MENJEPUT KEBAHAGIAAN MASA LALU

Oleh Zulkarnaini Diran

Wanita di atas enampuluh tahun itu curhat. Suaminya meninggal delapan tahun yang lalu. Kini dia menikah lagi. Suami yang menikahinya ini sakit-sakitan, tidak berpenghasilan. “Saya dengan suami yang lama tidak bahagia, karena itu pada usia enam puluh empat tahun ini saya menikah lagi dengan laki-laki ini. Ya, laki-laki ini pilihan saya waktu remaja, tetapi tidak jadi menikah karena dipakasa oleh orang tua menikah dengan lelaki lain.”  Begitu wanita pensiunan guru ini bercerita.

Meskipun dengan suami lamanya yang sudah meninggal itu tidak bahagia, namun Allah tetap mengamanahkan empat orang kepada pasangan itu. Satu anak laki-laki, tiga anak Perempuan. Tiga orang dari anak-anaknya itu telah menikah – berkeluarga, tinggal satu yang masih lajang. Anak-anaknya telah menyarankan, agar ibu ini tidak usah menikah lagi. Apalagi pasangannya itu orang usia lanjut, sakit-sakitan, dan tidak berpenghasilan. Akan tetapi, ibu ini tetap saja mengambil keputusan untuk menikah. Mungkin dia “menjeput kebahagiaan masa lalu”. Mungkin.

Ternyata defenisi bahagia berbeda bagi setiap orang. Hakikat bahagia itu mungkin sangat subjektif bagi setiap individu. Mestinya, bahagia itu sendiri ada standarnya. Nah, satandar ini mungkin yang belum terpahami sunggunh-sungguh oleh ibu ini. Mestinya, sebagai penganut Islam, standar yang digunakannya adalah standar Islami. Seperti apa ukuran atau indikator bahagia menurut Islam? Itulah yang seharusnya menjadi pedomannya. Akan tetapi, bagi ibu ini kebahagiaan itu “mungkin” bertemu kembali dengan orang yang pernah dicintainya saat remaja dan kemudia membangun rumah tangga lagi. Mungkin.

Keputusan seorang wanita berusia 64 tahun untuk menikah kembali dengan kekasih masa remajanya—meskipun sang suami baru dalam keadaan sakit-sakitan dan tidak berpenghasilan—menunjukkan betapa kuatnya dorongan emosional manusia dalam mengejar kerinduan masa lalu. Secara psikologis dan emosional, ada kecenderungan manusia untuk mengaitkan kebahagiaan dengan “sesuatu yang hilang” atau impian masa muda yang belum terwujud. Hal ini secara tajam menggambarkan fenomena “menjemput kebahagiaan masa lalu” sebagai upaya menutup luka emosional atau kekecewaan atas pernikahan sebelumnya yang dirasa tidak membahagiakan.

Keputusan tersebut diambil meskipun anak-anak sang ibu telah memberikan saran agar ia tidak menikah lagi. Hubungan orang tua dan anak yang sudah dewasa sering kali menghadapi dilema ketika terjadi perbedaan pandangan terkait keputusan hidup yang krusial. Dalam konteks ini, anak-anak memandang aspek pragmatis dan realitas—seperti kesehatan suami baru dan ketiadaan penghasilan—sementara sang ibu digerakkan oleh ikatan emosional subjektif. Hal ini menunjukkan perlunya komunikasi yang berlandaskan kasih sayang, kearifan, serta sikap saling memahami batas-batas hak dan kewajiban antara orang tua dan anak dalam bingkai syariat.

Ukuran kebahagiaan sering kali bersifat sangat subjektif. Bagi sebagian orang, kebahagiaan diukur dari materi, bagi yang lain dari status sosial, dan bagi ibu dalam wacana ini, kebahagiaan dipersepsikan sebagai pemenuhan impian asmara yang tertunda. Namun, jika kebahagiaan hanya disandarkan pada tolok ukur emosional dan kriteria duniawi yang rapuh, kebahagiaan tersebut berpotensi menjadi semu dan mudah berguncang ketika dihadapkan pada realitas ujian hidup, seperti sakit dan kesulitan ekonomi.

Dalam perspektif Islam, kebahagiaan (al-sa’adah) tidak bersifat subjektif semata atau terbatas pada kepuasan emosional dan ketenangan materi. Kebahagiaan sejati (al-sa’adah al-haqiqiyah) berakar pada ketenangan jiwa (tuma’ninah), ketakwaan, serta keterikatan hati kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah sekadar terpenuhinya hasrat pribadi, melainkan ketentraman yang lahir ketika seluruh keputusan hidup diselaraskan dengan ridha Allah. Kebahagiaan hakiki adalah dampak dari iman dan amal saleh yang memancar dalam setiap kondisi kehidupan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa sumber ketenangan jiwa yang hakiki hanyalah mengingat Allah (dzikrullah), bukan sekadar penataan variabel duniawi atau pemenuhan impian masa lalu. Allah SWT berfirman,  “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Selain itu, keberkahan hidup dan kebahagiaan sejati dijamin bagi siapa saja yang beramal saleh dalam keadaan beriman, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. An-Nahl [16]: 97)

Dalam pernikahan, kebahagiaan diwujudkan melalui terciptanya sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (kasih sayang). Hal itu diisyaratkan Allah SWT, “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”  (Ar-Rum [30]: 21).

Rasulullah SAW juga menjelaskan indikator kebahagiaan seorang muslim melalui hadisnya, “Empat hal yang termasuk kebahagiaan: pasangan yang saleh/salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Ibn Hibban). Pasangan yang saleh atau salehah menjadi pilar utama kebahagiaan karena ia mampu membimbing dan membawa kedamaian spiritual, bukan sekadar memuaskan kenangan emosional masa lalu.

Para ulama besar telah mengupas tuntas hakikat kebahagiaan, di antaranya Imam Al-Ghazali dalam karya fenomenalnya Kimiya-i Sa’adat (Kimia Kebahagiaan) menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada pengenalan diri (marifatun nafs) dan pengenalan kepada Allah (marifatullah). Menurutnya, kebahagiaan fisik dan hawa nafsu bersifat sementara dan menipu, sedangkan kebahagiaan ruhani yang bersumber dari ketaatan adalah kebahagiaan yang abadi.

Ulama terkenalIbn Taimiyah menegaskan: “Kebahagiaan berada di dalam hati. Kebahagiaan itu adalah ketika hati merasakan kelezatan beriman kepada Allah, mengenal-Nya, dan beribadah kepada-Nya.”  Selanjunta Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah membagi kebahagiaan menjadi tiga tingkatan: kebahagiaan fisik/materi (yang paling rendah), kebahagiaan intelektual, dan kebahagiaan spiritual/hati (yang paling tinggi dan abadi).

Dalam kasus curhat di atas, ikhtiar menikahi suami baru yang sakit-sakitan dan tidak berpenghasilan menuntut kesadaran akan konsekuensi ibadah. Jika pernikahan ini diniatkan sebagai bentuk ibadah, pelayanan, dan kesabaran untuk merawat sesama hamba Allah, maka di situlah letak keberkahannya. Namun, jika pernikahan hanya didasari oleh ekspektasi kebahagiaan romantisme masa lalu, ketidakpastian realitas dapat memicu kekecewaan baru. Kebahagiaan dalam Islam selalu melibatkan dua pilar utama: syukur atas nikmat dan sabar atas ujian.

Kisah ini menjadi ikhtibar (pelajaran) penting bagi setiap muslim dalam memahami standar kebahagiaan. Sering kali manusia terjebak pada persepsi bahwa kebahagiaan berada pada “apa yang tidak kita miliki” atau “apa yang luput di masa lalu”. Padahal, kebahagiaan hakiki ada pada kemampuan menerima takdir Allah (ridha bil qadha), mensyukuri nikmat anak-anak yang telah tumbuh dewasa, dan fokus mempersiapkan bekal akhirat di usia senja.

Tullisan dengan ilustrasi ini menyajikan cermin kehidupan tentang  ekspektasi manusia terhadap kebahagiaan. Hal itu sering kali dipengaruhi oleh perasaan subjektif dan kenangan masa lalu. Islam tidak melarang seseorang mencari kebahagiaan atau menikah kembali di usia senja. Namun, Islam memberikan arah dan standar yang jelas: kebahagiaan sejati tidak diukur dari terpenuhinya hasrat nostalgia atau persepsi subjektif semata, melainkan dari ketenteraman jiwa yang lahir dari iman, ketakwaan, ketaatan kepada Allah, serta keridhaan menerima setiap takdir-Nya. Ketika standar kebahagiaan disandarkan pada nilai-nilai ilahiah, seseorang akan menemukan kedamaian hakiki dalam kondisi apa pun yang dihadapinya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Manna, Bengkulu Selatan, 09 Agustus 2026

Disarikan dari berbagai sumber bacaan dan dipadukan dengan beberapa pengalaman sahabat yang pernah menyampaikan isi hati kepada saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *