MENJADI “ORANG ASING”

Oleh Zulkarnaini Diran

Tahun 80-an (pertengahan) saya berceramah di sebuah masjid di kampung kelahiran. Inti pembicaraan saya ada dua. Pertama, bahwa pada suatu saat ”perantau” akan menjadi orang asing di kampung sendiri. Kedua, kemajuan akan merambah semua lini dan dimensi kehidupan anak manusia. Efeknya ikatan kolegial akan renggang. Individualisme akan menonjol. Pembicaraan itu telah berlalu hampir empat puluh lima tahun. Kini, yang dibicarakan itu hampir bahkan sudah menjadi kenyataan.

Dua hal itu tetap menjadi perhatian saya. Pertama ”orang rantau menjadi orang asing” di kampung sendiri. Kedua ”kemajuan dalam berbagai dimensi kehidupan merambah sampai ke desa”. Kedua hal itu secacara sosiologis pantas untuk dijadikan bahan ”gunjingan”. Minimal dapat dilihat dari sisi teoretis dan sisi empiris. Itulah yang hendak saya katakan dalam tulisan pendek ini. Tentu saja, kajiannya hanyalah sebatas pengalaman ”selincam”, bukan kajian akademik. Dari pengalaman selincam itu dikaitkan dengan fakta-fakta teoretik yang tersimpan di memori. Artinya, bukan membuka leteratur rujukan seperti menyusun sikripsi, tesis, atau disertasi.

Tujuan tulisan ini hanya sekedar pemberitahuan, sekedar memberi gambaran, atau mengindrakan hal-hal yang dialami selama berlebaran di kampung kelahiran. Kampung kelahiran itu sendiri terletak di kawasan pedalaman Limapuluh Kota. Tepatnya Kenagarian Mahat (Maek), Kecamatan Bukik Barisan, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Deskripsi empirik ini diharapkan dapat memberi gambaran seadanya tentang sebuah kampung, nagari, desa di pedalaman yang kini menjadi ”Desa yang Mengkota”. Hanya itulah tujuan sederhana yang ingin dicapai tulisan ini.

Pagi itu, saya, anak-anak, dan cucu berjalan pagi. Kami (saya, anak-anak, menantu, dan cucu) berjalan pagi. Kami susuri jalan kampung sambil berjalan kaki. Kampung kami masih diselimuti embun pagi. Hal itu bagi cucu, anak, dan menantu saya sangatlah menarik. Di kota tempat mereka bermukim tidak mungkinlah suasana seperti itu dapat dinikmati. Begitu cucu, anak, dan menatu bercengkrama dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa kampung kelahiran. Mereka memang lahir di kota, dibesarkan, dan berskolah di kota. Di rumahpun mereka menggunakan bahasa Indonesia karena lima menantu saya dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indonesia. Tentu saja anak-anaknya menggunakan bahasa nasional dengan dialek kotanya masing-masing.

Pagi itu saya berpapasan dengan “sanak saudara” di kampung kelahiran. Hanya satu-satu yang mengenali saya. Lebih banyak jumlahnya yang tidak mengenali saya. Ini tidak aneh, karena saya memang jarang di kampung, jarang berbaur dengan mereka. Berikut ini ada suatu dialog lucu yang terjadi di kampung kelahiran antara saya dengan seorang pemuda.

“Dari mana Bapak berjalan?” tanya seorang pemuda yang berbarengan dengan saya di jalan kampung itu. Belum saya jawab kalimat pertama itu, dia susul dengan pertanyaan kedua,”Di mana Bapak tinggal, apakah bapak ke sini hanya berjalan-jalan saja?” katanya lagi. Saya menyimak dua pertanyaan itu dengan rasa “geli”. Pemuda ini berbahasa Indonesia, tetapi dialeknya asli Minangkabau, Luak Limpopuluah.

Saya menjawab peratanyaannya degan bahasa setempat, bahasa asli kampung kelahiran. Pemuda itu kaget karena saya persis menggunakan kosakata dan dialek asli Nagari Mahat (Maek). Ketika saya tanya nama ibu dan bapaknya di menjawab dengan rasa berat. Nama yang disebutkannya tidak saya kenal. Kemudian saya tanya nenek dan kakeknya, dia juga menyebutkan nama-nama yang diminta. Betapa kagetnya saya, nama yang dia sebut itu adalah keponakan saya. Kakeknya adalah keponakan saya. Masya-Allah betapa malunya saya kepada diri sendiri, saya tidak mengenali ”cicit” saya atau cucu dari keponakan saya. Saya sadar ”menjadi orang asing” di kampung sendiri.

Ada juga yang pura-pura mengenal saya. Dia menyapa dalam bahasa asli kampung kelahiran. ”Bilo Pak Etek pulang?”, katanya. Saya tidak langsung menjawab. Saya tatap yang menanya diiringi senyum keakraban. Di juga tersenyum, tetapi sedikit gugup. Saya benar-benar tidak mengenalinya. Oleh karena saya dipanggil “pak etek” berarti dia adalah anak dari salah seorang suadara laki-laki jauh saya atau anak dari kaum istri saya. Saya balik bertanya, “Siapo namo, Ang, apo suku, Ang?” tanya saya sambil memperhatikan reaksinya. Di menjawab nama dan sukunya. Saya kaget, bahwa dia suku Melayu, satu suku dengan saya. Itulah yang membuat saya kaget.

Di kampung kelahiran saya orang satu suku tidak boleh dipanggil ”bapak” dan sejenisnya. Kalau satu suku dipanggil ombo, mamak, atau atuak. Panggilan bapak dan sejenisnya ditujukan kepada orang yang lain suku. Ketika teman dialog saya itu memanggil saya ”pak etek”, dia satu suku dengan saya, berarti dia hanya pura-pura mengnenal saya. Dia tidak mengenal saya sama sekali. Itupun saya anggap sebagai tanda bahwa saya telah menjadi ”orang asing” di kampung sendiri.

Dulu, ketika masih kecil, hari raya atau hari lebaran itu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Satu dari sekian banyak aktifitas masa kecil saya adalah mengunjungi keluarga ibu atau keluarga bapak dan sanak famili lainnya. Kunjunga itu mengalir sedemikian rupa tanpa tujuan yang jelas. Yang pasti, setiap naik ke rumah sanak famili pada hari raya itu, ”pasti” makan. Tidak boleh tidak makan, meskipun hanya satu suap. Berkunjung ke rumah sanak famili dan makan, itulah tradisi di kampung kelahiran.

Ketika saat ini, dua tahun lalu, empat tahun, lalu dan enam tahun lalu saya berlebaran di kampung, ternyata hanya ”orang tertentu” saja yang berkunjung ke rumah. Mereka yang berkunjung umumnya juga hidup di rantau, bukan tinggal di kampung. Ini pun kian terasa, bahwa saya (mungkin?) dianggap oleh sanak famili di kampung adalah orang asing, karena itu mereka tidak datang berkunjung. Dari kacamata ini pun saya merasa menjadi ”orang asing” di kampung sendiri.

Menjadi (merasa) orang asing di kampung sendiri mungkin dipengaruhi oleh banyak hal. Di antaranya, ”perantau” jarang pulang ke kampung, kurang bersosialisasi dengan sanak saudara, tidak ada wadah untuk berilaturahim lebih luas. Ada ”gep” kuktural antara orang kampung dengan perantau, dan orang tua-tua di kampung tidak lagi ”memperkenalkan” saudara-suadaranya yang di rantau kepada generasi penerusnya.

Saya termasuk ”perantau dekat” yang jarang pulang ke kampung. Sejak dulu, saya dan keluarga pulang hanya sekali setahun atau kadang-kadang sekali dua tahun. Dalam dekade sepuluh tahun terakhir, rata-rata pulang ke kampung dilakukan keluarga saya hanya sekali dua tahun. Jika saat ini, dalam usia senja, saya menjadi orang asing di kampung sendiri, ya wajarlah. Saya dapat menerima konsekuensi itu sebagai akibat dari ”merantau dekat yang jarang pulang”. Menjadi orang asing di kampung sendiri adalah resiko dari perilaku sendiri. Terimalah.

Mungkin perlu dipikirkan oleh para ”cendekiawan” kampung kelahiran, Maek. Di antaranya adalah ”wadah” untuk bersilaturahim. Dulu, di kampung ini adalah namanya Ikatan Pemuda Pelajar Mahat (IPPM). Lembaga bentukan para pemuda, pelajar, dan mahasiswa ini sering menjadi wadah silaturrahim bagi perantau dan masyarakat di kampung. Sekali setahun dilaksanakan ”halal bi halalal”. Pertemuan itu menjadi ajang silaturrahim antar-sesama. Kini, mungkin sejak dua puluh tahun lalu wadah itu telah ”ditelan masa, dilumat keadaan”.

Mungkin sepuluh atau duabelas tahun lalu, saya, Prof. Asasriwarni, Prof. Hermansyah pernah diundang oleh masyarakat kampung untuk melaksanakan semacam seminar atau ”temu ilmiah”. Hal yang dibahas banyak dimensi yang menyangkut dengan masalah hidup dan kehidupan masyarakat. Satu dari hasil seminar itu yang masih saya ingat adalah “Pembentukan Forum Komunikasi Masyarakat Maek”. Forum itu dilegalisasi oleh Wali Nagari. Artinya, kepengurusannya dilegalkan oleh Wali Nagari dengan Surat Keputusan. Saya tidak tahu lagi kemudian, apakah forum ini masih ada atau ”ditelan pula oleh keadaan”.

Tentu, tulisan ini seperti diungkapkan pada bagian awal, tujuannya hanyalah mendeskripsikan, menginformasikan pengalaman dan perasaan bahwa saya merasa menjadi ”orang asing di kampung sendiri”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *