Mengenang Dang Shaka dan Menemani Duka Ayahanda Zulkarnaini Diran
Oleh Zulheldi

Saya membaca tulisan Ayahanda Zulkarnaini Diran, “Allah Menguji Hamba-Nya”, bukan hanya sebagai sebuah renungan keagamaan tentang musibah dan keteguhan iman. Di balik rangkaian ayat, hadis, dan nasihat yang Ayahanda sampaikan, saya mendengar suara seorang kakek yang sedang berusaha menata kesedihannya setelah kehilangan cucu tercinta, Arshaka Adnan Athaya bin Andi Martono, yang dalam keluarga dipanggil Dang Shaka. Sebagai seseorang yang telah Ayahanda perlakukan dan sayangi seperti anak sendiri, saya tidak dapat membaca tulisan itu dari kejauhan. Saya membacanya dengan hati yang turut berduka, sembari menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua Dang Shaka, kepada Ayahanda dan Ibunda, serta kepada seluruh keluarga yang mencintainya.
Tulisan Ayahanda memperlihatkan ikhtiar seorang mukmin mengembalikan kehilangan kepada fondasi tauhid. Apa pun yang hadir dalam kehidupan, termasuk orang orang yang paling kita cintai, pada hakikatnya merupakan amanah Allah. Karena itu, ketika amanah tersebut kembali kepada Pemiliknya, manusia dipanggil untuk beristirjâ‘, bersabar, bertawakal, dan belajar menerima ketetapan-Nya. Saya tidak menulis tanggapan ini untuk mengoreksi renungan Ayahanda. Saya justru ingin berjalan beberapa langkah di jalan yang telah Ayahanda buka. Ayahanda sendiri telah mengakui bahwa seorang mukmin yang kuat tetap dapat mengalami guncangan dan kesedihan, serta bahwa keberhasilan menghadapi musibah tidak berarti rasa sedih lenyap seketika. Pengakuan itulah yang ingin saya dekati dengan penuh kasih.
Sebab, kehilangan tidak hanya menyentuh pikiran yang memahami bahwa semua akan kembali kepada Allah. Kehilangan juga menyentuh hati yang mencintai, mata yang terbiasa melihat, tangan yang pernah memeluk, rumah yang pernah diisi kehadiran, dan masa depan yang pernah dibayangkan bersama. Iman tidak meminta manusia berhenti menjadi manusia. Sabar tidak berarti mata tidak boleh meneteskan air. Rida tidak berarti hati tidak lagi merasakan kehilangan. Ikhlas pun tidak berarti keluarga harus menghapus Dang Shaka dari ingatan. Sabar adalah kekuatan untuk menjaga hati, lisan, dan langkah tetap menghadap Allah ketika perpisahan terasa begitu menyakitkan. Air mata tidak selalu menandakan kelemahan iman; ia dapat menjadi bahasa kasih ketika kata-kata tidak lagi sanggup mewakili isi hati.
Air Mata di Dalam Sabar
Rasulullah SAW sendiri memperlihatkan hal itu ketika putranya, Ibrahim, berada pada penghujung hidupnya. Beliau mengambil dan mencium putra kecilnya, lalu kedua mata beliau meneteskan air mata. Ketika ‘Abd al-Rahmân bin ‘Auf tampak heran melihat tangisan tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa air mata itu adalah rahmat. Setelah Ibrahim wafat, beliau berkata bahwa mata meneteskan air, hati bersedih, tetapi lisan tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridai Allah. Beliau kemudian mengakui betapa sedih hatinya karena berpisah dengan Ibrahim (HR. al-Bukhârî, no. 1303). Dalam diri Rasulullah, air mata, kesedihan, kasih sayang, sabar, dan rida tidak saling meniadakan. Semuanya hadir dalam satu hati yang sepenuhnya tunduk kepada Allah.
