliman ini telah mendarah daging dan diwariskan secara sistematis.
Selain penolakan secara fisik, kezaliman kaum Nuh juga termanifestasi dalam bentuk intimidasi sosial dan penghinaan terhadap pengikut Nabi Nuh yang mayoritas berasal dari kalangan kaum dhuafa (masyarakat kelas bawah). Kaum kapitalis dan pemuka kaum Nuh (al-mala’) memandang rendah para pengikut Nabi Nuh dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang picik pemikirannya (QS. Hud [11]:27). Mereka mensyaratkan agar Nabi Nuh mengusir orang-orang miskin tersebut jika ingin mereka beriman. Kezaliman sosial ini dijawab dengan ketegasan oleh Nabi Nuh, yang menyatakan bahwa beliau tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman hanya demi memenuhi gengsi para penguasa yang sombong.
Puncak kezaliman kaum Nuh adalah ketika mereka menantang datangnya azab Allah dan mengejek pembuatan bahtera (safinah). Ketika Nabi Nuh mulai membangun kapal besar di atas daratan kering berdasarkan wahyu Allah, setiap kali pemuka kaumnya lewat, mereka mengejeknya sebagai orang gila yang membuat kapal di tempat yang tidak berair (QS. Hud [11]:38). Menanggapi hal ini, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda mengenai keteguhan Nabi Nuh yang tetap fokus melaksanakan perintah Allah di tengah gelombang cemoohan, menunjukkan bahwa validitas sebuah kebenaran tidak ditentukan oleh opini mayoritas yang tersesat.
Ketika kezaliman telah mencapai titik jenuh dan tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk beriman, Allah SWT menurunkan keputusan-Nya melalui peristiwa Thufan (banjir besar). Air tercurah dari langit dan memancar dari bumi hingga menenggelamkan segala bentuk keangkuhan manusia. Hal yang paling tragis dari peristiwa ini adalah keterlibatan putra Nabi Nuh sendiri, Kan’an, dan istrinya yang memilih berada di barisan kaum yang zalim. Peristiwa tragis ini menegaskan konsep teologis yang sangat mendasar dalam Islam: bahwa hidayah adalah hak mutlak Allah SWT, dan hubungan nasab atau darah tidak dapat menyelamatkan seseorang dari keadilan hukum Allah jika ia memilih jalan kekufuran.
Bagi umat Islam kontemporer, khususnya para pengemban dakwah, keteladanan Nabi Nuh memberikan motivasi dan pelajaran metodologis yang sangat berharga. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya menekankan bahwa perjuangan Nabi Nuh mengajarkan arti penting kesabaran strategis (ash-shabr al-jamil). Dakwah bukanlah tentang melihat hasil akhir yang instan atau kuantitas pengikut, melainkan tentang konsistensi dalam menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang makruf. Ketika seorang Muslim melakukan mawas diri dan berdakwah untuk memperbaiki diri serta umat, mereka harus siap menghadapi tantangan zaman dengan keteguhan hati yang serupa.
Narasi dakwah Nabi Nuh alaihis salam adalah potret kontras antara kegigihan tauhid yang luhur dan kezaliman kekufuran yang membutakan mata hati. Melalui ketekunan hampir seribu tahun, Nabi Nuh telah menunaikan amanat risalah-Nya dengan sempurna, menjadikannya teladan abadi bagi umat manusia dalam menegakkan syiar Allah di muka bumi. Sebaliknya, kehancuran kaumnya menjadi peringatan keras bahwa kesombongan terhadap hukum Allah dan penindasan terhadap sesama manusia hanya akan berujung pada kebinasaan. Perjuangan ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk terus berdakwah dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan harapan total hanya kepada Allah SWT.
Baiturrahim, Padang, 3 Muharam 1448 H, 18 Juni 2026
Disarikan dari Al-Quran dan sumber-sumber lainnya.