Oleh Zulkarnaini Diran

Dikagumi di luar, dibenci di dalam. Dianggap berhasil oleh orang-orang, namun dipertanyakan oleh istri dan anak-anak. Hal ini terjadi karena kesibukan mencari nafkah, mengejar karir, memburu popularitas, dan aktivitas tambahannya telah menjebak kita dalam kesuksesan semu. Oleh aktivitas-aktivitas itu, hampir semua waktu, tenaga, dan pikiran tersita habis. Benar-benar habis sehingga tidak sedikit pun tersisa untuk keluarga, untuk istri dan anak-anak. Inilah di antara gambaran “sukses semu” yang terlihat dalam fenomena keseharian saat ini.
Sibuk mencari nafkah, mengejar karir, memburu popularitas adalah wajar dan biasa. Syogyanya kesibukan itu jangan sampai mengurangi hak-hak keluarga. Istri memiliki hak atas suami, anak-anak pun membutuhkan keberadaan ayahnya. Satu dari sekian hak istri yang harus dibayarkan suami adalah “perhatian dan penerimaan”. Istri memerlukan itu untuk mensupornya sebagai ibu dari anak-anak. Anak-anak juga berhak mendapat belaian dan kasih sayang sang ayah. Akan tetapi, oleh kesibukan yang kadang-kadang sang ayah asyik sendiri, menjadikan hak-hak istri dan anak-anak tidak terbayarkan. Dianggap berhasil di luar, dipertanyakan oleh istri dan anak-anak. “Kesuksesan semu!”
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan sarat kompetisi, tolok ukur kesuksesan seseorang sering kali mengalami pergeseran makna. Keberhasilan cenderung diukur secara dangkal melalui pencapaian materi, tingginya jabatan struktural, luasnya jangkauan pengaruh, serta banyaknya apresiasi publik. Ketika sorak-sorai kekaguman terdengar nyaring dari luar, tidak sedikit orang yang merasa telah mencapai puncak kejayaan hidupnya. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan masyarakat, ada sebuah realitas tersembunyi yang kerap kali luput dari pengamatan: kehampaan dan keretakan di dalam rumah tangga sendiri.
Fenomena “dikagumi di luar, tetapi dibenci di dalam” merupakan manifestasi nyata dari kesuksesan semu. Seseorang dapat dipandang sebagai figur yang berhasil, cerdas, dan dermawan oleh rekan sejawat maupun masyarakat luas. Namun, pada saat yang sama, keberadaannya justru dipertanyakan atau bahkan diabaikan oleh istri dan anak-anaknya. Keadaan ini timbul akibat seluruh kapasitas diri—waktu, energi, perhatian, hingga daya pikir—terkuras habis untuk mengejar target-target eksternal. Ketika rumah tinggal hanya dijadikan tempat transit untuk melepaskan lelah fisik tanpa ada keterikatan jiwa, maka hubungan kekeluargaan perlahan akan merenggang dan kehilangan kehangatannya.
Memenuhi kebutuhan finansial, mengejar jenjang karir yang mapan, serta membangun reputasi sosial pada hakikatnya adalah aktivitas yang wajar, mulia, dan bernilai ibadah jika didasari niat yang benar. Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menjadi pribadi yang berprestasi dan produktif di ranah publik. Namun, persoalan mendasar muncul ketika aktivitas-aktivitas tersebut berubah menjadi jebakan yang menyita seluruh ruang kehidupan, sehingga hak-hak primer anggota keluarga terabaikan. Karir dan popularitas yang dikejar dengan mengorbankan kebahagiaan keluarga adalah sebuah transaksi yang tidak seimbang dan merugikan.
Salah satu hak esensial istri yang sering kali terabaikan di tengah kesibukan suami adalah kebutuhan akan perhatian, empati, dan penerimaan secara utuh. Seorang istri tidak hanya memerlukan kecukupan materi, melainkan juga dukungan emosional yang konstan dari suaminya. Perhatian dan penerimaan tersebut menjadi energi spiritual dan psikologis bagi istri dalam menjalankan perannya yang kompleks sebagai pengelola rumah tangga dan pendidik utama bagi anak-anak. Ketika suami mengabaikan interaksi bermakna ini, istri akan merasa berjuang sendirian, yang pada akhirnya memicu rasa keterasingan di dalam rumah tangganya sendiri.
Begitu pula dengan anak-anak, mereka memiliki hak mutlak untuk mendapatkan kasih sayang, belaian hangat, serta kehadiran fisik dan emosional dari seorang ayah. Kehadiran figur ayah dalam proses tumbuh kembang anak tidak dapat digantikan oleh deretan mainan mahal atau fasilitas finansial semata. Anak-anak membutuhkan sosok ayah yang bersedia mendengarkan cerita mereka, memberikan keteladanan, serta memberikan rasa aman. Ayah yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri secara tidak langsung sedang mencabut hak dasar anak untuk mendapatkan pengasuhan yang utuh dan berimbang.
Prinsip tanggung jawab terhadap keluarga ini berakar kuat dalam ajaran Al-Qur’an. Allah SWT secara tegas mengingatkan setiap kepala keluarga, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharahalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At-Tahri [66]: 6) Ayat ini menegaskan bahwa amanah utama seorang pemimpin keluarga bukan sekadar memberi makan dan tempat tinggal, melainkan menjaga keselamatan spiritual dan moral anggotanya. Penjagaan tersebut hanya dapat terwujud apabila seorang ayah hadir secara aktif memberikan bimbingan, perhatian, dan kasih sayang di tengah-tengah keluarganya.
Landasan ini diperkuat oleh petunjuk Rasulullah SAW yang menempatkan kebaikan terhadap keluarga sebagai standar tertinggi dari kebaikan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Tirmizi) Hadis ini meruntuhkan anggapan bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh pengakuan masyarakat luar. Pengakuan sejati justru datang dari mereka yang tinggal di bawah satu atap, yang menyaksikan secara langsung akhlak dan komitmen harian kita.
Para ulama dan teolog Islam sepanjang sejarah juga telah memberikan peringatan keras terkait keseimbangan ini. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya ‘Ulumuddin, menekankan bahwa mencari nafkah dan beraktivitas di luar rumah adalah bagian dari kewajiban agama, namun mengabaikan pendidikan akhlak dan kesejahteraan emosional keluarga demi mengejar kemewahan duniawi merupakan bentuk kelalaian jiwa (ghaflah). Senada dengan hal tersebut, Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah menegaskan bahwa kerusakan pada diri anak sebagian besar bersumber dari kelalaian para ayah yang mengabaikan pendidikan dasar dan kehadiran emosional bagi anak-anak mereka sejak dini.
Dampak jangka panjang dari kesuksesan semu ini sangat nyata dan membahayakan kelangsungan generasi. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang hangat berisiko mengalami krisis identitas dan kemiringan karakter. Sementara itu, ikatan pernikahan yang kering dari perhatian akan berubah menjadi rutinitas yang hampa rasa. Pada akhirnya, ketika usia melanjut dan popularitas atau jabatan luar mulai memudar, seseorang akan menyadari betapa sepinya pencapaian yang diperoleh jika pada saat yang sama ia telah kehilangan hati dan penghormatan dari istri serta anak-anaknya.
Untuk keluar dari jebakan kesuksesan semu ini, diperlukan kesadaran untuk melakukan penataan ulang prioritas hidup (tawazun). Bekerja keras dan berprestasi di luar rumah harus diimbangi dengan komitmen untuk menyediakan waktu berkualitas (quality time) bagi keluarga. Manajemen waktu yang bijaksana, keberanian untuk membatasi aktivitas sekunder yang tidak esensial, serta niat yang tulus untuk menjadikan rumah sebagai pusat ketenangan dan ibadah adalah langkah nyata dalam membayarkan hak-hak istri dan anak secara adil.
Kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa riuh tepuk tangan publik atau seberapa tinggi sanjungan yang diterima di luar sana. Kesuksesan yang hakiki adalah keberhasilan menunaikan amanah Allah secara seimbang, baik di medan bakti masyarakat maupun di dalam lingkar domestik rumah tangga. Ketika seorang suami dan ayah berhasil menghadirkan ketenangan, rasa dicintai, dan bimbingan moral di dalam rumahnya, maka kebahagiaan yang terpancar dari mata istri dan anak-anaknya adalah wujud nyata dari sukses yang berlanjut hingga ke akhirat. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Manna, Bengkulu Selatan, 08 Agustus 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman sebagai suami dan bapak bagi anan-anak.