RESPON “MENJADI ORANG ASING”

Oleh Zulkarnaini Diran

Tulisan saya “Menjadi Orang Asing” mendapat respon dari para perantau Maek. Lebih dari empat puluh orang telah membaca tulisan yang saya apload di zulkarnaini.my.id Selasa, 23 September 2025. Pada umumnya respon itu berisi pernyataan “perasaan yang sama” seperti diungkapkan sebagian isi tulisan saya. Sebagian respon itu saya tuliskan kembali di bawah judul ini. Respon itu ada yang berbentuk pernyataan, komentar, dan saran. Berikut ini ditampilkan tulisan utuh dari responder. Sebagian besar respon tidak dapat ditampilkan karena WA perantau menggunakan timer pendek sehingga tulisannya sudah hilang.

Berikut ini adalah respon dari Drs. Syafri Amrul, M.H. (Pensiunan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Barat): ”Sama betul Mak perasaan kita, sayapun merasakan hal yg sama. Rasanya sebelum merantau, kampung kelahiran khususnya Maek dan umumnya  Sumbar/Minang adalah milik kita yg kita banggakan saking menyatunya dlm diri kita mengenai tatacara, adat kebiasaan, hubungan warganya yg sangat harmonis, saling menghargai, saling kunjung-mengunjungi, sopan, santun, berakhlak,  klrg orang kita anggap klrg kita sendiri, begitu sebaliknya.  Namun setelah pulang dari rantau dari Timur Indonesia, Kota Merauke, Irian Jaya, sekarang Papua,  selama 16 tahun, kurenah warga kampung kita, sebagaimana  yg kita alami selama hidup dikampung dulu  sdh berubah. Bayangan kita keadaannya msh seperti 16 thn lalu.  Lebih kurang 1,5 tahun di kampung baru saya dan klrg bisa menerima keadaan, baru bisa menyesuaikan diri.”

Berikut ini respon Rynaldi St.Mudo, S.Pd. Guru Sekolah Dasar di Limo Kaum, Batusangkar, Tanah Datar: Waalaikumsalam izin share Yo Mak. Semoga bermanfaat bagi generasi Mudo Kito bahwa di kampuang Kito Ado sebuah tradisi manjalang DUNSANAK tiap kali Lebaran atau di waktu lain yang sudah mulai hilang bahkan apa yang kita khawatirkan ketika kemenakan tidak lagi memanggil mamak (sesusuku) dengan panggilan khas kita orang Minang khususnya (Maek). Saya sangat berkesan dengan Tradisi Tahunan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Nenan “Manjalang Mamak” Meskipun tradisi tersebut boleh dikategorikan sudah Usang tapi memberikan manfaat yang luar Biasa bagi generasi penerus kita. Perkembangan dunia teknologi dan derasnya arus globalisasi mengikis selangkah demi selangkah yang menjadi ciri khas budaya Minangkabau (Maek).

Di lihat dari segi panggilan kepada yang lebih besar (Ombo) sudah sangat jarang kita dengar. Panggilan Mak Etek, Mak Onga, Mak Odang sudah di Gantikan dengan Panggilan yang umum Yaitu Om dsb. “Menjadi asing di kampung sendiri ” sekitar 16 tahun yang silam di sebuah pertemuan disalah satu sekolah di Nagari Kita Mamak pernah bercengkrama dalam gurauan ” Bilo Ang Pulang,  Bilo Ang poi Aliak” suatu kehadiran yang seakan tak di terima dengan di iringi senyuman dan tawa khas mamak ketika itu. Semoga para sesepuh, mamak kami selalu membimbing kami dalam membumikan kembali Pusako nan lah usang di kampuang Kito. Makasih Mak

Ini respon dari Syakrani, B.A., S.H. (Pensiunan BKKBN, tinggal di Rambatan Tanah Datar): Kamangapo awak lai kiang, keadaan lah barubah.

Berikut respon H.Ratius, S.Pd. (Pensiunan Kepala SD, Ketuai MU Nagari Maek): Mantap Mak, fakta dilapangan, kenyataan yg.tak terbantahkan.

Berikut respon Hj. Salimah Hayati, B.A. (istri H.Harius Rusli, L.C., Pendiri dan Pengelola Pondok Pesantren Al-Qur’an Harsallakum, Bengkulu): Apo lai kok kami pulang kampuang, tocongang-congang urang nengok kami gaknyo.

Berikut respon dari Dr. Pismawenzi, M.Ag. (Dosen UIN Imam Bonjol Padang): Iyo botua tu pak etek. Generasi kami je la banyak awak nan dak kenal jo nan bujang-bujang jo gadis de pak etek. Tontu di generasi pak etek nenek mereka mungkin yg pak etek kenal (nan obe). Generasi kami, ibunyo nan kami tau pak etek.

Menarik utk dikaji pak etek.Parolu baliak awak adoan acara dalam rangka menjawab persoalan iko ndak pak etek. Tapi baapola pak etek kadang  berbagai keterbatasan mambuek acara2 nan sobona e awak idam2 kan sulit utk diwujudkan. Atau mungkin bisa diadoan acara2 online maingek kini jangkauan tekhnologi la sampai merambat ka pelosok pun. 

Berikut respon dari Siska Amelia, S.Pd. SD (Guru Sekolah Dasar, Mengajar di Limbanang): Menyentuh sekali tulisan nya pak wo. Itu jg km rasakan, walaupun km tinggal dmaek. Rasa kekeluargAN itu sdh hampir hilang.  

Perantau yang membaca tulisan saya itu memberikan umpan balik. Isi balikan itu hampir sama. Saya dapat menyimpulkan beberapa hal. Di antaranya, perantau merasakan seperti yang saya rasakan. Hal yang saya alami ketika pulang ke kampung, juga dialami oleh para perantau lain. Rupanya ”perasaan” yang saya tampilkan di dalam tulisan itu cukup universal, berlaku secara umum, dialami oleh pada umumnya perantau yang berasal dari Maek. Itu simpulan pertama yang saya perdapat.

Simpulan lain adalah pengakuan perantau bahwa kultur di kampung kita Maek memang sudah berubah. Rasa kolegalisme kelompok sudah digantikan oleh individualisme. Individu lebih menonjol daripada kelompok badunsanak, bakaum, basuku, bakampuang, banogori.  Hubunga antar individu kian renggang. Hubungan itu hanya ada karena ada “kepentingan individu”. Hal ini tentu dipengaruhi oleh banyak faktor atau variabel. Di antaranya mungkin (perlu penelitian lebih lanjut) masuknya budaya atau kultur kota ke dalam masyarakat kita. Bisa jadi Nogori Maek dapat dijuluki dengan label ”Desa yang Mengkota”.

Simpulan selanjutnya, ada saran agar dilaksanakan pertemuan antara masyarakat perantau dengan masyarakat di kampung. Pertemuan itu bisa jadi dirancang sekali setahun atau sekali dua tahun. Melalui pertemuan itu dapat tersambung silaturahim antar-sesama. Lagi pula dapat menyambung tali yang terputus dan menghubungkan sanak dengan saudara dan seterusnya. Hal yang lebih penting adalah tersambungnya ikatan batin, terikatnya hubungan dari “hati ke hati” antar warga yang berlabel “Maek”. Insyaallah!

Terus siapa dan apa wadah untuk memprakarsai pertemuan itu? Kita tunggu juga komentar-komentar dari para perantau dan masyarakat dari kampung halaman, nogori Maek, Bukik Pusuak, Seribu Menhir, dan entah apalagi julukannya. Salam!

Manna, Bengkulu Selatan, 24 September 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *