Oleh Zulkarnaini Diran

Apa saja yang dikerjakan dalam keseharian hendaklah dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan hal-hal lain, bukan karena manusia, dan sebagainya. Dari situ akan diperoleh kenikmatan dalam berbuat. Bertaqwa adalah kunci kebahagian. Berdasarkan konsepnya taqwa itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laragan-Nya. Sementara kunci ketenangan batin adalah tawakal atau berserah diri kepada Allah atas usaha dan doa yang dilakukan. Artinya hasil dari usaha atau ikhtiar dan doa digantungkan kepada Allah. Jika hal itu dilakukan insyaallah akan tercapai kenikmatan, kebahagian, dan kedamaian batin.
Ikhlas secara bahasa berarti membersihkan atau memurnikan. Dalam konteks agama, ikhlas adalah memurnikan niat dalam setiap amal perbuatan semata-mata hanya karena Allah SWT, bukan karena motif duniawi seperti pujian, pengakuan, atau balasan dari manusia. Ikhlas menjadi pondasi utama penerimaan amal di sisi Allah. Dengan berbuat secara ikhlas karena Allah, seseorang akan memperoleh kenikmatan dalam berbuat. Kenikmatan yang dimaksud bukanlah kenikmatan fisik atau materi, melainkan kenikmatan batin, ketenangan jiwa, dan rasa puas karena telah menunaikan hak Allah tanpa mengharapkan imbalan dari makhluk. Melakukan segala aktivitas sehari-hari dengan niat yang murni mengubah rutinitas menjadi ibadah yang berbuah pahala dan kebahagiaan hati.
Allah SWT secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dengan ikhlas, memurnikan amal hanya untuk-Nya. Perintah ini termaktub dalam firman-Nya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-An’am: 162) Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, dari ibadah ritual hingga kehidupan dan kematiannya, harus didasarkan pada ketulusan niat hanya untuk Allah. Rasul bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasan) sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis yang terkenal ini, sering dijadikan pembuka dalam kitab-kitab Hadis, menunjukkan bahwa nilai dan penerimaan suatu amal sepenuhnya bergantung pada niat yang mendasarinya, yaitu ikhlas karena Allah.
Selanjutnya Zun Nun menukilkan, “Tidak ada kebahagiaan tanpa taqwa.” Pernyataan ini menjelaskan bahwa taqwa merupakan kunci kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksud di sini adalah kebahagiaan sejati yang meliputi ketenangan di dunia dan keselamatan serta kenikmatan abadi di akhirat. Taqwa menjadi peta jalan bagi seorang Muslim untuk mencapai tujuan hidupnya. Berdasarkan konsepnya, taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ini adalah implementasi ilmu dan iman yang dimiliki seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari. Taqwa menciptakan sistem perlindungan diri yang membentengi individu dari dosa dan kezaliman. Selain itu mendorongnya untuk selalu berada di jalur kebaikan, dan menjaga hubungan baik dengan Allah maupun sesama manusia.
Al-Qur’an banyak menekankan keutamaan taqwa. Bahkan menjadikan taqwa sebagai standar kemuliaan di sisi Allah, bukan karena keturunan atau kekayaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini memberikan motivasi kuat bahwa kemuliaan sejati diukur dari kadar taqwa seseorang, yang merupakan manifestasi ketaatan paripurna. Allah SWT berfirman (dalam hadis Qudsi), “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Tafsir ayat 2-3 dari QS. Ath-Thalaq yang sering dikutip dalam hadis). Kesimpulan dari poin ini adalah bahwa taqwa, melalui ketaatan penuh, menjadi sumber solusi atas segala masalah dan pembuka pintu rezeki, yang pada akhirnya mendatangkan kebahagiaan yang mendalam.
Selanjutnya Zun Nun menyatakan, “Tidak ada kedamaian batin tanpa tawakal.” Tawakal, atau berserah diri, adalah kunci untuk mencapai ketenangan batin. Setelah seorang Muslim berusaha (berikhtiar) secara maksimal dan berdoa, ia harus menyerahkan hasil akhir dari usahanya sepenuhnya kepada kehendak dan ketetapan Allah. Hal ini dengan tepat menjelaskan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif, melainkan penyerahan diri yang dilakukan setelah usaha (ikhtiar) dan doa dilakukan. Artinya, hasil dari usaha dan doa digantungkan kepada Allah. Kesadaran bahwa Allah adalah sebaik-baik Pengatur dan Penentu takdir (Qada dan Qadar) membebaskan hati dari kekhawatiran dan kegelisahan terhadap hasil, yang merupakan sumber utama kedamaian batin.
Al-Qur’an memerintahkan umat Muslim untuk berpegang teguh pada tawakal, terutama dalam menghadapi kesulitan dan mengambil keputusan. Allah SWT berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 159). Ayat ini menempatkan tawakal sebagai langkah penting setelah perencanaan dan pengambilan keputusan yang matang (azam).
Rasulullah SAW menjelaskan hakikat tawakal yang benar, yaitu tawakal yang didahului oleh usaha nyata. Beliau bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; mereka berangkat pagi hari dalam keadaan perut lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menggambarkan bahwa tawakal yang benar menuntut adanya usaha (seperti burung yang pergi mencari makan) dan kepercayaan mutlak (yakin akan kembali dalam keadaan kenyang).
Untuk menjadikan ikhlas, taqwa, dan tawakal menjadi milik kita, tentu diperlukan proses terus-menerus. Artinya pelatihan untuk ketiga hal itu dilakukan secara kontiniu dalam keseharian dan dalam berbagai dimensi kehidupan yang dilalui. Berlatih tanpa henti, tanpa bosan, dan tenpa menyerah untuk meraih ketiga hal tersebut adalah tindakan mutlak yang harus dilakukan. Dengan menjadikan ikhlas, taqwa, dan tawakal menjadi milik kita, insyaalah kenikmatan, kebahagiaan, dan kedamaian batin akan menjadi miliki kita yang sejati. Insyaallah doa kita terkabul yakni menggapai bahagia di dunia dan akhirat. Mari kita terus berlatih, ya!
Sleman, Yogyakarta, 15 Desember 2026