Karena itu, Islam membedakan dengan jelas antara air mata yang lahir dari kasih sayang dan ratapan yang melampaui batas. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah tidak menghukum seseorang karena air mata yang menetes dari matanya atau karena kesedihan yang bersemayam di dalam hatinya. Beliau kemudian menunjuk lisannya sebagai bagian yang harus dijaga (HR. Muslim, no. 924). Menangis tidak sama dengan menggugat Allah. Bersedih tidak sama dengan berputus asa dari rahmat-Nya. Merindukan orang yang telah pergi tidak berarti menolak takdir. Islam membimbing agar kesedihan tidak melahirkan ucapan ataupun tindakan yang melampaui batas. Karena itu, keluarga tidak perlu merasa bersalah apabila air mata masih mengalir ketika nama Dang Shaka disebut. Yang dijaga bukan agar mata tidak pernah menangis, melainkan agar hati tetap terhubung kepada Allah.
Al-Qur’an juga memperlihatkan bahwa kesabaran yang indah dapat berjalan bersama kesedihan yang sangat dalam. Nabi Ya‘qûb berkata, fa shabrun jamîl—maka kesabaran yang indahlah bagiku. Namun, al-Qur’an tidak menyembunyikan dukanya. Kesedihannya terhadap Yûsuf begitu mendalam hingga al-Qur’an menggambarkan kedua matanya memutih karena duka. Ia kemudian berkata, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS Yûsuf [12]:83–86). Kesabarannya tidak terletak pada ketiadaan rasa sedih, tetapi pada arah pengaduannya. Ia membawa dukanya kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Dari sini kita belajar bahwa doa tidak selalu harus berisi kata-kata yang tersusun indah. Kadang-kadang doa hadir sebagai tangisan, keluhan yang jujur, atau penyebutan nama orang yang dirindukan di hadapan Allah.
Cinta yang Berubah Bentuk
Duka tidak selalu berjalan dalam garis yang lurus. Ada hari ketika hati terasa lebih tenang, kemudian kesedihan datang kembali tanpa diduga. Sebuah foto, ruangan, pakaian, waktu tertentu, atau sekadar penyebutan nama dapat menghadirkan kembali rasa kehilangan. Setiap anggota keluarga pun mungkin mengalaminya dengan cara yang berbeda. Ada yang mudah menangis, ada yang lebih banyak diam, ada yang mencari ketenangan melalui doa, dan ada pula yang menyibukkan diri dengan urusan keluarga. Perbedaan itu tidak menentukan siapa yang paling mencintai Dang Shaka, siapa yang paling sabar, atau siapa yang paling ikhlas. Luka tidak mempunyai satu bentuk, dan hati manusia tidak harus pulih menurut jadwal yang ditentukan oleh orang lain.
Kedua orang tua Dang Shaka mengalami kehilangan seorang anak, sebuah perpisahan yang kedalamannya tidak dapat diukur hanya dengan kata-kata. Sementara itu, kakek dan nenek menghadapi duka yang berlapis: kehilangan cucu yang disayangi sekaligus menyaksikan anak mereka sendiri menanggung kesedihan sebagai orang tua. Boleh jadi Ayahanda merasa perlu tetap teguh agar dapat menguatkan seluruh keluarga. Namun, keteguhan tidak mengharuskan Ayahanda selalu menyembunyikan air mata. Seorang tokoh keluarga yang beriman tetap boleh menjadi seorang kakek yang kehilangan. Menerima pelukan, berbagi cerita, meminta didoakan, atau sekadar duduk dalam diam bersama orang-orang terdekat bukanlah tanda kelemahan. Kadang-kadang kekuatan justru tampak dalam keberanian mengakui bahwa hati sedang terluka.
Di tengah seluruh pembicaraan tentang ujian, sabar, dan rida, Dang Shaka perlu tetap dikenang sebagai seorang anak yang sungguh-sungguh dicintai. Arshaka Adnan Athaya bin Andi Martono hadir dalam keluarga selama satu tahun tiga bulan. Usianya memang singkat, tetapi nilai sebuah kehidupan tidak hanya diukur dari lamanya seseorang tinggal di dunia. Kehadiran seorang anak dapat memenuhi rumah dengan kasih dan perhatian, menumbuhkan ikatan antarkeluarga, dan meninggalkan tempat khusus di dalam hati orang-orang yang menyayanginya. Karena itu, Dang Shaka bukan sekadar “ujian” yang harus dilalui oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya. Ia adalah anak, adik, cucu, dan bagian dari keluarga yang keberadaannya bermakna. Kepergiannya menyakitkan justru karena kehadirannya disambut dan dirawat dengan cinta.
Kematian memang mengakhiri kebersamaan secara fisik, tetapi tidak menghapus cinta dan makna hubungan yang pernah terjalin. Keluarga tidak harus melupakan Dang Shaka untuk membuktikan penerimaan terhadap takdir Allah. Namanya tetap boleh disebut dalam doa, kehadirannya boleh dikenang dalam percakapan keluarga, dan rasa sayang kepadanya dapat diteruskan dalam bentuk yang baru. Cinta itu dapat menjelma menjadi kelembutan yang lebih besar antarsesama anggota keluarga, perhatian kepada saudara-saudaranya, kepedulian kepada orang tua yang sedang terluka, dan kebaikan kepada keluarga lain yang mengalami kehilangan serupa. Mengenang bukan berarti menolak kenyataan bahwa ia telah pergi. Mengenang adalah cara hati menghormati sebuah kehadiran yang singkat, tetapi meninggalkan kasih yang mendalam.
Harapan yang Tidak Berakhir
Dalam keadaan seperti inilah ucapan innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn memperoleh maknanya yang paling dalam. Istirjâ‘ bukan kalimat untuk menghentikan tangisan atau menutup pembicaraan mengenai orang yang telah wafat. Ia adalah pengakuan bahwa kita, orang-orang yang kita cintai, umur, dan seluruh kebersamaan merupakan milik Allah. Kepada-Nya semuanya kembali, dan kepada rahmat serta pemeliharaan-Nya kita menyerahkan orang-orang yang kita cintai. QS al-Baqarah [2]:155–157 tidak hanya berbicara tentang ujian dan kesabaran. Setelah menyebut orang-orang yang beristirjâ‘, Allah menjanjikan kepada mereka keberkahan, rahmat, dan petunjuk. Karena itu, keluarga yang berduka tidak hanya diperintahkan untuk bertahan; mereka juga berada dalam pengharapan akan pemeliharaan dan bimbingan Allah sepanjang perjalanan kehilangan ini.
Rasulullah SAW juga meninggalkan kabar yang menenteramkan bagi orang tua yang kehilangan anak kecil. Dalam hadis sahih, anak-anak kecil kaum Muslimin digambarkan berada dalam kenikmatan surga dan kelak menyambut ayah atau kedua orang tuanya, lalu tidak melepaskan mereka sampai Allah memasukkan mereka bersama ke dalam surga (HR. Muslim, no. 2635). Hadis ini memberi dasar yang kuat bagi kedua orang tua Dang Shaka untuk memelihara harapan akan sebuah pertemuan yang tidak lagi diakhiri oleh kematian. Adapun bagi Ayahanda, Ibunda, dan seluruh keluarga besar, kita berdoa agar Allah meliputi semuanya dengan rahmat-Nya. Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa seorang mukmin yang kehilangan orang yang sangat dicintainya, lalu mengharapkan pahala dari Allah, memperoleh balasan surga (HR. al-Bukhârî, no. 6424).
Semoga Allah memelihara Dang Shaka dalam keluasan rahmat-Nya dan menjadikannya penyejuk bagi kedua orang tuanya di akhirat. Semoga Allah menganugerahkan kepada Esa Puti Setia Zul dan Andi Martono kesabaran yang indah, kekuatan untuk saling menjaga, dan hati yang tetap dipenuhi pengharapan. Semoga Ayahanda, Ibunda, saudara-saudaranya, serta seluruh keluarga diberi ketabahan dalam menjalani hari-hari yang telah berubah. Semoga, seiring perjalanan waktu dan pertolongan Allah, setiap kenangan tentang Dang Shaka tidak hanya membawa perihnya kehilangan, tetapi juga menghadirkan kehangatan cinta yang pernah Allah titipkan melalui kehadirannya. Dan semoga Allah mempertemukan semuanya kembali dalam surga-Nya, dalam sebuah perjumpaan yang tidak lagi disusul oleh perpisahan.
