MEMILIH TUJAUAN PENDIDIKAN ANAK

Oleh Zulkarnaini Diran

Ayah – Bunda dapat memilih tujuan pendidikan bagi anak-anaknya. Tujuan pendidikan ideal keluarga muslim adalah membentuk anak yang shaleh dan shalehah. Hanya itu, ya itulah seharusnya. Akan tetapi dengan memilih itu, berarti pola yang diterapkan akan berbeda dengan yang lain. Kata-kata yang banyak “membius” orang tua untuk tujuan pendidikan anaknya adalah membentuk anak cerdas, terampil, mandiri, kereatif, dan sejenisnya. Oleh karena boleh memilih, tentu saja pilihan yang ini tidaklah salah. Pertimbangan matang dan keputusan akhir tetap berpulang kepada kedua orang tua.

Pendidikan untuk membentuk anak saleh dan salehah tentu berbeda polanya dengan  membentuk anak cerdas, terampil, mandiri, dan kreatif. Pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan tentu pula berbeda karena hasil yang diharapkan berbeda. Perbedaan pola itu memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kedua orang yang siap pakai untuk mencapainya. Artinya, ayah – bunda perlu bekal yang cukup untuk melaksanakan salah satu dari kedua pola tersebut.

Dalam kehidupan keluarga muslim, menetapkan tujuan pendidikan anak merupakan fondasi utama yang akan menentukan arah pengasuhan, pembentukan karakter, hingga masa depan sang anak. Setiap orang tua memegang kendali penuh atas keputusan ini, sehingga pertimbangan yang matang dan berpandangan jauh ke depan sangat diperlukan. Memahami bahwa pilihan tujuan akan membawa konsekuensi pada pola asuh adalah langkah awal yang sangat krusial.

Secara umum, terdapat dua kecenderungan arah pendidikan anak yang sering ditemui. Pertama, pendidikan yang berfokus pada capaian duniawi dengan membentuk anak yang cerdas, terampil, mandiri, dan kreatif. Kedua, pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual dan akhlak, yaitu membentuk anak yang saleh dan salehah. Kedua pilihan ini sejatinya memiliki perbedaan mendasar pada titik tekan dan indikator keberhasilannya.

Anak yang cerdas, terampil, mandiri, dan kreatif dituntut untuk menguasai intelektualitas, memiliki keahlian teknis, serta mampu bersaing dalam kehidupan sosial-ekonomi. Sebaliknya, pembentukan anak yang saleh dan salehah berorientasi pada penghambaan diri kepada Allah SWT (ibadah), kepatuhan pada syariat, serta kepemilikan akhlak mulia (akhlakul karimah). Jika kecerdasan duniawi menjadikan kompetensi sebagai muara, maka kesalehan menjadikan ketakwaan dan ridha Allah sebagai puncak pencapaian.

Penting untuk dipahami bahwa kesalehan seorang anak tidak menolak kecerdasan intelektual maupun keterampilan hidup. Justru, anak yang saleh dan salehah memandang kecerdasan, kreativitas, dan kemandirian sebagai sarana (wasilah) untuk berbuat kebaikan dan menebar manfaat bagi sesama, bukan sebagai tujuan akhir (ghayah) yang memupuk egoisme atau kesombongan semata.

Landasan utama bahwa pembentukan anak saleh-salehah merupakan tujuan ideal keluarga muslim bersumber langsung dari Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At-Tahrim […]: 6). Ayat ini memberikan amanat tegas kepada orang tua bahwa keselamatan akidah dan moral anak di akhirat adalah tanggung jawab utama yang melandasi seluruh proses pendidikan di rumah.

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya kesalehan anak sebagai investasi abadi melalui hadis “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Doa dan amal saleh anak yang beriman menjadi satu-satunya sambungan manfaat bagi orang tua setelah kehidupan dunia berakhir, sebuah nilai berharga yang tidak dapat digantikan oleh pencapaian jabatan maupun materi semata.

Pandangan ini diperkuat oleh para ulama dan teolog Islam, salah satunya Imam Al-Ghazali dalam karya fenomenalnya Ihya ‘Ulumuddin. Beliau menyatakan bahwa anak adalah amanah suci yang hatinya masih bersih ibarat permata tak ternilai. Jika anak dibiasakan dan diajarkan pada kebaikan, ia akan tumbuh dalam kebaikan dan membahagiakan kedua orang tuanya di dunia dan akhirat. Namun jika dibiarkan dalam kebiasaan buruk, ia akan sengsara dan celaka, serta dosanya ditanggung oleh pengasuhnya.

Dalam menetapkan tujuan pendidikan ini, Ayah dan Bunda perlu melakukan beberapa hal mendasar. Pertama, membangun kesepakatan dan visi bersama antara suami dan istri agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pengasuhan. Kedua, melakukan introspeksi diri (mawas diri) dan melengkapi diri dengan ilmu agama serta kepengasuhan (parenting). Ketiga, meluruskan niat bahwa mengasuh anak adalah bentuk ibadah dan amanah kepemimpinan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Untuk mencapai tujuan membentuk anak saleh dan salehah, Ayah dan Bunda perlu menerapkan strategi yang terencana dan konsisten. Strategi utama adalah memberikan teladan nyata (uswah hasanah), sebab anak belajar dari apa yang mereka lihat pada perilaku orang tua sehari-hari. Selain itu, ciptakan ekosistem lingkungan yang mendukung di rumah, biasakan pembiasaan ibadah sejak dini secara bertahap dan penuh kasih sayang, serta selektif dalam memilih lingkungan sekolah dan pertemanan bagi anak.

Menetapkan tujuan untuk membentuk anak yang saleh dan salehah adalah pilihan berorientasi jangka panjang yang melintasi batas dunia hingga akhirat. Memilih jalan ini menuntut komitmen, ilmu, dan kesabaran ekstra dari orang tua dalam menyelaraskan antara kecerdasan intelektual dan keteguhan spiritual. Dengan niat yang lurus, teladan yang konsisten, serta doa yang tidak pernah putus, pembentukan anak saleh dan salehah bukan hanya membahagiakan keluarga di dunia, tetapi juga menjadi tabungan pahala yang abadi bagi kedua orang tua di akhirat kelak.

Manna, Bengkulu Selatan,  07 Agustus 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan dipadukan dengan pengalaman mendidik sebagai guru dan orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *