MEMOHON AMPUN

Oleh Zulkarnaini Diran

Tidak satu pun manusia yang terbebas dari dosa. Semua manusia berdosa. Bahkan nenek moyang manusia “Adam Alaihissalam dan istrinya Siti Hawa” juga berdosa. Justru karena dosa kedua orang yang mulia inilah manusia ada di bumi Allah ini. Jika Adam Alaihissalam dan istrinya tidak melakukan kesalahan atau dosa, mungkin kita tidak akan ada. Kalau kita ada, tentu kini tengah bersenang-senang di surga, bukan sedang bergulat dengan hidup dan kehidupan di bumi ini.

Allah SWT, Yang Maha Pengsih dan Maha Penyayang mememberi kesempatan kepada setiap hamba-Nya yang berdosa. Kesemepatan itu adalah meminta ampun kepada-Nya. Hal itu dinukilkan di dalam banyak ayat Al-Quran. Di antaranya: “Dan Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”  (An-Nisa’:106); “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dia sesungguhnya Maha Penerima tobat.” (An-Nashr:3); “Dan bangrangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nisa’:110).

Manusia sebagai hamba berdosa, bahkan penuh dosa. Allah Yang Maha Pencipta, Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberi kesempatan kepada pendosa untuk memohon ampun. Untuk memohon ampun itu tentu perlu dipahami pengertiannya atau konsepnya, cara-caranya, syarat-syarat yang harus dipenihi untuk memohon ampun, dan semua hal yang berkaitan dengan ampunan Allah SWT itu.

Secara filosofis dan teologis, keberadaan manusia di bumi memang tidak lepas dari peristiwa sejarah Nabi Adam AS. Sebagaimana yang  disampaikan, kesalahan tersebut menjadi titik awal perjalanan manusia di dunia sebagai khalifah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis,  “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat.” (HR. Tirmidzi). Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia bukan terletak pada ketiadaan dosa, melainkan pada kesadaran untuk kembali kepada-Nya.

Istighfar secara bahasa berarti menuntut ampunan (maghfirah). Maghfirah adalah perlindungan dari dampak buruk dosa dan upaya agar dosa tersebut ditutupi oleh Allah. Sementara itu, tobat adalah “kembali” dari jalan yang menjauh dari Allah menuju ketaatan. Jika istighfar sering kali diucapkan di lisan, maka tobat merupakan sebuah revolusi hati yang mencakup perubahan perilaku secara menyeluruh.

Agar permohonan ampun diterima, para ulama merumuskan kriteria tobat yang tulus (Nasuha). Syarat pertama adalah meninggalkan kemaksiatan tersebut seketika. Tidak mungkin seseorang dikatakan memohon ampun jika ia masih aktif melakukan dosa yang sama. Kedua adalah menyesali perbuatan tersebut di dalam hati (An-Nadam). Penyesalan adalah rukun terbesar dari tobat, karena tanpa penyesalan, permohonan ampun hanyalah kata-kata tanpa jiwa.

Syarat ketiga yang sangat krusial adalah adanya tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut di masa depan. Hal ini merupakan bentuk komitmen integritas seorang hamba di hadapan Sang Pencipta. Allah berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya… dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135).

Apabila dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak orang lain—seperti mencuri, memfitnah, atau menyakiti perasaan—maka ada syarat tambahan yang harus dipenuhi: menyelesaikan urusan dengan orang tersebut. Hal ini bisa berupa mengembalikan barang yang diambil atau meminta maaf secara langsung. Tanpa adanya keridaan dari pihak yang dizalimi, tobat seseorang masih dianggap tertahan di hadapan keadilan Allah.

Allah memberikan ruang waktu yang sangat luas bagi hambanya untuk memohon ampun. Pintu ampunan senantiasa terbuka selama matahari belum terbit dari barat (kiamat besar) dan selama nyawa belum sampai di kerongkongan (sakaratul maut). Hal ini memberikan harapan bagi setiap jiwa, sekelam apa pun masa lalunya, untuk memperbaiki diri sebelum perjalanan di dunia berakhir.

Secara teknis, memohon ampun dimulai dengan lisan melalui kalimat istighfar, namun harus diiringi dengan tindakan nyata atau perbuatan. Salah satu cara yang sangat dianjurkan adalah melalui Shalat Tobat. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berbuat dosa, kemudian ia berwudhu dengan baik, lalu berdiri melaksanakan shalat dua rakaat dan memohon ampun, niscaya Allah akan mengampuninya.” (HR. Abu Daud).

Dalam Islam, salah satu metode efektif untuk “mencuci” dosa adalah dengan melakukan perbuatan baik secara intensif. Prinsip ini didasarkan pada firman Allah: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosa).” (QS. Hud: 114). Melalui sedekah, menolong orang lain, dan menjalankan ibadah sunnah, seorang hamba sedang berupaya mengimbangi timbangan amalannya agar berat ke sisi kebaikan.

Memohon ampunan memerlukan pemahaman sifat-sifat Allah. Al-Ghaffar berarti Allah Maha Menutup dosa, sementara Al-Afuww berarti Allah Maha Menghapus dosa hingga bekasnya pun hilang. Keyakinan bahwa Allah pasti mengampuni adalah kunci utama agar seorang hamba tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”( QS. Az-Zumar: 53)

Memohon ampunan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan proses seumur hidup. Penting bagi kita untuk selalu mawas diri dalam setiap ucapan dan tindakan, terutama di era komunikasi digital saat ini. Membiasakan lidah untuk beristighfar dan menjaga hati agar tetap rendah hati akan menghindarkan manusia dari kesombongan spiritual yang merasa dirinya paling suci. Semoga tulisan sederhana ini memberikan kerangka yang jelas bagi kita dalam menjalani kehidupan sebagai hamba yang senantiasa berharap pada maghfirah-Nya.

Padang, 10 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *