POSISI SILATURRAHIM DALAM IBADAH

Oleh Zulkarnaini Diran

“Dari Abu Ayyub RA, bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW,  ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga!’ Maka Nabi SAW bersabda: ‘Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahim.'” (HR Bukhari no.1396 dan Muslim no.13)

Islam memandu hamba-Nya untuk mendirikan salat, membayar zakat, dan menjalin silaturrahim. Kesejajaran ketiga jenis ibadah itu menandakan kedudukannya di dalam Islam sama. Artinya, kualitas ketiga ibadah itu berada pada posisi setara, sederajat, dan selaras. Salat dan zakat adalah ibadah ritual yang disebut dengan ibadah mahdah. Keduanya merupakan penyambung atau pengoneksian hamba dengan Sang Khalik. Sementara silaturrahim termasuk ibadah ghairu mahdah yang menyambungkan tali atau mengoneksikan hamba sesama hamba.

Inilah kebenaran fundamental dalam ajaran Islam yaitu hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia). Hal ini merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Perintah mendirikan salat, membayar zakat, dan menjalin silaturrahim sering kali disandingkan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa keimanan seseorang tidak cukup hanya diukur dari kesalehan ritual, tetapi juga dari kesalehan sosialnya. Kesejajaran kedudukan ketiga ibadah ini menandakan bahwa Islam hadir sebagai agama yang holistik. Islam menekankan penghambaan kepada Sang Khalik harus memancar dalam bentuk kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama makhluk.

Secara epistemologi fiqih, salat dan zakat dikategorikan sebagai ibadah mahḍah—ibadah murni. Tata caranya telah ditetapkan secara baku oleh syariat sebagai bentuk penghambaan langsung kepada Allah SWT. Salat berfungsi sebagai sarana komunikasi spiritual vertikal, sementara zakat menjadi pilar pembersihan harta sekaligus wujud solidaritas material. Di sisi lain, silaturrahim masuk dalam kategori ibadah ghairu mahḍah atau ibadah muamalah yang berorientasi horizontal. Meskipun bersifat sosial, silaturrahim tidak kalah sakral karena ia diproyeksikan sebagai manifestasi nyata dari kekhusyukan salat dan keikhlasan zakat yang telah ditunaikan seorang hamba.

Korelasi antara ketiga ibadah ini sangat erat dan saling menopang secara sistemik. Salat yang dilakukan dengan khusyuk seharusnya mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar. “Dirikanlah salat, sesungguhnya salam mencegah perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Di antara  wujud terbesarnya adalah menghindari pemutusan tali persaudaraan. Selanjutnya, zakat hadir untuk mengikis jurang pemisah ekonomi dan menghilangkan rasa iri serta dengki di antara anggota masyarakat. Ketika jiwa telah dibersihkan melalui salat dan harta disucikan melalui zakat, maka jalan menuju silaturrahim yang tulus akan terbuka lebar tanpa ada sekat kesombongan atau ketimpangan sosial.

Dalam dimensi kehidupan duniawi, pengintegrasian ketiga ibadah ini melahirkan masyarakat yang harmonis, stabil, dan sejahtera. Rasulullah SAW secara spesifik menegaskan keberkahan silaturrahim dalam aspek material dan usia melalui sabdanya, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturrahim” (HR. Bukhari dan Muslim). Secara sosiologis, silaturrahim membuka keran rezeki melalui perluasan jejaring (networking), kerja sama, dan rasa saling percaya. Sementara “panjang umur” dapat dimaknai secara harfiah maupun metaforis, yaitu dikenang dengan kebaikan (atsar hasan) bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

Dampak ketiganya di akhirat sangat menentukan keselamatan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Ar-Rahm (tali silaturrahim) bergantung di Arasy dan Allah berfirman,  “Barang siapa yang menyambungmu, Aku akan menyambung hubungan dengannya, dan barang siapa yang memutusmu, Aku akan memutuskan hubungan dengannya” (HR. Bukhari). Penjelasannya tegas: salat dan zakat yang melimpah tidak akan mampu menyelamatkan seseorang jika ia secara sengaja memutus silaturrahim. Bahkan, Imam Ibn Hajar al-Asqalani menekankan bahwa dosa memutus silaturrahim tergolong sebagai dosa besar yang dapat menghalangi seseorang masuk surga di rombongan pertama.

Menjalin silaturrahim merupakan langkah awal yang membutuhkan kesadaran niat dan kelapangan dada. Proses ini dimulai dari lingkaran terdekat, sebagaimana firman Allah SWT,  “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan” (QS. An-Nisa: 1). Menjalin silaturrahim bukan sekadar mengunjungi orang yang menyukai kita, melainkan keberanian untuk merajut kembali hubungan yang sempat renggang atau terputus. Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah dinamakan menyambung silaturrahim orang yang membalas kunjungan, melainkan orang yang menyambung hubungan ketika silaturrahim itu terputus” (HR. Bukhari).

Setelah terjalin, silaturrahim perlu ditumbuhkan agar tidak sekadar menjadi interaksi formalistis semata. Menumbuhkan silaturrahim dilakukan dengan menanamkan empati, rasa saling menghormati, dan kepedulian atas kondisi sesama. Ulama terkemuka, Imam Al-Ghazali dalam karya fenomenalnya Ihya ‘Ulumuddin, menjelaskan bahwa persaudaraan (ukhuwah) akan tumbuh subur jika diisi dengan saling memberi hadiah, menutupi aib saudara, bertukar nasihat dalam kebaikan, serta saling mendoakan di saat tidak saling berhadapan (da’wat azh-zhahr al-ghaib).

Pada tahap pengembangan, silaturrahim ditransformasikan menjadi aksi nyata yang berdampak luas bagi kemaslahatan publik (maslahah ammah). Silaturrahim tidak lagi terbatas pada sanak saudara ( hubungan nasab), tetapi meluas menjadi ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Bentuk pengembangannya dapat berupa kolaborasi sosial. Wujudnya berupa pembentukan lembaga amil zakat, pemberdayaan ekonomi umat, hingga kerja sama lintas sektor untuk mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Hal ini telahdicontohkan  masyarakat Anshar dan Muhajirin di Madinah.

Memelihara silaturrahim adalah ujian konsistensi (istiqamah) yang paling berat. Hal ini. kerap berhadapan dengan konflik kepentingan, perbedaan pendapat, dan ego pribadi. Untuk memeliharanya, Islam mengajarkan sifat pemaaf dan menahan amarah. Allah berfirman, “….orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain…..” (QS. Ali ‘Imran: 134). Syekh Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin menyebutkan lima hal penting dalam memelihara silaturrahim: membantu dengan harta ketika saudara membutuhkan, membantu dengan tenaga, mengunjunginya saat sakit atau berduka, mendoakannya, dan menjaga lisan dari ucapan yang menyakiti perilakunya.

Di era modern yang cenderung individualistis dan terfragmentasi secara digital. Oleh karena itu,  kesetaraan salat, zakat, dan silaturrahim menjadi sangat relevan. Keterikatan ini mengingatkan bahwa kesalehan spiritual yang diraih di atas sajadah (salat) dan kepedulian finansial yang ditunaikan melalui zakat harus diuji kesahihannya dalam ruang sosial (silaturrahim). Tanpa silaturrahim yang sehat, salat berisiko menjadi sekadar ritual hampa dan zakat berpotensi berubah menjadi sekadar transaksi keagamaan tanpa jiwa kasih sayang.

Jadi, salat, zakat, dan silaturrahim merupakan tatanan ibadah tiga dimensi yang tidak dapat dipisahkan dalam ajaran Islam. Salat membina hubungan hamba dengan Sang Pencipta, zakat membersihkan jiwa dan harta, sedangkan silaturrahim merajut keharmonisan hidup bermasyarakat. Kesejajaran ketiganya menunjukkan bahwa kebaikan spiritual dan kebaikan sosial berkedudukan setara di hadapan Allah SWT. Untuk itu hamba perlu memahami, menjalin, menumbuhkan, mengembangkan, dan memelihara silaturrahim sebagai bagian dari ketaatan ibadah.  Dengan demeikian seorang muslim tidak hanya melapangkan jalan rezeki dan kedamaiannya di dunia, tetapi juga mengamankan rida dan surga Allah SWT di akhirat kelak. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 23 Juli2026

Disarikan dari berbagai sumber bacaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *