Oleh Zulkarnaini Diran

Setiap insan ingin berbahagia. Umat Islam berupaya untuk bahagia di dunia dan di akhirat. Artinya, kebahagiaan yang diimpikan muslim bukan hanyauntuk di dunia, tetapijuga untuk di akhirat kelak. Oleh karena itu, setiap saat menyampaikan permintaan (doa) kepada Allah untuk kebahagiaan itu. Para ulama berpendapat, kunci kebahagiaan ada pada dua kata. Kedua kata itu itu diimlementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua itu adalah adalah “iman dan amal saleh”.
Implementasi atau penerapan iman dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari akan meumunculkan sebutan lain yakni taqwa. Orang beriman dan beramal saleh adalah rang yang bertaqwa. Orang-orang taqwa itu menyibukkan diri dengan ibadah (mahdah dan ghairu mahdah). Tampilan sehari-hari dalam kehidupan orang bertaqwa itu adalah akhlak mulia (akhlakul karimah). Jadi kata-kata iman, amal saleh, taqwa, dan akhlakmulia adalah formulasi Tindakan lahir dan batin yang bermuara kepada kebahagiaan.
Paragraf pertama teks menegaskan bahwa kebahagiaan adalah dambaan setiap insan, dan bagi seorang muslim, orientasi kebahagiaan tersebut bersifat integral—mencakup dimensi dunia maupun akhirat. Dalam pandangan teologi Islam (eskatologi), dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan ladang tanam (mazra’atul akhirah) yang hasilnya akan dipanen di alam keabadian. Oleh karena itu, konsep kebahagiaan Islam (sa’adah) tidak melulu diukur dari materi, melainkan dari ketenangan jiwa (the peace of mind) di dunia dan keselamatan dari siksa neraka di akhirat kelak.
Doa yang dilantunkan setiap saat oleh umat Islam, merujuk pada doa sapu jagat yang diabadikan dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Al-Baqarah [2]: 201). Secara teologis, ayat ini menjadi landasan bahwa seorang mukmin dilarang bersikap asketis ekstrem (hanya memikirkan akhirat) atau materialis murni (hanya memikirkan dunia), melainkan harus menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Para ulama sepakat bahwa kunci untuk membuka pintu kebahagiaan ganda ini terletak pada dua pilar utama, yaitu iman dan amal saleh. Iman tanpa amal saleh bagaikan pohon yang tidak berbuah. Amal saleh tanpa iman bagaikan fatamorgana yang kehilangan fondasi spiritualnya. Sinergi antara keduanya laksana dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Iman adalah keyakinan yang menghidupkan hati, sementara amal saleh adalah bukti konkret dari hidupnya keyakinan tersebut dalam realitas sosial.
Allah SWT secara eksplisit menjanjikan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) bagi siapa saja yang mampu memadukan kedua pilar ini. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl [16]:97). Ulama tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hayatan thayyibah mencakup ketenteraman jiwa dan rida terhadap ketetapan Allah, yang merupakan esensi dari kebahagiaan itu sendiri.
Implementasi nyata dari iman dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis akan melahirkan kualitas personal yang disebut takwa. Secara etimologis, takwa berarti menjaga atau membentengi diri. Dalam diskursus teologi Islam (khususnya teologi praktis), takwa adalah sebuah kondisi mental yakni seorang hamba senantiasa merasa diawasi oleh Allah (muraqabah), sehingga ia termotivasi untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya demi keselamatan dirinya.
Orang-orang yang bertakwa (mutakin) akan senantiasa menyibukkan dirinya dengan aktivitas ibadah, baik ibadah mahdah maupun ghairu mahdah. Ibadah mahdah adalah ibadah ritual yang tata caranya telah ditetapkan secara pasti oleh syariat, seperti salat, puasa, dan zakat, dan haji. Ibadah ini berfungsi menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta (hablum minallah). Sementara itu, ibadah ghairu mahdah adalah seluruh aktivitas sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang diniatkan karena Allah, sebagai wujud hubungan horizontal dengan sesama makhluk (hablum minannas).
Dalam pandangan teolog klasik seperti Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, kesibukan dalam ibadah ini bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah kebutuhan spiritual. Al-Ghazali berargumen bahwa kebahagiaan tertinggi manusia tercapai ketika ia berhasil mengenali penciptanya (ma’rifatullah). Melalui konsistensi ibadah mahdah dan ghairu mahdah, hati manusia dibersihkan dari noda-noda dosa, sehingga ia dapat merasakan kelezatan iman yang memancar dalam ketenangan hidup sehari-hari.
Manifestasi visual dan perilaku nyata dari seorang yang bertakwa adalah kepemilikan akhlak mulia (akhlakul karimah). Tampilan sehari-hari orang bertakwa adalah keluhuran budi pekerti. Hal ini sejalan dengan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Al-Baihaqi). Oleh karena itu, takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan ritual di dalam masjid, melainkan harus memancar menjadi kesalehan sosial di tengah masyarakat.
Secara teologis, akhlak mulia adalah buah atau indikator validitas dari iman dan takwa seseorang. Rasulullah SAW menegaskan korelasi kuat ini dalam hadisnya, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmizi). Ketika seorang muslim memiliki akhlak mulia—seperti jujur, amanah, pemaaf, dan pengasih—maka ia tidak hanya menciptakan kedamaian bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi rahmat dan sumber kebahagiaan bagi lingkungan di sekitarnya.
Dengan demikian, rangkaian kata “iman, amal saleh, takwa, dan akhlak mulia” merupakan satu kesatuan formula tindakan lahir dan batin yang utuh. Iman dan takwa berperan sebagai wilayah batin (internal-spiritual), sedangkan amal saleh dan akhlak mulia menjadi wilayah lahir (eksternal-behavioral). Formulasi integratif inilah yang membentuk struktur kepribadian muslim yang solid, yakni harmoni antara aspek teologis-doktrinal dan aspek praktis-humanis bermuara pada satu titik akhir, yaitu kebahagiaan sejati.
Jadi, tulisan ini berupaya memetakan rute spiritualitas Islam secara runtut dan logis. Kebahagiaan dunia dan akhirat bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia buah dari proses linier yang dimulai dari penanaman iman di dalam dada, kemudian dibuktikan melalui amal saleh. Akumulasi konsisten dari kedua hal tersebut membentuk jiwa yang bertakwa. Akhirnya mengejawantah ke permukaan dalam bentuk akhlak mulia, sebagai kunci utama meraih rida Allah dan kebahagiaan hakiki. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 3 Muharam 1448 H, 18 Juni 2026