Oleh Zulkarnaini Diran

Meyakini sesuatu tanpa pengetahuan dan pengalaman adalah kesia-siaan. Keyakinan seperti itu selain labil, juga sering membabibuta. Memperoleh keyakinan tentang sesuatu memerlukan proses yang lama, panjang, berbelit, dan berliku. Hal itu tentu juga berlaku untuk ”keyakinan beragama” bagi pemeluknya. Khusus dalam Islam, untuk menanam, menumbuhkan, memelihara, dan menerapkan keyakinan itu dipandu oleh Al-Quran, Sunnah, dan pendapat para ulama atau teolog Islam. Panduan itulah yang kemudian menjadi landasan pengetahuan. Selain itu, seorang hamba hendaklah menggunakan pengalaman hidup dan kehidupannya untuk penupang keyakinan.
Keyakinan berislam ditanam melalui pengetahuan (ilmu dan pengetahuan). Keyakinan yang sudah tertanam itu kemudian ditumbuhkan, dipelihara, dan diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Mendapatkan ilmu di dalam Islam tidak dianjurkan secara instan, tetapi melalui proses pembelajaran yang intesif dan efektif. Proses pembelajaran dipandu oleh orang yang tahu atau guru, kemudian dilakukan secara terorganisasi dalam bentuk lembaga. Hal itulah yang kemudian dikenal dengan belajar Islam melalui madrasah atau sekolah. Seyogyanya, sekolah atau madrasah Islam haruslah berlandaskan kepada Al-Quran, Sunnah, dan pendapat para ulama.
Hidup dan kehidupan yang dijalani melahirkan pengalaman. Pengalaman itu juga dapat dijadikan landasan untuk menanam, menumbuhkan, memelihara, dan menerapkan keyakinan dalam keseharian. Menggunakan pengalaman untuk berkeyakinan, memerlukan kiat, seni, teknik, dan metode yang konsisten. Tidak semua orang mampu menggunakan pengalamannya untuk berkeyakinan dalam berislam. Hamba yang mau menjadikan pengalaman sebagai guru, akan mampu memanafaatkannya untuk keyakinan berislam.
Keyakinan (i’tiqad atau iman) bukanlah sesuatu yang datang serta-merta tanpa fondasi yang jelas. Meyakini sesuatu tanpa didasari oleh ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup hanyalah sebuah kesia-siaan yang berbuah pada kerapuhan spiritual. Dalam Islam, keyakinan harus berakar kuat pada bangunan epistemologi yang jelas, yaitu wahyu ilahi, sunnah Rasul, serta kebijaksanaan para ulama yang diintegrasikan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Pentingnya pengetahuan sebagai fondasi keyakinan ditegaskan langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Quran. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra [17]: 36). Ayat ini menunjukkan bahwa keyakinan dalam Islam menolak sikap taklid buta. Seorang Muslim dituntut untuk menggunakan akal, panca indra, dan hatinya untuk mencari ilmu sebelum menetapkan sebuah keyakinan. Senada dengan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah). Ilmu menjadi kemudi utama agar keyakinan yang dianut tidak mudah goyah oleh perubahan zaman maupun arus pemikiran yang menyesatkan.
Menanamkan keyakinan beragama memerlukan proses yang terstruktur dan tidak bisa instan. Di sinilah lembaga pendidikan formal maupun non-formal seperti madrasah, pesantren, atau majelis taklim mengambil peran strategis. Proses belajar yang dibimbing oleh guru yang kompeten dan sanad keilmuan yang jelas memastikan bahwa pemahaman terhadap Al-Quran dan Sunnah dipelajari secara komprehensif, bukan separuh-separuh.
Para ulama teologi Islam klasik seperti Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin telah meletakkan kerangka bagaimana ilmu fardhu ain dan kifayah harus diajarkan secara berkesinambungan. Pembelajaran yang terorganisasi ini menjaga kemurnian ajaran Islam agar terhindar dari distorsi pemahaman yang menyimpang dari manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
Selain teks-teks keagamaan dan bimbingan guru, realitas hidup dan pengalaman sehari-hari adalah laboratorium terbesar bagi seorang hamba untuk memperkuat keyakinannya. Setiap ujian, nikmat, kesulitan, dan dinamika takdir yang dilalui seseorang menyimpan tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat-ayat kauniyah).
Allah SWT berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.” (QS Fussilat [41]: 53) Ayat ini mengonfirmasi bahwa pengalaman empiris di alam semesta maupun di dalam diri manusia adalah bukti nyata yang mengonfirmasi kebenaran wahyu ilahi. Tidak semua orang mampu menjadikan pengalaman hidupnya sebagai sarana peningkatan iman. Dibutuhkan kepekaan hati, seni perenungan (tadabbur), serta metode introspeksi diri (muhasabah) yang konsisten.
Seorang mukmin yang cerdas spiritual akan melihat musibah bukan sebagai hukuman semata, melainkan sebagai bentuk kasih sayang Allah untuk menempah mental dan memperteguh tauhid. Sebaliknya, nikmat disikapi dengan rasa syukur yang mendalam. Konsistensi dalam mengevaluasi pengalaman inilah yang membedakan antara hamba yang imannya bertumbuh dan hamba yang jalannya di tempat.
Para teolog dan ulama besar Islam senantiasa menekankan bahwa ilmu, pengalaman, dan amal saleh merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Imam Syafii pernah berpesan mengenai pentingnya membersamai ilmu dengan pengalaman nyata di tengah masyarakat. Keyakinan yang matang akan melahirkan ketenangan batin (tuma’ninah). Ulama tasawuf menyatakan bahwa puncak dari ilmu adalah terbukanya bashirah (mata hati) seseorang untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT (muraqabah), yang buahnya adalah akhlak mulia dalam interaksi sosial.
Jadi, membangun keyakinan beragama yang kokoh, tidak labil, dan jauh dari sifat membabi buta menuntut adanya perpaduan harmonis antara ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, bimbingan para ulama, serta refleksi mendalam atas pengalaman hidup sehari-hari. Dengan menjadikan ilmu sebagai pelita dan pengalaman sebagai guru, seorang Muslim akan mampu menjalani dinamika kehidupan dengan keyakinan yang teguh, terarah, dan bermakna. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 28 September 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman hidup untuk memupuk keyakinan berislam.