Oleh Zulkarnaini Diran

“… Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS At-Talaq [65]:3)
Hamba diingatkan oleh Allah SWT tentang tawakal. Jika bertawakal kepada Allah, segala keperluan akan dicukupkan. Ayat ini memberi motivasi atau dorongan kepada hamba bahwa tawakal kepada-Nya adalah untuk kepentingan hamba, bukan kepentingan Allah. Jika hamba ingin keperluannya dicukupkan, ya, bertawakallah kepada-Nya. Ayat ini mengajak hamba merenung, berkontemplasi, dan kemudian berupaya menyingkap tabir perihal tawakal. Tentu hal penting adalah mengawalinya dengan memahami konsep, proses, tindakan nyata dalam bertawakal.
Secara bahasa, tawakal berasal dari kata wakala yang berarti mewakilkan atau menyerahkan urusan kepada orang lain yang dipercaya. Dalam konteks spiritual, tawakal berarti menyerahkan segala hasil dari urusan kita kepada Allah SWT setelah kita melakukan usaha secara maksimal. Kepercayaan penuh ini lahir karena kita sadar bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Para teolog Islam (ulama mutakallimin) menjelaskan bahwa tawakal berkaitan erat dengan konsep takdir dan kehendak (iradah) Allah. Dalam pandangan teologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, manusia wajib melakukan kasb (usaha fisik), namun harus meyakini bahwa yang menciptakan hasil akhir secara mutlak hanyalah Allah SWT. Tawakal adalah jembatan antara usaha manusiawi yang terbatas dan ketetapan ilahi yang tanpa batas.
Rasulullah SAW memberikan ilustrasi yang sangat indah mengenai konsep tawakal yang dinamis ini dalam sebuah hadis, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi). Perhatikan bahwa burung tidak diam saja di sarangnya menunggu makanan jatuh dari langit; ia tetap “pergi pada pagi hari” untuk berupaya.
Untuk menerapkan tawakal yang benar, kita harus melampaui tiga tahapan proses yang saling berkesinambungan. Tahapan ini melibatkan hati, pikiran, dan tindakan nyata kita. Ketiga tahapan proses itu adalah Usaha Maksimal (Ikhtiar), Berserah Diri (Tawakal), dan Rida pada Hasil (Qana’ah).
Ikhtiar (Usaha Lahiriah) adalah langkah awal yang wajib dilakukan. Tanpa ikhtiar, apa yang kita sebut tawakal sebenarnya hanyalah kemalasan yang dibungkus dengan istilah agama. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa mengabaikan usaha fisik justru mengotori esensi tawakal itu sendiri, karena Allah menciptakan dunia ini dengan hukum sebab-akibat (sunnatullah).
Tawakal (berserah diri) yaitu, setelah usaha dilakukan dengan jujur dan maksimal, wilayah kewenagna manusia selesai. Kita melepaskan keterikatan emosional terhadap hasil dan menyerahkannya kepada Allah. Kita mengakui bahwa kita hanya menguasai proses, bukan hasil.
Rida pada hasil (Qana’ah) yaituketika hasil akhirnya keluar—apakah sesuai dengan keinginan kita atau tidak—hati kita tetap tenang. Jika berhasil kita bersyukur, jika belum berhasil kita bersabar dan mengevaluasi diri, percaya bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik.
Penerapan tawakal dalam berbagai bidang kehidupan sehari-hari dicontohkan seperti berikut ini. Seorang pedagang yang bertawakal akan membuka tokonya tepat waktu, melayani pembeli dengan ramah, dan menjaga kualitas barangnya (ikhtiar). Namun, ia tidak akan gelisah atau menggunakan cara-cara curang jika tokonya sepi, karena ia tahu takaran rezekinya sudah diatur oleh Allah. Tawakal membebaskan kita dari stres kerja dan kompetisi yang tidak sehat.
Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, tawakal berarti belajar dengan tekun, membaca materi, dan menjaga kesehatan sebelum ujian. Ketika lembar jawaban dikumpulkan, ia berhenti cemas dan mulai berdoa. Ia tidak akan menyontek karena menyontek adalah bentuk ketidakpercayaan bahwa Allah bisa mencukupkan kebutuhannya lewat jalan yang halal.
Saat ditimpa musibah, misalnya penyakit atau kerugian finansial, tawakal menuntut kita untuk berobat ke dokter terbaik atau menyusun kembali strategi keuangan. Bersamaan dengan itu, hati kita berbisik bahwa ujian ini adalah bentuk kasih sayang Allah untuk menggugurkan dosa atau mengangkat derajat kita.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan bahwa tawakal adalah setengah dari agama, sedangkan setengahnya lagi adalah inabah (kembali/bertaubat kepada Allah). Beliau menekankan bahwa tawakal tidak akan tegak tanpa adanya tauhid yang lurus. Seseorang hanya bisa bertawakal secara total jika ia benar-benar mengenal Allah (ma’rifatullah) sebagai Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Mengetahui, dan Maha Mencukupi.
Sementara itu, Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa buah dari tawakal yang benar adalah ketenangan hati. Orang yang bertawakal tidak akan terombang-ambing oleh pujian manusia saat sukses, dan tidak akan hancur oleh cacian atau kegagalan. Jiwanya kokoh karena bersandar pada “Tiang” yang tidak akan pernah roboh, yaitu Allah SWT.
Tawakal adalah sebuah kebutuhan mutlak bagi manusia, bukan bagi Allah. Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan ibadah kita, namun kitalah yang rapuh dan membutuhkan perlindungan serta jaminan-Nya. Dengan memahami bahwa tawakal adalah perpaduan utuh antara kerja keras yang cerdas dan penyerahan diri yang ikhlas, kita akan menjelma menjadi pribadi yang produktif namun tetap memiliki kedamaian jiwa yang mendalam. Bertawakallah, maka seluruh keperluan hidup kita—baik di dunia maupun di akhirat—pasti akan dicukupkan oleh-Nya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Baiturrahim, 10 Muharam 1448 H, 25 Juni 2026
Disarikan dari berbagai sumber bacaan.