Oleh Zulkarnaini Diran

Fungsi otak akan berkurang secara bertahap seiring dengan bertambah usia. Proses kepikunan (kehilangan fungsi otak) dapat diperlambat atau dicegah dengan empat hal. Keempat hal itu adalah tidur yang cukup dan berkualitas, mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat, melakukan olah tubuh secara teratur, dan menjaga ketenangan pikiran dan kalbu. Konsistensi melakukan keempat hal itu, insyaallah dapat memperlambat proses dan mengurangi kepikunan.
Kehilangan fungsi otak berarti kehilangan segalanya. Seiring dengan bertmbahnya usia, ingatan mulai meredup. Sering lupa kejadian masa lalu. Kadang-kadang nama-nama orang terdekat pun lupa. Wajah dikenal namanya lupa. Kejadian yang merupakan kenangan manis selama bertahun-tahun tidak dapat diingat lagi. Memori otak kemudian benar-benar kosong. Begitulah kemudian, pikunpun datang.
Proses itu memang berlangsung secara alami. Para pakar mengungkapkan. Proses itu dapat diperlambat, bahkan mungkin dapat dihentikan. Artinya, pikun dapat dihindari. Tindakan yang disarankan adalah keempat hal di atas. Jika itu dilakukan sungguh-sungguh, teratur, dan konsisten, isnyaallah kepikunan dapat diperlaambat atau dihentikan sama sekali.
Otak adalah pusat kendali dari seluruh aktivitas kehidupan manusia, mulai dari kemampuan berpikir, mengingat, merasakan, hingga menggerakkan anggota tubuh. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, fungsi organ yang sangat vital ini secara alamiah akan mengalami penurunan. Kehilangan fungsi otak secara bertahap yang sering dikenal dengan istilah kepikunan (dementia) bukan sekadar masalah sering lupa meletakkan benda, melainkan pudarnya kemampuan kognitif yang perlahan merenggut kemandirian seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangan medis dan neurologi, pikun terjadi akibat berkurangnya volume otak, penurunan jumlah sel saraf (neuron), serta melemahnya sambungan antarsaraf (sinaps). Selain faktor penuaan alami, terdapat berbagai faktor penyebab yang mempercepat proses ini, seperti gaya hidup tidak sehat, kurangnya stimulasi mental, stres kronis, hingga penyakit vaskular seperti hipertensi dan stroke. Ketika ingatan meredup, kenangan manis bertahun-tahun menghilang, dan nama-nama orang terdekat tak lagi teringat, seseorang seolah kehilangan jembatan yang menghubungkan dirinya dengan realitas kehidupan.
Al-Qur’an secara tersirat menggambarkan fase penurunan fungsi kognitif, “Allah telah menciptakanmu, kemudian mewafatkanmu. Di antara kamu ada yang dikembalikan pada usia yang tua renta (pikun) sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS An-Nahl [16]: 70). Fenomena kehilangan memori ini menegaskan betapa rentannya manusia tanpa penjagaan kesehatan fisik dan jiwa. Kendati proses penuaan adalah sunatullah, para pakar saraf modern menegaskan bahwa kepikunan bukanlah takdir absolut yang tidak bisa diikhtiarkan; proses penurunannya dapat diperlambat, ditahan, bahkan dicegah melalui terapi gaya hidup yang tepat.
Langkah pertama yang sangat krusial dalam merawat otak adalah menjaga tidur yang cukup dan berkualitas. Saat seseorang tidur nyenyak (deep sleep), otak melakukan proses pembersihan mandiri melalui sistem glimfatik (glymphatic system) untuk membuang racun-racun sisa metabolisme, termasuk protein beta-amyloid yang menjadi penyebab utama penyakit alzheimer. Dari sudut pandang Islam, tidur bukan sekadar rehat fisik, melainkan nikmat penyeimbang kehidupan sebagaimana firman Allah, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS An-Naba’ [78]: 9). Tidur malam yang teratur dan berkualitas memberi kesempatan bagi sel-sel otak untuk meregenerasi memori dan memulihkan fungsinya secara optimal.
Langkah kedua adalah mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat. Otak manusia memiliki sifat fleksibilitas luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk jalur saraf baru setiap kali kita mempelajari ilmu, keterampilan, atau bahasa baru. Belajar secara berkelanjutan bertindak sebagai “senam otak” yang memperkuat cadangan kognitif (cognitive reserve). Rasulullah SAW menekankan pentingnya menuntut ilmu tanpa batasan usia, mulai dari buaian hingga liang lahad. Dengan terus membaca, menghafal Al-Qur’an, menelaah hikmah, atau mempelajari keterampilan baru, dan menuliskita secara aktif, menstimulasi jaringan saraf agar tetap segar dan tidak membusuk oleh kekakuan.
