ZIKIR DAN KALIMAT TAIBAH

Oleh Zulkarnaini Diran

Islam sangat menganjurkan agar setiap penganutnya senantiasa berzikir. Zikir dilakukan kapan dan di manapun, bahkan setiap saat. Dengan zikir, hamba selalu terhubung atau terkeoneksi dengan Sang Kkahlik. Ketika merasakan setiap saat terkoneksi dengan Allah SWT, saat itu pun dirasakan bahwa hamba senantiasa dalam perlindungan, pengendalian, dan penawasannya. Merasakan ada yang melindungi, hamba merasa aman. Merasakan dikendalikan, hamba tidak berbuat zalim dan merasa diawasi hamba terhindar dari maksiat. Itulah sebabnya Islam memerintahkan pengikutnya agar senantiasa berzikir kepada-Nya.

Menurut para ulama ada tiga wujud zikir. Pertama zikir dengan kalbu, kedua zikir dengan lisan, dan ketiga zikir dengan perbuatan. Hati yang selalu mengingat Allah adalah berzikir. Lisan yang selalu berkalimat baik (taibah) yang dikaitkan dengan kekuasaan Allah adalah zikir. Perbuatan yang bermanfaat, diniatkan karena Allah, dan tidak menyelisihi Al-Quran dan Sunnah adalah zikir.

Tulisan ini berbicara tentang kalimat-kalimat taibah sebagai isntrumen zikir dalam kehidupan hamba sehari-hari. Di antara kalimat itu adalah bertemu dan berpisah mengucapkan salam. Melihat sesuatu yang unik dan luar biasa diucapkan masyaallah. Memperoleh sesuatu yang memnyenangkan diucapkan alhamdulillah, dan begitu seterusnya. Kalimat taibah itu adalah wasilah dalam berzikir kepada AllahSWT.

Islam adalah agama yang senantiasa menuntun pemeluknya untuk hidup dalam kesadaran spiritual yang tinggi. Salah satu pilar utama untuk mencapai kesadaran tersebut adalah melalui amalan zikir. Zikir bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sebuah kebutuhan jiwa agar manusia tidak pernah terputus hubungan dengan Sang Pencipta.

Islam menganjurkan agar zikir dilakukan kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Allah SWT berfirman, “…(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS Ali Imran [4]:191) Ketika seorang hamba merasa senantiasa terkoneksi dengan Allah, ia akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa karena berada dalam naungan perlindungan, pengendalian, dan pengawasan-Nya.

Rasa aman akan tumbuh subur di dalam dada ketika seseorang menyadari bahwa ada Diri Yang Maha Kuasa melindunginya. Sebagaimana firman Allah,  Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS Al-Anfal [8]:  45). Manusia banyak mengingat Allah agar mereka beruntung. Selain itu, kesadaran diawasi (muraqabah) akan menjadi benteng kokoh yang menjauhkan seseorang dari perbuatan zalim dan maksiat.

Para ulama membagi wujud zikir menjadi tiga bentuk utama yang saling melengkapi. Pertama adalah zikir dengan kalbu, yakni hati yang senantiasa hidup dan mengingat Allah. Kedua adalah zikir dengan lisan, yaitu basahnya lidah dengan kalimat-kalimat yang baik. Ketiga adalah zikir dengan perbuatan, yakni setiap amal saleh yang diniatkan karena Allah serta selaras dengan Al-Quran dan Sunnah.

Fokus utama dari wacana ini adalah penggunaan kalimat-kalimat taibah sebagai instrumen zikir dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat taibah merupakan ungkapan luhur yang mencerminkan pengagungan kepada Allah SWT dalam berbagai momentum kehidupan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Muslim bahwa sebaik-baik ucapan setelah Al-Quran adalah empat kalimat yang tidak masalah dimulai dari mana saja: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar.

Dalam praktiknya, kalimat taibah membersamai setiap aktivitas sosial seorang Muslim. Ketika berjumpa atau berpisah, seorang Muslim dianjurkan mengucapkan salam, yang merupakan doa keselamatan sekaligus zikir. Allah berfirman, “….Apabila kamu memasuki rumah-rumah itu, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. …” (QS An-Nur [24]: 61) Ketika memasuki rumah atau bertemu sesama, diucapkan salam yang penuh berkah dari sisi Allah.

Momentum berikutnya adalah ketika seseorang melihat keindahan, keunikan, atau sesuatu yang luar biasa pada diri sendiri maupun orang lain. Pada saat itu, dianjurkan untuk mengucapkan masyaallah (atas kehendak Allah). Ungkapan ini mengajarkan ketauhidan bahwa segala kehebatan di dunia ini sepenuhnya adalah atas izin dan kehendak Allah SWT semata, bukan karena kehebatan makhluk.

Ketika memperoleh nikmat, keberhasilan, atau hal-hal yang menyenangkan, lisan seorang mukmin secara refleks dibimbing untuk mengucapkan alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Ibnu Abbas r.a. pernah meriwayatkan bahwa orang yang pertama kali dipanggil ke surga pada hari kiamat adalah mereka yang senantiasa memuji Allah dalam keadaan senang maupun susah. Kalimat ini menegaskan bahwa segala sumber kebaikan berasal dari Allah.

Sebaliknya, ketika menghadapi musibah, ujian, atau mendengar berita duka, kalimat istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) diucapkan sebagai bentuk penyerahan diri secara total. Teolog Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa zikir dengan lisan yang dihayati oleh hati akan mampu membersihkan karat-karat kelalaian pada jiwa manusia, sehingga hati menjadi jernih dan mudah menerima cahaya ilahi.

Penggunaan kalimat taibah secara konsisten menjadikan seluruh aktivitas harian bernilai ibadah. Aktivitas makan, minum, bekerja, hingga tidur berubah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah ketika diiringi dengan zikir yang tepat. Rasulullah SAW mencontohkan berbagai doa dan zikir harian yang sangat kaya, menunjukkan betapa Islam menginginkan umatnya hidup dalam dzikrullah yang berkelanjutan.

Zikir dan kalimat taibah adalah jembatan emas yang menghubungkan seorang hamba dengan Sang Khalik dalam setiap denyut kehidupan. Melalui tiga dimensi zikir—kalbu, lisan, dan perbuatan—serta pengamalan kalimat taibah seperti salam, masyaallah, dan alhamdulillah, seorang Muslim dapat menjaga kemurnian tauhidnya. Amalan ini tidak hanya mendatangkan ketenangan jiwa dan perlindungan ilahi, tetapi juga mengangkat derajat hamba menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan terjaga dari kemaksiatan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 21 September 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan dikaitkan dengan pengalaman pribadi untuk mengucapkan kalimat taibah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *