Oleh Zulkarnaini Diran

Sejatinya seorang mukmin memahami bahwa ikatan keluarga atau kerabad tidak akan abadi tanpa adanya ikatan iman dan tauhid. (Syaikh Ishamuddin Ash-Shababithi, 2005:29). Kerabat dalam berbagai etnis terbentuk karena dua hal. Pertama karena perkawinan dan kedua karena “sedarah” atau keturunan. Ikatan itu seyogyanya sangat kental, sengat erat, dan terpatri dengan kokoh. Ikatan perkawinan mempertemukan dua keluarga mempelai laki-laki dan perempuan. Ikatan keturunan mempetautkan satu individu dengan individu lain karena sedarah. Mestinya ikatan ini abadi sepanjang masa.
Kenyataannya tidaklah demikian. Kita ingat kisah Nabi Yusuf yang dicelakai oleh suadara-saudaranya. Kita kenang kisah Nabi Ibrahim yang tidak mampu menyelematkan, Azar, bapaknya dari api neraka. Kisah Nuh yang tidak mampu menyelematkan anaknya dari amukan topan besar. Kisah Nabi Lut tidak dapat menyelamatkan istrinya dari kemurkaan Allah SWT. Semuanya terjadi karena “tali pengikatnya” hanya perkawinan dan keturunan, bukan ikatan erat yang abadi seperti termaktub dalam kutipan di atas.
Persaudaraan karena iman, atau yang sering kita sebut Ukhuwah Islamiyah, adalah ikatan hati yang dipersatukan oleh kesamaan keyakinan kepada Allah SWT. Ikatan ini melampaui batas-batas fisik seperti suku, ras, bangsa, bahasa, dan strata sosial. Ketika seseorang menyatakan dirinya beriman, ia secara otomatis menjadi bagian dari sebuah keluarga besar global yang saling menyayangi. Allah SWT menegaskan konsep ini secara gamblang dalam Al-Quran, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat [49]:10)
Ikatan iman ini laksana satu tubuh. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim menggambarkan bahwa jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Sifat dari persaudaraan ini adalah saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Jika iman adalah pengikat hatinya, maka tauhid adalah fondasi atau akar dari ikatan tersebut. Persaudaraan setauhid artinya kita sama-sama mengesakan Allah SWT, menyembah Tuhan yang satu, dan berkiblat pada aturan yang sama. Tauhid membersihkan jiwa manusia dari egoisme. Ketika dua orang atau lebih memiliki tauhid yang murni, hubungan mereka didasari oleh ketulusan yang murni pula—yaitu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah (Al-Hubbu fillah wal-Bugdhu fillah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan dalam kitab Majmu’ Fatawa. Ikatan aqidah dan tauhid adalah ikatan yang paling kuat yang bisa mengumpulkan manusia yang saling berjauhan, bahkan yang terpisah jarak antar-generasi ratusan tahun. Orang tauhid di zaman ini akan merasa sangat dekat dan mencintai para sahabat Nabi di zaman dulu, murni karena mereka memiliki Tuhan dan keyakinan yang sama.
Pernikahan dan hubungan darah (keturunan) adalah anugerah besar dari Allah untuk menjaga kelestarian manusia di bumi. Sifatnya sangat kuat di dunia. Namun, mengapa itu tidak cukup untuk disebut “abadi”? Jawabannya adalah karena kematian dan hari kiamat akan memutus semua itu jika tidak dibarengi dengan iman. Di akhirat kelak, setiap orang akan berlari menyelamatkan diri masing-masing.
Tanpa iman, kebaikan dalam hubungan keluarga hanya bersifat transaksional dan emosional sesaat di dunia. Ketika ego, perebutan harta warisan, atau perbedaan prinsip hidup muncul, ikatan darah ini bisa sangat mudah retak. Hal ini membuktikan bahwa biologi (sedarah) dan hukum (pernikahan) memiliki keterbatasan ruang dan waktu yang sangat nyata.
Risiko terbesar dari ikatan yang tidak didasari iman adalah terputusnya hubungan tersebut di akhirat. Keluarga yang saling mencintai di dunia bisa berubah menjadi musuh yang saling menuntut di hadapan Allah. Suami akan menyalahkan istri, anak akan menuntut orang tua karena tidak mengajarkan agama, dan kakak-adik akan saling lepas tangan. Allah SWT menggambarkan kengerian putusnya ikatan keluarga non-iman ini dalam Al-Quran, “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf [43]:67)
Secara psikologis dan sosiologis, ilmuwan sosial modern seperti terekam dalam berbagai studi sosiologi keluarga juga menyatakan bahwa keluarga yang tidak memiliki “nilai spiritual bersama” (core spiritual values) cenderung lebih rentan mengalami perceraian atau keretakan psikologis yang parah saat menghadapi krisis besar dalam hidup, karena mereka tidak memiliki jangkar moral yang sama.
Al-Quran dipenuhi dengan kisah-kisah nyata yang menjadi bukti autentik rapuhnya hubungan darah tanpa iman. Kita melihat bagaimana Nabi Nuh AS harus merelakan anaknya, Kan’an, tenggelam ditelan banjir bandang. Hubungan ayah dan anak yang begitu dekat hancur seketika karena sang anak memilih kekafiran, hingga Allah berfirman: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan selamat)” (QS. Hud [11]: 46).
Begitu pula dengan Nabi Lut AS yang dikhianati oleh istrinya sendiri, atau Nabi Ibrahim AS yang tidak bisa menolong ayahnya, Azar, dari siksa neraka karena Azar adalah pembuat berhala. Contoh paling tragis dari hubungan persaudaraan sedarah adalah kisah Nabi Yusuf AS yang dibuang ke dalam sumur oleh kakak-kakak kandungnya sendiri karena hasad (iri dengki). Semua kisah ini adalah bukti nyata bahwa tanpa tauhid, rasa persaudaraan sedarah bisa berubah menjadi racun yang mematikan.
Al-Quran tidak hanya menceritakan masa lalu, tetapi juga memberikan gambaran masa depan—sesuatu yang pasti akan terjadi di hari kiamat kelak. Pada hari itu, hubungan keluarga yang paling intim sekalipun tidak akan memiliki arti apa-apa jika tidak ada iman yang mengikat mereka. Allah SWT berfirman, “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS Abasa [80]:34-36)
Ayat ini adalah nubuat (ramalan masa depan yang pasti) tentang ikatan biologis yang tadinya begitu diagung-agungkan di dunia, akan lebur dan tidak berguna sama sekali ketika pengadilan Allah ditegakkan. Ibu yang menyusui akan melupakan bayinya, dan suami akan mengabaikan istrinya.
Para ulama klasik maupun pemikir modern sepakat bahwa manusia membutuhkan ikatan yang sifatnya transendental (melampaui dunia fisik). Syaikh Ishamuddin Ash-Shababithi—sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini—menegaskan bahwa keabadian itu mutlak milik akhirat, maka apa saja yang ingin dibawa ke akhirat harus memiliki “paspor” akhirat, yaitu iman.
Dari sudut pandang psikologi modern, Prof. Malik Badri (pakar psikologi Islam) menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki fitrah tauhid. Ketika dua jiwa yang memiliki fitrah yang sama saling bertemu, mereka akan membentuk “resonansi spiritual” yang melahirkan ketenangan (sakinah). Sebaliknya, hubungan yang hanya didasari materi atau biologi akan selalu menyisakan kekosongan jiwa, karena dimensi spiritualnya diabaikan.
Melihat risiko-risiko di atas, tentu kita tidak ingin keluarga kita terputus fasenya hanya sampai di liang kubur. Kabar baiknya, Islam memberikan solusi bagaimana cara mengubah ikatan darah dan pernikahan yang fana tersebut menjadi ikatan yang abadi sampai ke surga. Caranya adalah dengan menyuntikkan iman dan tauhid ke dalam rumah tangga.
Ketika seorang suami mendidik istrinya dengan tauhid, dan orang tua membesarkan anak-anaknya dengan iman, maka status mereka berubah. Mereka bukan lagi sekadar keluarga biologis, melainkan juga keluarga ideologis (setauhid). Jika ini terjadi, Allah memberikan janji yang sangat indah, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS Ath-Thur [52]:21)
Bayangkan sebuah pemandangan di mana sebuah keluarga dikumpulkan kembali di dalam surga. Ayah, ibu, anak, cucu, hingga kakek-nenek berkumpul dalam keadaan suci, bahagia, dan tidak akan pernah berpisah lagi untuk selama-lamanya. Inilah puncak dari apa yang disebut dengan Ikatan Abadi. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan mengenai ayat di atas bahwa Allah akan mengangkat derajat anak-cucu di surga agar setingkat dengan orang tua mereka yang shaleh, meskipun amal anak-cucu tersebut sebenarnya berada di bawah amal orang tuanya. Ini adalah bentuk penghormatan dan hadiah dari Allah agar kebahagiaan keluarga mukmin tersebut menjadi sempurna dan abadi.
Ikatan darah dan pernikahan adalah modal awal yang Allah berikan di dunia. Ikatan itu laksana wadah kosong. Iman dan tauhidlah yang mengisi wadah tersebut sehingga ia bernilai di mata Allah. Tanpa isian iman dan taqwa, keluarga di dunia hanyalah teman perjalanan sementara yang akan saling melupakan saat pelabuhan akhirat tiba.
Mari kita jaga keluarga kita, bukan hanya dengan memberi mereka makan, pakaian, dan fasilitas duniawi, melainkan dengan membentengi mereka dengan kalimat Laa ilaha illallah. Insyaallah kita bisa bersama-sama menggandeng tangan mereka melintasi jembatan menuju surga-Nya. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 29 Mei 2026
Disarikan dari berbagai sumber, terutama Al-Quran dan Hadis