Langkah ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan olah tubuh secara teratur. Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, berenang, bersepeda santai, atau senam ringan secara rutin meningkatkan aliran darah, oksigen, dan nutrisi penting ke otak. Olahraga merangsang pelepasan zat kimia otak yang disebut Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berfungsi memicu pertumbuhan sel-sel saraf baru dan melindungi sel yang ada dari kerusakan. Islam sangat mendukung kondisi fisik yang bugar dan kuat. Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Keaktifan bergerak adalah investasi fisik terbaik untuk menjaga vitalitas organ tubuh, termasuk otak.
Langkah keempat adalah menjaga ketenangan pikiran dan kalbu. Stres berlebihan memicu hormon kortisol yang dalam jangka panjang dapat merusak area hipokampus, yaitu bagian otak yang bertanggung jawab atas pembentukan dan penyimpanan memori. Ketenangan jiwa (jiwa muthma’innah) dapat dicapai melalui ikhtiar spiritual seperti zikir, doa, salat yang khusyuk, serta sikap ikhlas dan maaf. Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28). Kedamaian batin dan kepasrahan kepada Allah terbukti secara ilmiah menurunkan tingkat peradangan sistemik dan melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat stres oksidatif.
Keempat pilar penangkal kepikunan ini—tidur berkualitas, belajar tiada henti, olahraga teratur, dan ketenangan batin—tidak dapat berjalan sendiri-sendiri secara terpisah. Keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi (istiqamah) dalam menerapkannya sebagai pola hidup sehari-hari. Sebuah amalan yang dilakukan secara kontinu, meskipun sederhana, jauh lebih berdampak bagi kesehatan tubuh dan jiwa dibandingkan usaha besar yang hanya dilakukan sesekali. Sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadisnya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika seseorang mampu menjalankan keempat ikhtiar ini secara sungguh-sungguh dan disiplin, fungsi otak akan terjaga dari penurunan yang drastis. Cadangan kognitif yang terbangun dari proses belajar dan olahraga akan menopang fungsi memori, sementara tidur yang cukup dan kalbu yang tenang meminimalkan risiko kerusakan sel-sel saraf. Dengan demikian, kejernihan berpikir dan daya ingat dapat dipertahankan hingga usia senja, sehingga seseorang tetap dapat beraktivitas secara mandiri, beribadah dengan khusyuk, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Proses penuaan memang masa depan yang pasti dihampiri oleh setiap insan yang dianugerahi umur panjang. Namun, bagaimana kondisi kita saat memasuki masa tua sangat ditentukan oleh bagaimana kita merawat aset terbuat dari karunia Allah ini di hari ini. Kepikunan bukanlah hal yang harus ditunggu pasrah, melainkan kondisi yang bisa diikhtiarkan pencegahannya melalui perpaduan disiplin ilmu kesehatan dan kepatuhan terhadap tuntunan agama.
Merawat otak pada hakikatnya adalah bentuk rasa syukur (syukur bi al-hal) atas salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan menjaga fungsi otak, kita menjaga akal sehat yang menjadi syarat utama jalannya kewajiban syariat (taklif) dan penentu martabat kemanusiaan kita. Otak yang terawat dengan baik akan menjaga ingatan kita tetap hangat terhadap kebaikan, kenangan indah bersama keluarga, serta ketauhidan kepada Sang Pencipta.
Jadi,kepikunan atau penurunan fungsi otak dapat diperlambat dan dicegah melalui pendekatan holistik yang menyatukan kesehatan fisik, stimulasi mental, dan kedamaian spiritual. Dengan menjaga kualitas tidur, terus menuntut ilmu, aktif bergerak, dan merawat ketenangan kalbu secara istiqamah, insyaallah kita dapat menikmati masa tua yang sehat, bermartabat, dan tetap produktif. Kehilangan fungsi otak memang terasa seperti kehilangan segalanya, namun dengan ikhtiar yang tepat dan doa yang tulus, kita dapat menjaga akal dan memori tetap terang benderang hingga akhir hayat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Padang, 26 Juli 2026
Disarikan dari berbagai sumber bacaan.