MENGINGAT MATI

Oleh Zulkarnaini Diran

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (QS Al-Angkabut, 29:57).

Kematian adalah kepastian. Suatu peristiwa yang mutlak akan dialmi oleh makhlk bernyawa. Hal ini tidak dapat dihindari, tidak dapat dielakkan, dan tidak dapat ditunda atau dimajukan. Jika sampai waktunya, kematian akan datang dengan sendirinya, akan berkunjung kepada setiap makhluk bernyawa. Oleh karena itu, manusia, khususnya muslim, lebih khusus lagi mukmin, diingatkan tentang kematian. Agar mereka senantiasa mengingat kematian. Setelah itu, hal penting lainnya adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Kematian bukanlah kehilangan atau kemusnahan semata. Kematian adalah peristiwa terputusnya hubungan roh dengan jasad, terpisahnya jiwa dengan raga. Kematian adalah musibah yang paling besar. Allah SWT berfirman, “Lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (QS Al- Maidah:106). Kematian memang musibah besar, tetapi para ulama mengatakan, musibah yang lebih besar bagi manusia adalah lupa pada kematian, tidak mau mengingatnya, dan tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Rasulululah SAW bersabda, “Sering-seringlah kalian mengingat sesuatu yang akan melenyapkan kenikmatan-kenikmatan! Maksudnya adalah kematian.” (HR An-Nasa’i, Abu Hurairah, Ibnu Majah, Tirmizi). Pada Riwayat lain dikisahkan, “Sering-seringlah kalian mengingat sesuatu yang dapat melenyapkan kenikmatan-kenikmatan.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apa sesuatu yang melenyapkan kenikmatan itu?” Beliau menjawab, “Kematian.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar, dia berkata, ketika kami duduk bersama Rasululllah SAW, tiba-tiba muncul sahabat Ansar. Setelah mengucapkan salam, kemudian beliau bertanya, “Wahai Rasululullah, siapakah mukmin terbaik itu?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya”. Dan dia bertanya Kembali, “Siapakah mukmin yang paling cerdas itu?” Beliau menjawab, “Yang paling sering mengingat mati dan mempunyai persiapan terbaik untuk menyambut apa yang terbaik sesudahnya. Mereka itu orang-orang yang paling cerdas.”

Rasulullah bersabda, “Orang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya sendiri dan beramal untuk kepentingan akhirat nanti. Dan orang yang rugi adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berharap-harap terhadap ampunan Allah SWT” (HR Tirmidzi)

Ad-Daqqaq berkata, “Barangsiapa yang sering mengingat mati, maka dia akan dimuliakan dengan tiga hal. Yakni, menyegerakan bertobat, hati yang qana’ah (menerima apa adanya), dan semangat dalam beribadah. Dan, barangsiapa yang lupa kematian, maka dia akan diberi sangsi dengan tiga hal. Yakni, menangguhkan bertobat, tidak puas dengan pemberian Allah, dan malam beribadah. (Imam Al-Qurthubi, 2020:7).

Konsep mengingat kematian dalam Islam bukanlah tindakan yang bertujuan untuk menciptakan rasa pesimis atau keputusasaan terhadap kehidupan dunia. Sebaliknya, ia adalah sebuah mekanisme kendali diri agar manusia tidak terbuai oleh fana-nya kenikmatan duniawi. Mengingat mati berarti menyadari bahwa setiap hembusan napas membawa kita selangkah lebih dekat ke garis finis. Hal ini selaras dengan konsep “mukmin yang cerdas” yang disebutkan dalam hadis Ibnu Majah, bahwa kecerdasan diukur dari kemampuan seseorang melampaui batas waktu masa kini untuk memikirkan masa depan yang abadi.

Rasulullah SAW menyebut kematian sebagai hadzimul ladzzat (penghancur kelezatan). Konsep ini berfungsi sebagai penawar bagi penyakit hati seperti rakus, sombong, dan panjang angan-angan (thulul amal). Dengan menyadari bahwa semua materi dan jabatan akan ditinggalkan, seseorang akan memiliki cara pandang yang lebih proporsional terhadap dunia. Kelezatan duniawi yang sering kali melalaikan disaring melalui kesadaran akan maut, sehingga manusia tetap berpijak pada nilai-nilai ketuhanan.

Cara paling efektif untuk mengingat kematian di antaranya adalah melalui ziarah kubur dan takziyah. Rasulullah SAW bersabda, “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarah kuburlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat melunakkan hati, menitikkan air mata, dan mengingatkan pada akhirat” (HR Al-Hakim). Dengan melihat nisan dan liang lahat, visualisasi mengenai kesendirian di alam barzakh menjadi nyata, yang kemudian memicu refleksi batin tentang apa yang telah dipersiapkan.

Selain ziarah, cara lain adalah dengan melakukan muhasabah atau koreksi diri setiap hari. Sebagaimana kutipan hadis riwayat Tirmidzi dalam kutipan di atas, orang yang cerdas adalah yang mampu mengadili dirinya sendiri sebelum ia diadili di hadapan Allah. Membayangkan peristiwa sakaratul maut dan bagaimana pertanggungjawaban atas setiap detik usia dilakukan secara mental dapat memperhalus budi pekerti dan memperkuat komitmen ibadah.

Tidak ada waktu khusus yang membatasi seseorang untuk mengingat kematian, karena kematian itu sendiri datang tanpa mengenal waktu. Namun, waktu-waktu hening seperti sepertiga malam terakhir atau menjelang tidur adalah saat yang paling mustajab untuk merenung. Mengingat mati di saat kita sedang berada di puncak kesenangan sangat disarankan agar kita tidak lupa diri, sebagaimana mengingatnya di kala sempit dapat memberikan ketenangan bahwa penderitaan dunia ini pun bersifat sementara.

Hal utama yang harus dilakukan setelah munculnya kesadaran akan maut adalah menyegerakan taubat. Sebagaimana perkataan Ad-Daqqaq, orang yang sadar akan maut tidak akan menunda-nunda permohonan ampun. Ia menyadari bahwa pintu taubat bisa tertutup kapan saja saat nyawa sudah di kerongkongan. Maka, setiap pengingat akan kematian harus dikonversi menjadi tindakan nyata berupa pembersihan diri dari dosa-dosa masa lalu.

Dampak psikologis yang kuat dari mengingat mati adalah lahirnya sifat qana’ah, yakni merasa cukup dengan pemberian Allah. Ketika seseorang sadar bahwa jasadnya hanya akan dibungkus selembar kain kafan, gairah untuk menumpuk harta secara berlebihan akan berkurang. Ia akan lebih fokus pada kualitas pemanfaatan harta untuk sedekah dan kebaikan, daripada sekadar kuantitas kepemilikan yang justru akan memperberat hisab di akhirat.

Kesadaran akan maut harus memicu semangat dalam beribadah. Ibadah tidak lagi dirasa sebagai beban, melainkan sebagai bekal utama. Seseorang yang ingat mati akan berusaha melakukan setiap shalatnya seolah-olah itu adalah shalat perpisahan (salatul muwaddi’). Dengan pola pikir ini, kekhusyukan akan meningkat dan setiap amal dilakukan dengan standar terbaik (ihsan) karena ia tidak yakin apakah masih memiliki kesempatan di waktu berikutnya.

Disebutkan bahwa mukmin terbaik adalah yang paling baik akhlaknya. Setelah mengingat mati, seseorang seharusnya lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Membayangkan kematian mendorong kita untuk segera meminta maaf atas kesalahan dan menunaikan hak orang lain yang masih kita bawa. Hal ini krusial karena urusan antarmanusia (hablum minannas) yang tidak selesai di dunia akan dituntut di padang mahsyar.

Mengingat kematian pada akhirnya adalah tentang perencanaan strategis. Seperti orang cerdas yang beramal untuk kepentingan akhirat, kita dituntut untuk meninggalkan legacy atau amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun raga telah terpisah dari jiwa. Mengingat mati adalah sebuah titik tolak untuk hidup lebih bermakna, lebih beretika, dan lebih bertakwa, sehingga saat “bahaya kematian” itu tiba, kita menyambutnya sebagai hamba yang telah siap menemui Sang Pencipta. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 21 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *