Oleh Zulkarnaini Diran

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)
Inilah di antaranya idikator iman kepada Allah dan hari akhir yakni berkata baik atau diam. Hadis ini tegas, jelas, dan lugas. Inti ukuran atau indaktor itu “berkata baik atau diam”. Oleh karena ini di antaranya menjadi indikator, dapat dikatakan bahwa jika tidak berkata yang baik berarti seseorang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir atau skurang-kurangnya “sumbing” imannya. Bisa begitu dalam logikanya, dapat begitu menurut akal sehat.
Selain menggmabarkan indikator orang beriman, hadis ini juga memberikan motivasi kepada hamba agar menjaga, memelihara, di menimbang perkataan (hal yang akan dikatakan dan cara mengatakannya). Isi perkataan harus terseleksi, cara mengatakannya juga harus dipilih dengan tepat. Tindakan prefentif sebelum berujar atau berucap adalah pesan yang terkandung di dalam hadis ini. Apatah lagi ucapan atau ujaran yang berhubungan langsung dengan orang lain atau muslim lain.
Konsekuensi dari ujaran tidak baik cukup jelas. Di antaranya melunturkan atau merusak keimanan. Selain itu, jika ujaran merupakan hujatan kebencian, hukumnya lebih parah lagi, yakni pasik. Membenci muslim dengan ujaran hukumnya pasik, membunuhnya hukumnya kafir. Di samping itu pula, setiap ujaran atau perkataan yang dilontarkan, kelak akan dipertanggung-jawabkan di mahkamah Allah. Oleh karena itu, hamba berupaya semaksimal mungkin untuk berkata baik atau memilih diam.
Menjaga lisan dan jemari tidak sekadar tentang etika berkomunikasi, tetapi merupakan fondasi keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat. Dalam ajaran Islam, setiap kata yang terucap atau tertulis bukanlah angin lalu yang hilang tanpa bekas. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa ada pengawasan melekat pada setiap individu: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” (QS. Qaf: 18). Ayat ini menegaskan bahwa setiap unggahan, komentar, serta ucapan kita tercatat secara presisi dan akan dibuka kembali di hari pembalasan.
Lebih jauh lagi, Allah SWT telah menetapkan standar baku bagaimana seharusnya seorang beriman menyusun tutur katanya. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab: 70). Ayat ini menyandingkan perintah bertakwa secara langsung dengan perintah berkata benar (qaulan sadida). Hal ini menunjukkan bahwa kualitas ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan kebenaran dan kebaikan dari ucapan yang dikeluarkannya.
Rasulullah SAW juga menekankan bahwa keselamatan fisik dan spiritual manusia sangat bergantung pada kemampuannya mengendalikan lidah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisannya.” (HR Bukhari). Di era digital saat ini, makna “lisan” tentu meluas mencakup jemari yang mengetik narasi di media sosial. Tulisan sering kali memiliki daya jangkau dan dampak yang jauh lebih luas serta tahan lama dibandingkan ucapan lisan, sehingga kehati-hatian dalam menulis menjadi jauh lebih krusial.
Pentingnya menjaga ujaran ini digarisbawahi oleh para ulama klasik. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhus Shalihin memberikan formula praktis sebelum seseorang berucap. Beliau menjelaskan bahwa hendaknya setiap orang yang hendak berbicara merenungkan terlebih dahulu apa yang akan dikatakannya. Jika ucapan itu jelas membawa maslahat dan pahala, maka bicaralah. Namun, jika ada keraguan apakah ucapan itu berguna atau justru mendatangkan mudarat, maka sunnah hukumnya untuk menahan diri dan memilih diam.
Bahaya dari ketidakmampuan menjaga ujaran juga dipaparkan secara mendalam oleh Al-Hafiz Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab Al-Jawab Al-Kafi, beliau menyebutkan satu fenomena unik mengenai tabiat manusia: betapa banyaknya orang yang sangat mampu menjaga diri dari perbuatan haram seperti makan harta haram, berzina, atau mencuri, tetapi justru sangat lemah dan ceroboh dalam menjaga pergerakan lisannya. Akibatnya, dari mulut dan ketikan mereka keluar perkataan yang dimurkai Allah tanpa disadari, yang pada akhirnya meruntuhkan pahala amal kebaikan yang telah dikumpulkan.
Dampak buruk dari ujaran kebencian, fitnah, dan ghibah di ruang publik bukan hanya merusak hubungan antarmanusia (hablum minannas), melainkan juga berpotensi menjadikan seseorang tergolong sebagai orang yang bangkrut (muflis) di akhirat. ”Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut itu. Beliau kemudian menjelaskan bahwa orang yang bangkrut dari umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga membawa dosa mencaci orang lain, menuduh seseorang, dan memakan harta orang lain. Maka pahala kebaikannya diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya tersebut hingga pahalanya habis, lalu dosa orang yang dizalimi ditimpakan kepadanya, hingga ia dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, membendung maraknya ujaran yang merusak di media sosial memerlukan kesadaran literasi digital berbasis syariat. Sebelum membagikan (share) atau menuliskan komentar, setiap muslim hendaknya melakukan tabayyun (verifikasi) dan menguji narasi tersebut melalui tiga filter utama: Apakah kalimat ini benar? Apakah kalimat ini membawa kebaikan? Dan apakah kalimat ini memang perlu untuk disampaikan? Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, menahan diri adalah keputusan terbaik demi menjaga kesucian hati dan kedamaian sesama.
Jadi, menjaga ujaran lisan maupun tulisan adalah benteng utama yang menentukan kualitas iman dan keselamatan seorang muslim. Di tengah hiruk-pikuk fenomena media sosial yang makin dipenuhi caci maki dan provokasi, memilih untuk berkata baik atau diam adalah wujud nyata dari kematangan spiritual dan akal sehat. Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah SWT agar mampu memelihara lisan dan jemari kita dari kata-kata yang mendatangkan murka-Nya, serta menjadikannya sebagai sarana untuk menyebarkan kedamaian dan kebaikan di muka bumi. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Manna, Bengkulu Selatan, 15 Agustus 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan hasil simakan terhadap fenomena media sosial.