Oleh Zulkarnaini Diran

Ada empat Langkah menuju kemuliaan yang dijanjikan di dalam Islam. Keempat Langkah itu adalah melangkah ke Masjid, melangkah menengok saudara yang sakit, melangkah ke majelis ilmu, dan melangkah ke majelis zikir. Langkah-langkah itu bukan hanya dianjurkan oleh Islam, tetapi dijanjikan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Balasan-balasan itu merupakan pahala dari setiap langkah yang dilakukan. Balasannya akan diterima kelak di hari akhir dan di surga Allah SWT.
Pertama, melangkah menuju masjid atau Rumah Allah. Melangkah menuju rumah Allah dalah salah satu amal perbuatan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Setiap langkah kaki yang diayunkan menuju masjid untuk menunaikan salat atau ibadah lain, dijanjikan tiga hal. Ketiga hal itu adalah pahala besar, penghapusan dosa, dan peningkatan derajat oleh Allah SWT. Kemuliaan akan didapat melalui peningkatan derajat dan perlakuan istimewa dari-Nya, bahkan di Hari Kiamat.
Kemuliaan ini telah ditetapkan oleh Allah dan disampaikan melalui sabda Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan betapa besar nilai keridaan Allah terhadap hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mendatangi tempat ibadah. Bahkan, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid termasuk di antara tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya. Ini adalah puncak kemuliaan duniawi dan ukhrawi.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim No. 666). Hadis lain, diriwayatkan dari Ibnu Majah dan Muslim juga menegaskan hal yang sama: “Seseorang yang berjalan ke masjid, maka tiap langkah kakinya akan diberikan satu pahala, dihapuskan satu dosa, dan dinaikkan satu derajat oleh Allah SWT.” (HR. Ibnu Majah dan Muslim).
Bahkan, balasan kemuliaan itu dicatat tidak hanya saat pergi ke masjid, tetapi juga ketika pulang. Dalam riwayat Muslim (No. 663) disebutkan kisah seorang sahabat yang ingin agar langkah kaki perginya dan pulangnya dicatat sebagai pahala. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” Ini memperjelas bahwa kemuliaan itu meliputi seluruh perjalanan bolak-balik menuju dan dari masjid.
Anjuran untuk berjalan ke masjid, meskipun jaraknya jauh, juga menunjukkan besarnya kemuliaan yang diraih. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam salat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh jarak perjalanannya menuju masjid.” (HR. Bukhari No. 651 dan Muslim No. 662). Pahala yang berlipat ini memotivasi umat Muslim untuk tidak hanya mencari kemudahan, tetapi juga mengejar kemuliaan melalui setiap langkah kaki. Intinya, melangkah ke masjid bukan sekadar menjalankan kewajiban salat, tetapi merupakan investasi akhirat yang setiap langkahnya ditukar dengan pahala, pengampunan, dan peningkatan kedudukan di sisi Allah.
Kedua, melangkahh menjenguk atau membezuk saudara sesama Muslim yang sedang sakit. Hal ini merupakan hak dan kewajiban seorang Muslim terhadap Muslim lainnya. Hal ini pula merupakan lngkah mulia yang balasannya sangat besar di sisi allah SWT. Maksud dari menjenguk atau membezuk adalah menunjukkan kepedulian, memberikan dukungan moral, mendoakan kesembuhan, dan mengingatkan tentang kesabaran dalam menghadapi ujian dari Allah. Kegiatan ini secara spiritual sangat mulia karena menjenguk orang sakit berarti seorang hamba sedang berada di jalan keridaan Allah. Saat seorang hamba mengunjungi saudaranya yang sakit, ia seolah berjalan di “taman surga”. Kemuliaan yang didapat adalah jaminan rahmat Allah, doa dari para malaikat, dan bahkan janji rumah di surga.
Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah seorang Muslim yang menjenguk saudaranya Muslim di pagi hari melainkan dirinya akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga petang. Dan jika dirinya menjenguk di sore hari maka dirinya akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi. Dan baginya kebun di tengah surga.” (HR. At-Tirmidzi No. 969, Hadis Hasan Gharib). Pada hadis lain Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang Muslim jika menjenguk saudaranya Muslim (yang sedang sakit) maka dirinya senantiasa berada khurfah surga hingga dirinya kembali.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apa khurfah surga itu?” Beliau menjelaskan: “Buah-buahan surga”. (HR. Muslim No. 2568).
Mendapat Rumah di Surga dan Perlakuan Mulia: Hadis lain menyebutkan: “(Malaikat) dari langit menyeru ‘berbahagialah karena engkau akan menempati sebuah rumah di surga.'” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat At-Tirmidzi juga disebutkan: “Engkau telah berlaku mulia dan mulia pula langkahmu (dalam mengunjunginya), serta engkau akan menempati rumah di surga.” (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia berada dalam rahmat Allah hingga ia kembali.” (HR. Muslim). Menjenguk orang sakit bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga ibadah yang sangat ditekankan karena memiliki dimensi kemanusiaan dan keimanan yang mendalam. Pahala yang dijanjikan, mulai dari didoakan malaikat hingga jaminan rumah di surga, menunjukkan bahwa langkah kaki menuju saudara yang sakit adalah jalan pintas menuju kemuliaan di sisi Allah SWT.
Ketiga, melangkah atau berjalan menuju majelis ilmu. Majelis ilmu adalah perkumpulan yang membahas dan mempelajari ilmu-ilmu agama, terutama Al-Qur’an dan Sunnah (hadis) Rasulullah SAW. Majelis ilmu mencakup tempat kaum Muslimin berkumpul untuk menambah pemahaman tentang ajaran Islam, baik melalui pembacaan Al-Qur’an, kajian hadis, atau diskusi keagamaan yang sahih. Berjalan menuju majelis ilmu adalah langkah kemuliaan yang sangat tinggi derajatnya.
Banyak hal yang dapat dipetik dari majelis ilmu. Di antaranya: (1) dimudahkan jalan menuju surga; (2) mendapatkan ketenangan (sakinah) dan rahmat Allah; (3) dinaungi oleh para malaikat; (4) disebut-sebut oleh Allah SWT di sisi makhluk yang mulia (para malaikat); dan (5) dicatat sebagai amalan jihad fi sabilillah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Pahala Seperti Haji Sempurna, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa pergi ke masjid, tidaklah diinginkannya (untuk pergi ke masjid) kecuali untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkan kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan haji dengan sempurna.” (HR. As-Suyuthi).
Mendapatkan Ketenangan dan Rahmat: Majelis ilmu adalah salah satu tempat turunnya rahmat dan ketenangan. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang mulia.” (HR. Muslim No. 2700). Majelis Ilmu sebagai Taman Surga: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian melewati taman-taman surga, singgahlah dengan hati riang.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu, ya Rasulullah?” “Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) zikir (ilmu),” jawab beliau. (HR. At-Tirmidzi).
Dalil-dalil ini jelas menunjukkan bahwa melangkahkan kaki menuju majelis ilmu adalah langkah kemuliaan yang menjanjikan ganjaran berlimpah, penjaminan kemudahan jalan menuju surga, dan keberkahan yang meliputi seluruh peserta majelis. Jenis-jenis majelis ilmu dapat bervariasi, mulai dari halaqah (lingkaran) kecil di masjid hingga kajian besar, selama yang dibahas adalah ilmu yang bermanfaat (ilmu syar’i).
Keempat melangkah ke majelis zikir. Majelis zikir adalah perkumpulan kaum Muslimin yang secara khusus berkumpul untuk mengingat Allah melalui berbagai bentuk zikir. Dalam pandangan sebagian ulama, majelis ilmu (halaqah ilmu) juga termasuk dalam majelis zikir, bahkan seringkali dianggap lebih utama. Jenis-jenis zikir sangat beragam, mulai dari zikir setelah salat, zikir pagi dan petang, hingga zikir yang dilakukan secara berjamaah dalam majelis.
Zikir (Dzikrullah) secara harfiah berarti mengingat Allah. Secara terminologi, zikir adalah segala bentuk ibadah lisan (ucapan) dan hati (perasaan) yang mengingatkan seorang hamba kepada keagungan Allah SWT, seperti membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (Astaghfirullah), dan membaca Al-Qur’an. Konsep zikir tidak terbatas pada ucapan lisan, tetapi juga mencakup zikir hati (merenungi keagungan Allah) dan zikir perbuatan (melaksanakan ketaatan kepada Allah).
Dalil-dalil Pendukung: Kemuliaan menghadiri majelis zikir ditekankan dalam hadis sahih:Dikelilingi Malaikat, Diliputi Rahmat, dan Diampuni Dosa: Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah suatu kaum duduk berzikir (mengingat) Allah, melainkan mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan sakinah (ketenangan), dan mereka disebut oleh Allah di sisi para makhluk yang mulia.” (HR. Muslim No. 2700).
Dalam hadis Qudsi, bahkan disebutkan janji pengampunan: “Tidaklah sekumpulan manusia berkumpul untuk berzikir kepada Allah mengharapkan ridha-Nya melainkan seorang penyeru akan menyeru dari langit, ‘Dosa kalian telah diampuni dan kalian diberi pahala sebagai pengganti dosa kalian.‘” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, dan Thabrani).
Majelis Zikir adalah Taman Surga: Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Majelis Ilmu, majelis zikir juga disamakan dengan taman surga di dunia, yang menunjukkan kemuliaan tempat dan orang-orang yang ada di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) zikir.” (HR. At-Tirmidzi).
Pengampunan bagi Semua Peserta: Satu poin kemuliaan majelis zikir adalah pengampunan yang merata, bahkan bagi yang hanya numpang lewat. Allah SWT berfirman: “…Aku telah mengampuni mereka. Aku beri kepada mereka apa yang mereka minta dan Aku beri mereka perlindungan dari apa yang mereka mintai perlindungan kepada-Ku.” Allah berkata, “Aku pun mengampuninya, mereka adalah satu kaum yang tidak akan sengsara orang yang duduk bersama mereka.” (HR. Muslim). Langkah menuju majelis zikir adalah langkah menuju ketenangan, rahmat, dan ampunan Allah SWT. Ini adalah perjalanan hati dan raga untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta, yang menghasilkan kemuliaan yang abadi.
Jadi, ternyata melangkah ke masjid, melangkah melihat saudara Muslim sakit, melangkah ke majelis ilmu, dan melangkah ke majelis zikir merupakan langkah kemuliaan. Allah bukan sekdar memberi pahala dan mengampuni dosa yang melakukan, tetapi Allah mengangkat derjatnya dan menjadikannya hamba yang mulia. Mudah-mudahan kita dapat melakukan amal-amal ini, yakni mengayunkan langkah ke empat tempat itu dengan niat karena mengharap rida Allah SWT.
Manna, Bengkulu Selatan, 11 November 2025