SUAMI PENDIDIK BAGI KELUARGA

Oleh Zulkarnaini Diran

Adh-Dhahak berkata, “Kewajiba bagi seeorang suami adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, termasuk budak laki-laki atau perempuan. Ajarkan mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.”  Sementara itu Ibnu Abbas menjelaskan, “Lakukan ketaatan kepada Allah dan hati-hati dengan maksiat. Perintahkan keluarga kalian untuk mengingat Allah (berzikir), niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari jilatan neraka.” Pendapat kedua ulama besar ini menyiratkan dua hal pokok. Kedua hal pokok itu adalah tentang tugas seorang suami dan substansi atau isi tugas. Keduanya menyiratkan bahwa suami adalah pendidik bagi keluarganya.

Sebagai pendidik di dalam keluarga, suami perlu bekal. Bekal itu meliputi ilmu yang memadai, iman yang kuat, amal yang ikhlas, dan akhlak yang mulia. Dengan bekal itu, suami akan mendidik keluarganya melalui hati, lisan, dan perbuatan. Ketiganya akan memunculkan karakter atau perilaku suami yang dapat diteladani oleh istri, anak-anak, dan para kerabat serta tetangga. Jika semua suami mengemban perannya sebagai pendidik, di situlah akan lahir masyarakat islami yang memberi rahmat bagi alam semesta.

Di dalam struktur keluarga Islami, seorang suami bukan sekadar pencari nafkah material untuk memenuhi kebutuhan fisik istri dan anak-anaknya. Lebih dari itu, yaitu fungsi vital suami sebagai kepala rumah tangga yang sekaligus bertindak sebagai pendidik (murabbi dan mu’addib) utama. Peran kepemimpinan ini menuntut adanya tanggung jawab spiritual, moral, dan intelektual agar roda kehidupan rumah tangga berjalan di atas pijakan nilai-nilai keimanan yang kokoh.

Kewajiban suami mendidik keluarga berakar kuat dari perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim [66]: 6). Imam Ali bin Abi Thalib RA ketika menjelaskan ayat ini menyatakan, “Ajarkanlah agama kepada diri kalian dan keluarga kalian, serta didiklah mereka.” Ayat ini menggarisbawahi bahwa keselamatan keluarga dari siksa akhirat berada di bawah tanggung jawab pengajaran dan pendidikan yang diberikan oleh kepala keluarga, Sang Suami.

Substansi atau isi utama dari pendidikan yang harus ditanamkan oleh seorang suami adalah ketaatan kepada Allah SWT serta penjagaan diri dari perbuatan maksiat. Sebagaimana dikutip dari Ibnu Abbas RA, kunci utama dalam mengarungi kehidupan adalah melakukan ketaatan, menjauhi maksiat, dan memerintahkan keluarga untuk senantiasa berzikir (mengingat Allah). Pendidikan yang paling berharga bukanlah seberapa tinggi status sosial atau kualifikasi akademik yang dicapai anak dan istri, melainkan seberapa kuat keterikatan hati mereka kepada Sang Pencipta.

Pendapat Adh-Dhahak menekankan pentingnya pengajaran hal-hal mendasar yang bersifat praktis dan syari. Suami wajib mengajari istri, anak-anak, kerabat, hingga orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya mengenai perkara-perkara yang diwajibkan oleh Allah (seperti shalat, puasa, dan tauhid) serta hal-hal yang dilarang-Nya (seperti syirik, maksiat, dan kezaliman). Pembelajaran ini menjadi benteng utama agar setiap anggota keluarga memahami batas-batas hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjalankan peran pendidikan yang berat namun mulia ini, seorang suami membutuhkan bekal yang matang. Bekal pertama adalah ilmu yang memadai, sebab tidak mungkin seseorang dapat mengajarkan kebenaran tanpa memahaminya terlebih dahulu. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Bekal kedua adalah iman yang kuat, yang menjadi motor penggerak keteguhan hati suami dalam membimbing keluarganya di tengah terpaan ujian kehidupan.

Bekal ketiga adalah amal yang ikhlas, yakni mengamalkan ilmu semata-mata mencari keridhaan Allah SWT tanpa mengharapkan pujian dari manusia. Bekal keempat yang sangat krusial adalah akhlak yang mulia. Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik dalam berinteraksi dengan keluarga. Beliau bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi). Dengan akhlak mulia, pesan-pesan kebaikan yang disampaikan suami akan mudah diterima dan diresapi oleh anggota keluarga.

Pendidikan dalam rumah tangga harus disalurkan melalui tiga jalur terpadu: hati, lisan, danperbuatan. Mendidik melalui hati dilakukan dengan doa yang tulus serta kasih sayang yang mendalam. Mendidik melalui lisan diwujudkan dalam bentuk nasihat yang santun, dialog yang konstruktif, dan pengajaran yang sabar (mau’izhah hasanah). Sedangkan mendidik melalui perbuatan ditunjukkan dalam bentuk keteladanan (uswah hasanah) yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak dan istri lebih mudah menyerap pelajaran dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang sekadar mereka dengar. Ketika seorang suami menampilkan karakter terpuji—seperti jujur, penyabar, adil, dan rajin beribadah—maka ia telah memberikan contoh nyata (keteladanan) bagi istri, anak-anak, kerabat, hingga tetangga sekitar. Keteladanan ini memunculkan wibawa yang lahir dari rasa hormat dan cinta, bukan dari rasa takut atau pemaksaan.

Dampak dari berjalannya fungsi suami sebagai pendidik tidak berhenti di dalam dinding rumah tangga saja. Rumah tangga adalah unit terkecil dari sebuah bangsa dan peradaban. Jika setiap suami mampu mendidik keluarganya dengan ketaatan dan akhlak karimah, maka kumpulan keluarga-keluarga baik ini akan membentuk masyarakat Islami yang solid, damai, dan beradab. Masyarakat inilah yang pada akhirnya memancarkan rahmat dan kedamaian bagi alam semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).

Jadi, suami bukan sekadar penanggung beban materiil, melainkan pemegang kendali pendidikan spiritual dan moral keluarga. Dengan berbekal ilmu, iman, amal ikhlas, dan akhlak mulia, serta mengedepankan ketaatan kepada Allah SWT, seorang suami akan mampu membawa keluarganya menuju keselamatan di dunia dan akhirat, sekaligus berkontribusi nyata dalam membangun peradaban masyarakat yang islami dan penuh rahmat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Manna, Bengkulu Selatan, 31 Juli 2026

Disarikan dari berbagai sumber bacaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *