MEMBIASAKAN PERKATAAN ISLAMI

Oleh Zulkarnaini Diran

Mengucapkan salam saat bertemu dan berpisah sangat dianjurkan di dalam Islam. Ucapan pertama yang seharusnya meluncur dari mulut muslim adalah “assalamulaikum ….” ketika bertemu dengan muslim lainnya. Hal yang sama juga dilakukan saat berpisah. Ucapan atau perkataan itu adalah perkataan Islami. Perkatakan Islami adalah perkataan yang biasa diucapkan muslim pada saat-saat tertentu. Hal itu pula yang membedakannya dengan nonmuslim. Atau bisa jadi, hal itu pula yang membedakan seorang  “muslim sejati” dengan “muslim merk“.

Membiasakan perktaan Islami dalam keseharian seorang muslim memerlukan proses. Hal itu tidak dapat terjadi secara serta-merta. Proses berlatih itu tentu diawali dari pemahaman konsep melalui belajar, kemudian dipraktikkan sesuai pemahaman, lama-kelamaan akan menghunjam ke lubuk kati yang paling dalam. Di situlah awal dari membiasakan yang kemudian menjelma menjadi kebiasaan. Sejak dini seyogyanya sudah dilatihkan di dalam keluarga muslim. Tentu saja hal yang paling berpengaruh bukanlah penjelasannya, tetapi “contoh atau keteladanan” dari ayah – bunda.

Perkataan-perkataan seperti alhamdulillah, masyaallah, astagfirullah, Allahuakbar, syukran, barakallah, dan perkataan lain merupakan perkataan Islami. Perkataan itu diucapkan pada saat tertentu sesuai dengan konteks. Kapan dan di mana kata-kata Islami itu diulncurkan dari mulut seorang hamba, tentu diawali dengan pemahaman. Jika paham konsepnya, paham manfaatnya, dan tahu cara menggunakannya, serta mengerti waktu dan tempat penggunaannya, tentu dari situlah pembiasaan dibentuk. Pada saatnya akan menjadi kebiasaan seorang hamba.

Perkataan Islami merupakan cerminan dari keimanan seorang mukmin yang terpancar melalui lisan. Dalam pandangan Islam, lisan bukan sekadar alat komunikasi fisik, melainkan wadah penampung isi hati yang paling jujur. Ketika seseorang terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat baik, hal tersebut menunjukkan bahwa hatinya senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta.

Al-Qur’an menegaskan betapa pentingnya menjaga perkataan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS Ibrahim [14]: 24 – 25).

Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa “pohon yang baik” dalam ayat tersebut dimaknai sebagai kalimat tauhid dan segala bentuk perkataan yang baik (kalimah tayyibah). Perkataan Islami seperti alhamdulillah, masyaallah, astagfirullah, dan salam adalah bentuk implementasi dari pohon kebaikan yang akarnya menghunjam kuat di dalam hati seorang mukmin.

Membiasakan perkataan Islami tidak boleh dilakukan secara asal-upaya atau ikut-ikutan tanpa mengerti maksudnya. Setiap kalimat memiliki konteks dan momentum penggunaannya masing-masing. Sebagai contoh, ucapan alhamdulillah diucapkan saat mendapat nikmat atau terhindar dari musibah, sedangkan astagfirullah diucapkan ketika melakukan kesalahan atau mengingat dosa.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi landasan bahwa lisan seorang muslim harus difungsikan untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan menebar kedamaian. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa lisan adalah salah satu anggota badan yang paling berbahaya jika tidak dikendalikan. Oleh karena itu, memahami makna perkataan Islami adalah langkah awal agar lisan terjaga dari perkataan sia-sia dan terbiasa melafalkan dzikir kepada Allah.

Pembiasaan tidak terjadi secara serta-merta, melainkan melalui proses yang sistematis. Tahap pertama dimulai dari pemahaman konsep melalui proses belajar. Seseorang harus mengkaji ilmu agama, mengetahui keutamaan zikir, serta memahami dampak positif perkataan yang baik bagi jiwa manusia. Setelah memahami ilmunya, tahap selanjutnya adalah mempraktikkan secara sadar dalam kehidupan sehari-hari. Pada fase ini, seseorang mungkin masih harus memaksa dirinya untuk ingat mengucapkan salam, bismillah, atau syukran. Namun, latihan yang konsisten akan meringankan beban psikologis tersebut.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam berbagai karyanya sering menekankan bahwa amal saleh, termasuk membiasakan lisan berkata baik, memerlukan mujahadah (kesungguhan) di awal. Tanpa kesungguhan untuk melatih diri, lisan akan kembali kepada kebiasaan asalnya yang sering lalai.

Keluarga merupakan madrasah pertama dan utama dalam membentuk karakter anak, termasuk pembiasaan lisan. Penjelasan teoritis saja tidak akan cukup tanpa adanya contoh nyata dari orang tua (ayah dan bunda). Anak-anak adalah peniru ulung yang merekam setiap perilaku dan ucapan orang dewasa di sekitarnya. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan betapa besar pengaruh lingkungan keluarga dalam membentuk pola pikir, perilaku, dan kebiasaan verbal seorang anak sejak usia dini.

Ketika anak melihat orang tuanya terbiasa mengucapkan salam saat masuk rumah, membaca bismillah sebelum makan, dan mengucapkan alhamdulillah ketika bersyukur, maka hal itu akan terekam secara alamiah sebagai standar komunikasi di dalam keluarga tersebut.

Proses latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan istiqamah lambat laun akan “menghunjam ke lubuk hati yang paling dalam. Pada titik ini, perkataan Islami tidak lagi dirasakan sebagai beban atau sesuatu yang dipaksakan, melainkan menjelma menjadi karakter atau kebiasaan otomatis. Teolog Islam kontemporer sering menyatakan bahwa kebiasaan adalah cerminan dari kepribadian bawah sadar seseorang. Ketika seseorang terkejut dan spontan berucap astagfirullah atau masyaallah, hal tersebut membuktikan bahwa nilai-nilai Islami telah mendarah daging dalam jiwa dan refleks motoriknya.

Rasulullah SAW sangat menghargai keistiqamahan dalam beramal. Beliau bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu (istiqamah) meskipun jumlahnya sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim). Kebiasaan kecil mengucapkan perkataan Islami setiap hari bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan secara konsisten.

Fenomena “muslim sejati” versus “muslim merk” (identitas KTP semata) sangat berkaitan erat dengan integritas antara lisan, hati, dan perbuatan. Seorang muslim sejati tidak hanya menampilkan simbol-simbol keislaman secara fisik, tetapi juga menghiasi kesehariannya dengan tutur kata yang menyejukkan dan sesuai dengan tuntunan syariat. Sebaliknya, seseorang yang hanya beragama secara administratif kerap mengabaikan adab berbahasa, mudah mengucapkan perkataan kotor, gibah, atau menyakiti orang lain. Padahal, lisan adalah indikator utama keislam seseorang.

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang Islam yang bagaimana yang paling baik. Beliau menjawab: “Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal” (HR. Bukhari dan Muslim). Menebar salam adalah esensi perkataan Islami yang merekatkan persaudaraan umat.

Selain bernilai pahala di akhirat, membiasakan perkataan Islami terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan psikologis dan sosial. Ucapan seperti alhamdulillah menumbuhkan rasa syukur yang dapat meredakan stres dan meningkatkan kebahagiaan hidup. Dalam perspektif psikologi modern, afirmasi positif yang diucapkan secara berulang-ulang akan memprogram ulang pikiran bawah sadar ke arah yang lebih optimis dan tenang. Kalimat-kalimat thayyibah dalam Islam berfungsi sebagai terapi jiwa yang menenangkan hati, sejalan dengan firman Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’ad [13]: 28)

Membiasakan perkataan Islami di era digital menghadapi tantangan tersendiri. Arus informasi yang deras serta budaya komunikasi cepat melalui gawai sering kali membuat seseorang lalai menjaga lisannya, baik dalam bentuk tulisan (komentar media sosial) maupun ucapan lisan langsung. Banyak orang menjaga tutur kata di dunia nyata, namun lepas kendali di dunia maya. Padahal, prinsip perkataan Islami berlaku secara universal, baik diucapkan secara langsung maupun diketik melalui papan tombol gawai. Oleh karena itu, penyadaran diri (muhasabah) harus terus dilakukan agar nilai-nilai luhur Islam tetap terjaga dalam setiap medium komunikasi yang digunakan oleh seorang muslim di zaman modern ini.

Selain keluarga, lingkungan masyarakat dan lembaga pendidikan (sekolah/pesantren) memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan budaya perkataan Islami. Pembiasaan di sekolah melalui budaya salam sebelum masuk kelas, berdoa bersama, dan saling mengingatkan dalam kebaikan akan memperkuat fondasi yang telah dibangun di rumah.

Masyarakat yang religius biasanya terbangun dari komunitas kecil yang saling mengawasi dan menasihati dalam kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar). Ketika suatu lingkungan terbiasa dengan sapaan yang santun dan Islami, maka kejahatan verbal seperti perundungan dan fitnah akan dapat diminimalisir secara signifikan. Dukungan sosial ini membuat individu merasa didukung untuk terus istiqamah mempraktikkan perkataan yang baik tanpa merasa canggung atau diasingkan oleh lingkungan sekitarnya.

Membiasakan perkataan Islami merupakan proses pembentukan karakter mulia. Hal ini  berawal dari pemahaman ilmu, dilatih secara konsisten melalui keteladanan keluarga. Akhirnya mengakar kuat di dalam hati dan menjelma menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Dengan senantiasa melafalkan kalimat-kalimat tayyibah seperti salam, alhamdulillah, masyaallah, dan astagfirullah, seorang muslim tidak hanya menjalankan sunnah Rasulullah SAW dan memperoleh pahala, tetapi juga menjaga kesehatan mental, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta membuktikan keimanan yang sejati dalam kehidupannya. Semoga tulisan bersahaja ini bermanfaat, terimakasih!

Padang, 21 September 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *